----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, 22 Maret 2000

Gus Dur Tawarkan Pengampunan Bersyarat

JAKARTA (Media): Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menegaskan
pemerintah akan memberi pengampunan kepada mantan presiden,
wakil presiden, Panglima TNI, dan pejabat lainnya yang menjadi
simbol negara. Namun, pengampunan ini hanya diberikan apabila
pejabat tersebut mau menyerahkan harta hasil korupsi mereka
kepada rakyat.

Pemerintah sendiri, menurutnya, tidak bisa menghukum mereka
semuanya. Sebab hal ini berkaitan erat dengan keutuhan bangsa.
"Kalau semuanya jadi hukuman, ya jadi berantakan. Jadi, mereka
yang menjadi simbol negara akan diberi maaf," kata Gus Dur
menanggapi penilaian bahwa pemerintah lamban dalam mengatasi
kasus KKN.

Gus Dur mengemukakan hal itu dalam pertemuan dengan sejumlah
anggota dan kelompok masyarakat di Gedung Pola, Jakarta, kemarin
malam. Hadir dalam pertemuan itu sekitar 100 orang dari 46
organisasi massa keagamaan dan sejumlah LSM gerakan perempuan.

Selain itu, Gus Dur juga menjelaskan bahwa pihaknya setuju
presiden dipilih langsung oleh rakyat dalam pemilu. Untuk itu
pihaknya akan meminta SU-MPR mendatang mempertimbangkan sebuah
Tap MPR yang mengubah UUD 1945 mengenai pemilihan presiden.

"Gagasan ini juga menuruti permintaan Ketua MPR Amien Rais dan
Wakil Presiden Megawati. Sejak dulu Mega meminta agar presiden
dipilih secara langsung oleh seluruh rakyat. Poros Tengah pun
juga minta supaya presiden dan wapres dipilih langsung," ujar
Gus Dur.

Gus Dur juga mengusulkan agar MPR berubah fungsi menjadi majelis
tinggi dan DPR tetap pada fungsinya seperti saat ini. Dengan
demikian, semua keputusan akan ditentukan dua lembaga tersebut
yaitu DPR dan MPR. Namun kedua lembaga itu harus mengalami
perubahan dulu.

"Ini berarti MPR keanggotaannya dipilih oleh DPRD dan golongan
fungsional yang dipilih oleh DPR, bukan oleh pemerintah seperti
sekarang. Proses pengambilan keputusan dilakukan oleh DPR, MPR,
dan eksekutif. Sedang pelaksanaannya diawasi yudikatif," tegas
Gus Dur.

Pada kesempatan tersebut Presiden juga menanggapi berbagai
pertanyaan dan permintaan dari peserta. Dipandu oleh Sekretaris
Pengendalian Pemerintahan Pjs Sekretaris Negara Bondan Gunawan,
Gus Dur menjawab semua pertanyaan yang mereka lontarkan. Bahkan
juga--seperti biasa--diselingi canda dan guyonan khas Gus Dur.

Menanggapi penilaian bahwa pemerintah lamban menanggapi aspirasi
perempuan, Gus Dur menyatakan perhatian pemerintah tercurah pada
dua hal. Yaitu, keutuhan teritorial dan penanggulangan krisis
ekonomi.

Karena itu, sebelum menghadiri acara ini, Gus Dur juga harus
bertemu terlebih dulu dengan Wapres Megawati dan Panglima TNI
Laksamana Widodo AS untuk membicarakan pemecahan masalah Maluku.

Dari pertemuan itu, menurut Gus Dur, secara tidak langsung
membuktikan bahwa peran Megawati dalam masalah ini sangat besar.
Ini mematahkan pendapat bahwa Megawati tidak bisa berbuat apa-
apa karena selalu diam.

"Jadi salah besar kalau bilang Mbak Mega itu tak tahu apa-apa.
Justru orang yang bilang begitu dan bicara banyak, itulah yang
tidak tahu apa-apa," tegas Gus Dur kemudian. (TJ/P-4)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Mar 2000 jam 03:03:30 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke