----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Media Indonesia , 20 Maret 2000

Komunis Harus Tetap Dilarang di Indonesia

MALANG (Media): Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menegaskan Tap
MPRS No XXV/MPRS/1966 tentang Larangan PKI di Bumi Nusantara,
tidak boleh dicabut. Dengan demikian, komunis harus tetap
dilarang di Indonesia.

Oleh karena itu, Hasyim minta agar para anggota MPR tetap
konsisten menolak pencabutan Tap tersebut. "Kita tidak menolak
ajaran Marxisme dan materialisme sebagai pangkal tolak komunisme
untuk dipelajari. Kalau melarang berarti kita melanggar HAM dan
sebagainya. Namun kita juga perlu menyadari, gerakan yang
mengatasnamakan rakyat kecil belum berarti bertujuan pure
(murni, Red) ingin menyejahterakan rakyat kecil itu sendiri,"
kata Hasyim kepada wartawan, di Malang kemarin.

Sementara itu Wakil Ketua MPR M Hoesni Thamrin mengatakan
pihaknya menyambut baik imbauan Ketua Umum PBNU tersebut.
Menurut tokoh angkatan `66 ini, setelah terjadi pertemuan Partai
Komunis Sedunia 2000 di Sydney, berlangsung pula pertemuan
lanjutan di Banyuwangi (Jatim) beberapa waktu lalu.

Pertemuan di Sydney itu, menurut Hoesni, diikuti Ketua Umum
Partai Rakyat Demokratik (PRD) Budiman Sudjatmiko, Ketua SBSI
Mochtar Pakpahan, dan seorang wakil dari Asosiasi Sosialisme
Indonesia yang sampai sekarang belum diketahui identitasnya.

"Pemerintah memang tidak melarang warga negara menghadiri
pertemuan di luar negeri. Bahkan PRD pun juga tidak mencantumkan
landasan ideologisnya sebagai komunis. Akan tetapi kehadirannya
di forum itu sudah mengindikasikan adanya upaya mengusung
kembali komunisme di Indonesia," tandas Thamrin.

Makanya, menurut Hoesno, masyarakat tidak boleh terjebak dalam
jargon-jargon HAM atau demokratisasi yang selalu digembar-
gemborkan tokoh-tokoh yang mengaku memperjuangkan rakyat kecil.
Pemerintah bersama MPR/DPR hendaknya segera menetapkan secara
tegas batasan-batasan tentang HAM dan demokratisasi.

Sementara itu, Hasyim Muzadi menambahkan, dalam sejarah
Indonesia telah membuktikan, ketika PKI memaksakan kehendaknya
merebut kekuasaan, maka seluruh komponen masyarakat bergerak
untuk menumpasnya.

"Masyarakat harus membedakan mana usaha memberantas penyakit dan
memberantas penyebab penyakitnya. Kalau yang mengajak
memberantas penyakit justru biang penyakit, tentu sudah salah
kaprah," kata Hasyim.

Menurut Hasyim, situasi dewasa ini merupakan ladang subur bagi
kalangan komunis untuk mengembangkan ideologinya, lantaran
kondisi penegakan hukum belum optimal, kesenjangan
ekonomi masih rawan. Semua itu bisa dimanfaatkan sebagai
propaganda mereka. Apalagi penegakan hukum dan keadilan belum
dirasakan seluruh masyarakat.

"Indikator-indikator tersebut amat potensial digunakan untuk
memopulerkan gagasan-gagasan komunisme. Makanya, masyarakat
jangan mudah terbuai oleh jargon-jargon perjuangan mereka yang
mengatasnamakan rakyat," ujarnya kemudian. (FM/Mhj/P-4)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Mar 2000 jam 07:13:48 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke