---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- ISTIQLAL (24/03/2000)# MATORI ABDUL DJALIL ANGGOTA PKI? Oleh: Abdi Tauhid Meskipun di tahun 1965/1966 Jenderal Soeharto telah melakukan pembantaian massal terhadap anggota dan simpatisan PKI dan kemudian selama 32 tahun berkuasa melanjutkan usahanya untuk menghabisi orang-orang PKI dan komunisme ternyata masih ada saja orang yang dianggap PKI. Sesungguhnya hal itu wajar saja. Karena kaum kapitalis dan kelas penghisap lain setiap detik atau saat senantiasa melahirkan calon-calon komunis, melalui penindasan dan penghisap yang mereka lakukan. Cacing saja diinjak menggeliat, apalagi manusia yang ditindas dan diperas. Jadi, selama masih ada penindasan dan penghisapan sesama manusia, selama itu pulalah calon-calon komunis akan bermunculan. Sesungguhnya mudah untuk menghabisi orang-orang PKI dan komunisme. Jalannya sistem kapitalis lenyapkan lebih dulu. Karena sistem kapitalis itulah yang melahirkan kaum komunis. Komunisme adalah anak kapitalisme yang akan melahirkan zaman sosialisme. Karena Soeharto gagal menghabisi orang-orang PKI dan komunisme, maka di era reformasi ini muncul apa yang dinamakan "kelompok Zulfikar", yang bertujuan sama dengan jenderal Soeharto di atas. ORANG PKI YANG PERLU KALIAN HABISI Dalam sebuah harian, Achmad Tazul Arifin, alias Sabar, menjawab pertanyaan puluhan wartawan sekitar rencana membunuh Matori, Ketua PKB, dan juga wakil Ketua MPR, mengatakan: Saya bersama Sarmo, Asdullah, Zulfikar kumpul di rumah Zulfikar. Saat itu Zulfikar mengatakan kepada saya. Kamu kan bisa membawa motor. Makanya kamu bawa motor dan ini STNK-nya. Nanti kamu boncengin Sarmo. Soal urusan di lokasi, nanti Sarmo yang nangani. Jadi, saya ditugaskan bawa motor saja. Mengenai rencananya, saya nanya. Zulfikar bilang. Pokoknya kamu kesana saja. "Ini ada orang PKI yang perlu kalian habisi". Saya tidak tahu kalau itu Pak Matori. Setelah keesokan harinya, ketika melakukan survei, Sarmo mengatakan: Ini yang menjadi sasaran adalah Pak Matori. Saya dan Sarmo dalam pertemuan di satu pos, dibekali senjata itu oleh Zulfikar. Ini buat kamu melindungi saya. Rencana kami ke rumah Pak Matori memang hendak membunuh. Setelah sampai di lokasi, karena Pak Matori tak ada di luar rumah, saya akhirnya disuruh tunggu di suatu tempat oleh Sarmo. Lalu Sarmo masuk membawa map. Sementara saya nungguin. Beberapa menit kemudian, Sarmo keluar sambil diteriaki, begitu. Lalu saya jalan. Sehingga senjata pun tidak sempat saya keluarkan. Akhirnya saya jalan. Ketika saya jalan, Sarmo teriak: sini pistolnya dan ketika saya ambilkan, saya terjatuh. Untuk menjalankan tugas, saya diberi uang Rp. 400 ribu. Tentang siapa Zulfikar tsb, Sabar mengatakan: ia seorang pedagang. Teman ngaji. Pengakuan Sabar ini menimbulkan beberapa pertanyaan: betulkah Matori Abdul Djalil, Ketua PKB/Wk Ketua MPR menjadi anggota PKI? Dan siapakah Zulfikar dengan kelompoknya yang hendak menghabisi orang-orang PKI? Apakah Zulfikar itu yang menjadi otaknya, atau dia hanya menjadi alat saja dari seseorang atau kelompok yang berkepentingan menghabisi Matori? Untuk menjawabnya, baiklah kita mulai dengan mempertanyakan: siapakah Zulfikar? Hingga