----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

"BOCORAN" SUSUNAN PENGURUS DPP PDI-P KONGRES SEMARANG

        JAKARTA, (SiaR, 22/3/2000). Kendati Kongres PDI Perjuangan (PDI-P)
baru dibuka di Semarang 27 Maret mendatang, tapi di kalangan fungsionaris
PDI-P, beberapa hari belakangan telah beredar "bocoran" susunan pengurus DPP
PDI-P periode 2000-2005. Dalam susunan pengurus itu, Ketua Umum tetap
dijabat Megawati Soekarnoputri, sedangkan jabatan Sekretaris Jenderal
dipegang Roy BB Janis, yang sekarang menjabat sebagai Ketua DPD PDI-P DKI
Jakarta.

        Tapi ada jabatan baru di dalam kepengurusan ini yang berbeda dengan
susunan pengurus versi Kongres PDI-P di Bali pada Oktober 1998 lalu, yaitu
jabatan ketua harian yang akan ditempati oleh Ir Soetjipto yang kini
menjabat sebagai Ketua DPD PDI-P Jawa Timur. Jabatan ini tampaknya untuk
lebih bisa melaksanakan kebijakan partai sesuai amanat ketua umum yang juga
memegang jabatan di pemerintahan sebagai Wakil Presiden.

        Tokoh senior PDI-P, Sabam Sirait, yang juga salah seorang anggota
Deperpu (Dewan Pertimbangan Pusat) PDI-P ketika disodorkan "bocoran" susunan
pengurus baru itu, Rabu (22/3) ini hanya mengelak. "Bah, kongresnya saja
belum, sudah ada pengurusnya. Dari mana kau dapat itu?" katanya dengan
dialek khasnya.

        Selain ketiga nama di atas, maka untuk jajaran ketua terdapat
nama-nama Alex Litaay, Kwik Kian Gie, Theo Syafei, Tarto Sudiro, Mangara
Siahaan, Saefullah Yusuf, dan Widjanarko Puspoyo. Sedangkan di jajaran
sekjen, masing-masing wakil sekjen Pramono Anum, Mindo Sianipar/Dewi
Sukmawati, dan Saul de Ornay. Pada jajaran bendahara, Laksamana Sukardi,
dibantu Noviantika Nasution, Armin Fuad Hasan, dan Irmadi Lubis.

        Jadi, yang bakal hilang dari DPP PDI-P di jajaran ketua adalah
Dimyati Hartono, Mochtar Buchori, VB da Costa, KH Hasyim Wahid, I Gusti
Ngurah Sara, dan Suparlan. Sedangkan di jajaran sekjen nama yang akan hilang
adalah Haryanto Taslam dan Meilono Suwondo di bendahara.

        Sumber SiaR, salah seorang fungsionaris PDI-P yang menolak
disebutkan jati dirinya menyatakan, meskipun ia sudah menerima "bocoran"
tersebut, ia tak percaya sepenuhnya karena melihat dari komposisinya,
"bocoran" itu kelihatannya sebagai bentuk psywar dari kelompok atau klik
tertentu di DPP PDI-P. Menurut dia, "bocoran" tersebut tampaknya sengaja
dilemparkan oleh kelompok konservatif di tubuh DPP PDI-P yang merupakan
representasi dari kliknya Taufik Kiemas.

        Sebagai ilustrasi, dimasukkannya nama-nama seperti Roy BB Janis
sebagai sekjen, Theo Syafei, Tarto Sudiro, Mangara Siahaan, Widjanarko
Puspoyo masing-masing sebagai ketua. Juga wajah-wajah baru seperti Pramono
Anum, Mindo Sianipar/Dewi Sukmawati, Saul de Ornay masing-masing sebagai
wakil sekjen. Serta Noviantika Nasution, Armin Fuad Hasan, dan Irmadi Lubis
makin memperjelas kiblat bahwa susunan pengurus ini merupakan versinya
kelompok konservatif di tubuh partai.

        "Lihat saja orang-orang yang merepresentasikan kekuatan progresif
dan modernis seperti Haryanto Taslam, dan Meilono Suwondo digeser," ujarnya.
Menurutnya pencantuman nama-nama Kwik, dan Laksamana hanya sekadar untuk
menjaga imej tetap dipertahankannya kelompok profesional di dalam
kepengurusan partai. Sedangkan Saefullah Yusuf sebagai representasi
Nahdlatul Ulama di PDI-P dengan menggantikan KH Hasyim Wahid.

        Khusus Roy BB Janis dikenal sebagai kader yang memiliki track record
buruk. Dalam pemilihan Ketua DPRD DKI beberapa waktu lalu yang dimenangi Edi
Waluyo dan kalahnya Tarmidi sebagai calon yang direkomendasikan DPP PDI-P,
maka Roy memperoleh konsesi berupa proyek-proyek Pemda DKI. Edi merupakan
"calon"-nya Gubernur DKI, Soetiyoso. Roy juga berkali-kali menegaskan, bahwa
Soetiyoso, mantan Pangdam Jaya, tak terlibat peristiwa 27 Juli 1996,
sehingga mengundang protes para korban peristiwa tersebut yang tergabung
didalam FKK-124.

        "Lalu, kita tahu, Theo itu wakilnya militer. Sedangkan Widjanarko
itu kan mantan kader Golkar yang nyebrang ke PDI-P. Nama-nama lainnya terus
terang, saya tidak melihatnya bahwa mereka itu akseptabel, dan cukup kapabel
untuk memegang jabatan tersebut," kata fungsionaris yang pernah menjabat
ketua partai dan menjabat anggota DPR/MPR selama tiga periode.

        Ia bahkan melihat kongres di Semarang nanti tetap akan berlangsung
alot, karena jika benar kelompok konservatif telah melakukan psywar dengan
melempar "bocoran" susunan pengurus demikian, maka kalangan fungsionaris,
kader, dan anggota partai dari kubu progresif dan modernis akan melakukan
"perlawanan". Berbeda dengan "bocoran" tersebut, sumber ini menyatakan
sebaliknya, bahwa Megawati justru siap mengakomodir para kader partai dari
kubu progresif dan modernis yang diwakili antara lain di dalam diri Eros
Djarot dan kawan-kawan. "Jika benar susunan pengurus seperti bocoran itu,
saya pikir untuk ke depan ini, sulit bagi PDI-P untuk membangun dirinya
sebagai partai yang modern," katanya lagi. ***

- ----------------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Mar 2000 jam 05:18:28 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke