---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- SEKJEN GAM : TERIMA KASIH PRESIDEN RI. BANDA ACEH, Radio Nikoya-FM, (Sabtu, 18/3/2000). Sekretaris Jenderal Gerakan Aceh Merdeka, Tengku Don Zulfahri, di Malaysia, dalam suratnya kepada redaksi Radio Nikoya-FM, hari Jum'at malam (17/3/2000), meminta semua pihak untuk tidak mempolitiskan pertemuan silahturahmi sesama muslim, antara Sekretaris Negara, Bondan Gunawan dengan Panglima Perang Aceh Merdeka, Tengku Abdullah Safe'i, di Pidie, Kamis lalu. Hal itu disebutkannya berkaitan dengan penyataan Juru bicara GAM wilayah Pase di Aceh Utara, Tengku Ismail Syahputra, yang menyatakan bahwa Segneg Bondan Gunawan telah bertemu dengan Tengku Abdullah Safe'i palsu, padahal Juru bicara Abdullah Safe'i, Tengku Abu Razak juga hadir pada pertemuan bersejarah itu. Terhadap pernyataan Ismail Syahputra itu telah melahirkan opini yang kontrovesi dikalangan masyarakat Aceh pada lebaran haji kedua kemarin, sebenarnya siapa yang tidak serius dalam mencari penyelesaian persoalan Aceh yang saat ini ternyata lebih parah dari konflik semasa DI/TII dahulu. Sekjen GAM, Tengku Don Zulfahri, menuturkan, "saya mohon kepada semua pihak untuk tidak mempolitikkan pertemuan ikhlas antara Bondan-Abdullah tersebut. Pertemuan tersebut adalah pertemuan sesama muslim di Hari Raya Idul Adha, bukan pertemuan politik. Saya mohon kepada Ismail Syahputra untuk tidak komentar sembarangan hal-hal yang 'dalaman' GAM/AGAM. Saya pikir, Abdullah Safei punya Jubirnya sendiri dan tidak pernah melantik Ismail Syahputra menjadi Jubir AGAM dan saya sebagai Sekjen GAM tidak pernah mengakui Ismail sebagai Jubir GAM. Sepengetahuan saya, Ismail adalah provokator ciptaan TNI yang ditanam ke dalam tubuh GAM sejak tahun 1985", kata Don. Tengku Don menambahkan, "tindakan Gus Dur menghantar Bondan ke Aceh, saya pikir, tidak terlepas dari rasa ingin tau Gus Dur tentang keadaan sebenarnya yang terjadi di lapangan. Selama ini Gus Dur mendapat laporan palsu dari TNI/Polri tentang Aceh sehingga telah memalukan Gus Dur sendiri. Saya mengucapkan terima kasih kepada Presiden RI dengan harapan penyelesaian tuntas tentang masa depan Aceh dapat dengan segera dilaksanakan lewat perundingan dengan Barisan Bangsa Aceh. Tentang adanya anggapan bahwa hanya dialog dengan Hasan Tiro yang bisa menuntaskan masalah Aceh, saya sekali lagi menegaskan bahwa yang berhak menentukan masa depan Aceh adalah rakyat aceh sendiri, termasuk juga Abdullah Safe'i sebagai pimpinan angkatan perang bangsa Aceh (AGAM) yang mempunyai hak dan wewenang serta bisa ikut bersama-sama rakyat dan komponen-komponen yang mewakili bangsa aceh dalam berdialog dengan RI. Tidak perlu tunggu Hasan Tiro", tulisnya dalam surat itu. Perundingan GAM dan Pemerintah RI masih terdapat banyak hambatan, seperti apa yang pernah dituturkan oleh Koordinator Kontras Jakarta, Munir SH, kepada redaksi Radio Nikoya-FM, sebelum lebaran Idul Adha di Banda Aceh, bahwa untuk berunding dengan Aceh, Pemerintah pusat kebingungan, karena terlalu banyak pintu, semua pintu mengaku ia adalah wakil komponen masyarakat Aceh, oleh karena itu Munir menyarankan agar rakyat Aceh mempersatukan dahulu pintu-pintu itu, lalu kemudian barulah berunding, disamping itu Munir juga meminta pemerintah Jakarta untuk melakukan penyelesesaian problem Aceh itu melalui pendekatan kemanusiaan dan kekeluargaan, bukan dengan operasi-operasi selama ini yang terbukti menyengsarakan banyak warga sipil, sebab rakyat Aceh tidak bisa didekati dengan pola kekerasan. Komentar Munir itu, juga dibenarkan oleh Tengku Haji Mahmud, (58 thn) putra Peureulak, Aceh Timur, yang adalah mantan Pimpinan sebuah Perusahaan Swasta Perkebunan di Aceh dahulu, ia mengisahkan bagaimana penderitaan rakyat Aceh kepada Radio Nikoya-FM melalui telepon interlokal kemarin, bahwa penderitaan muslim di Aceh saat ini, ternyata lebih parah dibandingkan konflik pada masa DI/TII masa lampau, kini rakyat yang tinggal di desa-desa di Aceh tak pernah tenteram, beribadah ke mesjid pun susah, apalagi mau cari nafkah, sweeping dimana-mana, banyak rakyat yang tidak mengerti apa-apa malah tewas dan hilang, sebagai orang tua, ia menyatakan keprihatiannya akan semua peristiwa yang terjadi, yang sebenarnya telah menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya itu, baginya, peristiwa Aceh kali ini adalah sebuah tragedi berdarah terburuk dalam catatan sejarah Islam dunia, sebab sesama umat muslim saling bunuh-membunuh, tunding-menunding dan saling bermusuhan, padahal Islam tak pernah menghendaki hal yang demikian dalam penyelesaian semua hal, katanya sedih. Keprihatian Tengku Haji Mahmud itu, tak jauh berbeda dengan harapan mayoritas rakyat Aceh yang berada di desa-desa di seluruh Serambi Mekkah, yang menginginkan ketentraman dan kedamaian beribadah dan membina keluarganya agar bermanfaat kepada bangsa dan agama, oleh karena itu, sudah selakyaknyalah bagi semua pihak di Aceh dan di seluruh Indonesia untuk terus berupaya mendorong agar problem Aceh yang kusut ini dapat diselesaikan secara arif, jujur, bijaksana dan damai, demi kemaslahatan umat manusia, dengan mengesampingkan kepentingan golongan dan pribadinya. Selain itu sepekan lalu pihak GAM Malaysia juga telah mengeluarkan pernyataan tegasnya, tentang sikap GAM adalah jelas bahwa dialog dengan pemerintah RI bukan berarti mereka tunduk dan menyembah RI, namun menurut Sekjen GAM itu, bahwa kesediaan mereka berdialog dengan RI semata-mata untuk memenuhi kehendak mayoritas rakyat Aceh yang menginginkan penyelesaian dan penentuan masa depan Aceh yang bermartabat dan bebas dari penindasan serta penjajahan. Apa yang dikatakan Tengku Don Zulfahri itu ada benarnya, sebab kedaulatan Aceh ada ditangan rakyat Aceh. Sementara itu, berbagai kalangan di Aceh menilai bahwa, kunjungan Bondan Gunawan adalah salah satu langkah awal menuju perundingan damai, hal itu terbukti dengan bebasnya masyarakat Aceh menggunakan jalan negara antara Banda Aceh - Lhokseumawe, Aceh Utara, tanpa ditemui adanya sweeping di sepanjang jalan itu, kecuali hanya drum-drum yang masih melintang didepan pos Polisi disetiap daerah, pada hari kedua Idul Adha. (Tim). ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Mar 2000 jam 15:42:30 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