kin polisi terus memburu belasan pelaku, yang diduga terlibat kasus percobaan pembunuhan Wk Ketua MPR, Matori Abdul Djalil menyusul diringkusnya Achmad Tazul Arifin, alias Sabar. Polisi kini memperioritaskan pemburuan terhadap Asdullah dan Moh Ikhsan, alias Moch Ikhwan, alias Zulfikar. Diharapkan, bila kedua pelaku diringkus, bisa diketahui siapa sebenarnya aktor intelektual dibalik usaha pembunuhan Wk Ketua MPR itu. Menurut Irvan, adiknya Zulfikar, bahwa Zulfikar mulai aktif mengikuti pengajian sejak SMU. Cuma belakangan bergabung dengan kelompok, yang dinilainya fanatik. Disebutnya fanatik dan menyimpang, karena anggota jemaahnya, dilarang shalat berjemaah dengan kelompok lainnya. Irvan mulai curiga, kalau abangnya terlibat dalam kasus ini, setelah dihubung-hubungkan dengan keberadaan sepeda motor Yamaha RX King di rumahnya. Karena empat hari sebelum kejadian di rumah Pak Matori itu, Bang Zulfikar tiba-tiba punya sepeda motor. Padahal dia cuma pedagang pisang goreng. Menurut pihak Kepolisian, Zulfikar yang sehari-harinya bekerja sebagai guru agama dan pedagang pisang molen. Di Musollah Nurul Jihad, di daerah Kapuk Cengkareng, selalu memberikan ceramah. Disana Zulfikar memakai nama Soleh. Apakah yang menilai Matori sebagai anggota PKI dan karena itu perlu dihabisi lahir dari benak Zulfikar sendiri atau Zulfikar itu hanya pelaksana dari suatu kelompok tertentu yang hendak menghabisi Matori? Rasanya tidak mungkin itu merupakan garis Zulfikar sendiri. Besar kemungkinan Zulfikar hanya dijadikan alat oleh seseorang atau kelompok tertentu yang berkepentingan menghabisi Matori. Sebab, tak mungkin Zulfikar mampu membayar sabar sebanyak Rp. 400 ribu, guna memboncengi Sarmo untuk membunuh Matori. Maklumlah Zulfikar hanya pedagang pisang molen. Juga tak mungkin Zulfikar akan mampu membeli sepeda motor Yamaha RX King. Siapakah yang menjadi bosnya Zulfikar? Sebagai seorang yang fanatik akan agamanya, ia mudah dihasut untuk bertindak, dengan menggunakan dalil agama, sebagai alat. Misalnya dengan mengatakan PKI itu anti agama. Seorang yang tidak fanatik, yang tahu dan menguasai ajaran-ajaran agama, yang di dalamnya banyak terdapat titik pertemuan antara program PKI yang melawan kapitalnsme dengan Islam yang mengutuk orang-orang yang menumpuk-numpuk harta (surat Al Humazah), tak kan mudah terhasut. Orang yang di belakang layar itulah, sesungguhnya, yang menilai atau yang membikin dalih, supaya Zulfikar tertarik untuk mengikuti rencana teror yang mereka persiapkan untuk menghabisi Matori. SESUNGGUHNYA SIAPA MATORI INI? Melalui "Lebih Jauh dengan Matori Abdul Djalil" (Kompas, 12/3) mengemukakan bahwa tidak banyak yang tahu, ketika PBNU mendirikan Partai, hampir semua ulama menolak sosok Matori. Kadar ke-NU-annya, diragukan. Matori selama ini memang sosok yang kontroversial. Matori tidak berasal dari lingkungan pesantren. Namun Ketua PBNU, Gus Dur, tetap meminta Matori yang memimpin Partai baru ini. Dampaknya ini atas "bisikan" KH Hasyim Muzadi, supaya yang memimpin partai itu jangan ulama. Kontroversi Matori terus berlanjut, hingga Matori mengalami musibah. Kepalanya dibacok orang tak dikenalnya. Ada yang bilang ini rekayasa dirinya untuk menaikan popularitas. Yang lain mengatakan, ini teror bagi PKB yang dianggap ikut mengobok-obok TNI. Apa yang dituduhkan orang padanya, Matori mengatakan tidak akan meladeninya. Diserahkan sepenuhnya kepada polisi. Kalau memang rekayasa dirinya, maka orang PKB punya pistol (padahal keadaan tidak demikian-pen) Secara pribadi, kata Matori, saya akan memaafkan orang yang mencoba membunuhnya. Karena bagaimanapun juga, kalau sampai ada orang yang melakukan penganiayaan, pasti berangkat dari ketidaktahuan. Rasul Muhammad SAW mengatakan kepada kita, kalau menghadapi orang yang tidak, tahu itu, harus sabar. Ya Allah berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak tahu. Mengenai kesan bahwa Matori dekat dengan Megawati, Matori tidak menyangkalnya. Matori mengakui platform PDI-P dan PKB itu kan memang relatif sama. Sama-sama wawasan kebangsaan, sama-sama ingin membangun demokrasi. Mengenai keterbukaan PKB, sedang sementara NU bawah masih tradisional, Matori mengatakan bahwa ini konsistensi Gus Dur terhadap demokrasi. Demokrasi nilai pertamanya adalah kebebasan. Nilai keduanya kesetaraan. Artinya semua warga negara itu setara. Kalau kita mau bikin partai, kita harapkan menjadi lokomotif demokrasi. Tapi bila dalam dirinya sendiri sudah eksklusif sudah diskriminatif, apa bisa PKB ini menjadi partai pendorong demokrasi? Kalau kita ingin mendemokratisasi bangsa, ujar Matori, partai ini harus menjadi partai yang demokratis lebih dulu. Partai yang bisa menerima keanggotaan dan kepengurusan tanpa melihat latar belakang agamat suku atau ras. NU tidak pernah bercita-cita menjadi negara lslam, sambung Matori. Kita ingin membawa agama ini, sehingga menjadi benar-benar rahmat bagi alam semesta. Jadi beragama itu memberikan rahmat kepada semuanya. Tampaknya, sesuai dengan sikap Matori untuk mendemokratisasi bangsa, kesetaraan, beragama untuk memberikan rahmat bagi semuanya, maka PKB mendukung rencana pemerintah Gus Dur untuk mencabut Tap MPRS No XXV/1966, yang isinya melarang PKI dan penyebaran ajaran marxisme-leninisme-komunisme. Sikap PKB itu tercermin dari sikap A. Muhaimin Iskandar (Sekjen PKB) dan Abdul Khaliq Ahmad dari fraksi PKB di DPR, yang mendukung pencabutan itu. Sebaliknya rencana pemerintah Gus Dur itu ditolak oleh pendukung fasis Soeharto, seperti oleh Achmad Soemargono dan MS Kaban (PBB), Hamzah Haz (PPP) dan Agung Laksono (Golkar). Mungkin dari situlah munculnya penilaian bahwa Matori (yang Ketua PKB) PKI dan karena itu harus dihabisi, supaya Tap MPRS yang melarang PKI itu tetap berlaku. Karena itu tidaklah anek, jika dari kelompok pendukung fasis Soeharto itu muncul pelesetan bahwa PKB itu bukan singkatan Partai Kebangkitan Bangsa, melainkan singkatan "Partai Komunis Baru". MENEGAKKAN KEADILAN Melihat sikap Matori terhadap orang yang hendak membunuhnya, dimana ia memaafkannya, karena dianggapnya tidak tahu, menunjukkan, sepenuhnya, Matori dalam bertindak mencontoh pada cara Rasul Muhammad SAW. Sebagai seorang Islam tentu Matori senantiasa akan berpegangan kepada surat Al Maidah ayat yang berbunyi: Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu berdiri karena Allah, menjadi saksi dengan keadilan. Janganlah kamu tertarik karena kebencian pada satu kaum, sehingga kamu tidak berlaku adil. Derlaku adillah, karena keadilan itu lebih dekat kepada taqwa dan takutlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Adalah tidak menegakkan keadilan, malah berbuat zalim, bila bagi sementara warga Indonesia diberi kebebasan berorganisasi, mengeluarkan pendapat dengan lisan dan tulisan (lihat pasal 28 UUD 45), sedang bagi sementara warga lain, yang berpaham komunis, hak itu tidak diberikan. Itu menunjukkan adanyA ketidaksetaraan, itu menunjukkan adanya diskriminasi dan bertentangan dengan fasal 27 UUD 1945. Ringkasnya, Tap MPRS yang melarang PKI dan penyebaran ajaran marxisme-leninisme, komunisme, adalah Tap yang zalim, yang bertentangan dengan pasal 27 dan 28 UUD 1945. Dalih yang digunakan pendukung fasis Soeharto untuk mempertahankan tetap berlakunya Tap MPRS No XXV/1966 itu, ialah orang-orang PKI itu tidak beragama. Dalih itu bertentangan dengan apa yang dikemukakan Dahlan Ranuwihardjo bahwa orang-orang komunis seperti H. Misbach, H. Dt Batuah, Kiai Dasuki Sirad adalah orang-orang yang taat menjalankan ajaran agamanya. Bahwa di dalam PKI tentu juga ada yang tidak beragama Islam, seperti juga terdapat dalam partai terbuka yang lain. Tuduhan atheis atau tidak beragama sebagai dalih untuk melarang PKI, itu jelas bertentangan dengan isi surat Al Baqarah ayat 256, yang mengatakan "Tidak ada paksaan dalam agama". Tuduhan itu bertujuan hendak memaksa supaya semua orang beragama. Memaksa seseorang beragama, bertentangan dengan surat Al Baqarah ayat 256 diatas. Apalagi hendak menghabisinya, karena tidak beragama. "Siapa membunuh seorang manusia, yang bukan membunuh orang atau berbuat bencana di muka bumi, maka seolah olah ia telah membunuh manusia semuanya" (Al Maidah, 32). Apalagi orang yang hendak dihabisi atau dibunuh itu, justru berjuang untuk menegakkan keadilan di muka bumi. Dosanya tentu akan lebih besar. Sesuai dengan surat Al Baqarah ayat 256 tsb, maka masing-masing orang berhak untuk beragama atau tidak beragama. Masing-masing akan diminta pertanggungjawabnya diakhirat kelak. Jelas kiranya bahwa Matori adalah seorang muslim yang taat pada ajaran agama yang dianutnya. Ia senantiasa meneladani sikap Rasul Muhammad SAW menghadapi orang yang hendak membunuhnya. Bila PKB mendukung dicabutnya Tap MPR No XXV/1966, karena PKB tidak mau berlaku tidak adil, hanya dan hanya karena mereka (baik buruh, tani atau rakyat tertindas lain) berpaham komunis. Itu garis surat Al Maidah ayat 8. Yang menuduh Matori PKI, karena berpegangan kepada surat Al Maidah ayat 8, hanya menunjukkan mereka itu menentang surat Al Maidah di atas. Sampai dimana keislaman mereka? Usaha menghabisi Matori, yang mungkin pula akan diikuti dengan menghabisi tokoh NU pendukung Gus Dur lainnya, itu hanya perantara. Tujuan mereka yang sesungguhnya ialah mengusir Gus Dur dari kekuasaan. Hal itu telah senada dengan cara Soeharto menyingkirkan Presiden Sukarno dari kekuasaan, dengan lebih dulu melumpuhkan kekuatan PKI, pendukungnya. *** - ---------------------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 26 Mar 2000 jam 07:37:33 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
