---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 10/III/27 Maret-2 April 2000 - -------------------------------- JAKARTA AMAN, GERILYA DI DAERAH (PERISTIWA): Di berbagai daerah, militer "beraksi" tanpa sepengetahuan pemerintah. Sekedar improvisasi atau menggembosi Gus Dur? Gus Dur boleh mengutak-atik posisi perwira tinggi militer di Jakarta, tapi kelakuan prajurit di daerah barangkali terlalu jauh dari jangkauannya. Peristiwa penyisiran terhadap pasukan AGAM (Angkatan Gerakan Aceh Merdeka) seusai pertemuan antara Bondan Gunawan dengan Tengku Abdullah Syafi'ie di Pidie misalnya. Kendati menurut Kapolri Jenderal Rusdihardjo tidak ada instruksi dari Jakarta, aparat keamanan (Brimob) di daerah tetap saja menjalankan operasinya. Improvisasi aparat daerah bukan hanya di Aceh saja. Hal sama juga terjadi di Timor Timur. Penyerbuan dan penembakan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Timur baru-baru ini, diduga keras melibatkan aparat keamanan Indonesia. Meskipun pejabat resmi PBB menyatakan tidak ada bukti langsung yang dapat mengaitkan keterlibatan tentara Indonesia dalam aksi itu, namun sebuah laporan rahasia yang diserahkan pada komandan pasukan PBB menyebutkan sebaliknya. Kutipan laporan yang dimuat harian The Washington Post itu menyatakan, pada tanggal 29 Februari lalu, sekitar 50 milisi bersenjata telah memasuki wilayah Timor Timur. "Sumber-sumber yang dapat dipercaya serta berbagai laporan lainnya mengindikasikan, para milisi itu melewati perbatasan atas sepengetahuan TNI untuk melakukan infiltrasi." Laporan itu juga menyertakan dokumen detail tentang 16 insiden yang melibatkan milisi yang terjadi antara 21 Februari hingga 7 Maret lalu. Dari pihak Indonesia, para petinggi militer sudah berulangkali membantah keterlibatan para prajuritnya dalam berbagai insiden itu. Namun demikian, pemerintah, atas nama Presiden Abdurrahman Wahid telahsecara khusus memerintahkan pembubaran berbagai kelompok milisi. Insiden itu sendiri telah meningkatkan kecemasan di wilayah timur perbatasan Indonesia-Timor Timur. Komandan pasukan PBB asal Filipina, Letjen Jaime de los Santos, baru-baru ini telah menyatakan kondisi "siaga satu" serta meningkatkan frekuensi patroli darat dan udara di sekitar tempat itu. "Kami sangat-sangat memperhatikan keamanan perbatasan, saat ini," ujar de los Santos dalam sebuah wawancara. "Keamanan itu akan sangat tergantung pada seberapa mampu kami mengkontrol para milisi," tambahnya lagi. Penyerangan itu, dengan sendirinya, telah pula menjadikan usaha untuk membangun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Timor Timur jadi sulit. Padahal, pihak pemerintahan sipil Indonesia sudah berusaha untuk melupakan pertikaian antara kedua-belah pihak yang terjadi di seputar penyelenggaraan referendum. Namun, menurut seorang pejabat PBB, serangan yang dilakukan para milisi itu, justru merupakan kekecewaan(tentara) atas permintaan maaf Gus Dur pada rakyat Timor Timur yang diucapkannya pada saat mengunjungi Dili akhir Februari lalu (ketika itu, selain meminta maaf, Gus Dur juga berjanji untuk memperbaiki hubungan kedua negara). Pejabat PBB tadi juga berspekulasi bahwa serangan dan penembakan itu, sengaja dirancang untuk mengesankan telah terjadinya perpecahan di antara sesama pasukan PBB --yang baru diambil-alih kepemimpinannya bulan lalu dari Australia. "Mereka sedang menguji kami," ujar perwakilan PBB Sergia Vieira de Mello, yang saat ini secara 'ofisial' merupakan pemimpin Timor Timur hingga diadakannya pemilu tahun depan. Juru bicara pasukan PBB, Letkol Brynjar Nymo mengatakan, rincian laporan yang mengindikasikan keterlibatan militer dalam aksi itu cukup akurat. Ia beranggapan, militer Indonesia saat ini sedang "gelap mata". "Mereka 'kan jelas-jelas melihat para milisi ini menyeberang perbatasan dengan senjata otomotis lengkap dengan amunisinya. Sudah pasti mereka (para milisi) ini bukan hendak berburu rusa," ujarnya lagi. Soal keterlibatan militer ini juga didukung melalui pernyataan Duta Besar AS untuk Indonesia, Robert S. Gelbard. Ia malah berpendapat, aksi yang dilakukan para milisi ini mendapat dukungan langsung dari faksi militer tertentu di Jakarta. "Kami diberitahu bahwa seluruh milisi telah dilucuti senjatanya. Tapi, ajaib dan tiba-tiba saja, mereka bisa punya senjata lagi," kata Gelbard. Siapa persisnya yang memberi perintah pada para milisi, tidak diungkapkan oleh Gelbard. Namun, banyak pihak percaya, ini merupakan ulah kelompok militer yang disingkirkan oleh Gus Dur, yaitu Jenderal Wiranto, Letjen Djaja Suparman serta orang-orang sekitar mereka. Sejauh ini, yang mungkin dianalisa, hanya ada dua kemungkinan munculnya sikap mbalelo aparat militer di di daerah. Pertama, sebagai "improvisasi" daerah karena belum menerima instruksi secara jelas dari Jakarta. Kedua, karena ada "perintah" dari faksi militer tertentu di luar garis komando resmi (seperti sudah dijelaskan di atas). Jika persoalannya cuma sekedar "improvisasi", persoalannya barangkali takkan terlalu ruwet. Namun, jika ini adalah "gerilya politik" kelompok Wiranto untuk menggembosi Gus Dur, maka ini merupakan hal serius yang patut diperhatikan. Sebab, bila semakin banyak terlihat ketidakpatuhan aparat militer di daerah-daerah, konsolidasi militer yang dilakukan Gus Dur bakal percuma. Akan muncul berbagai preseden yang bisa berbuntut pada sikap "melawan" pemerintah. Selain di Aceh dan Timor Timur, hal yang mirip juga terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan. Menutup laporan www.astaga.com, menjelang kunjungan ke Gus Dur ke Makassar, kartu-kartu identitas wartawan peliput diberi stempel Bakorstanasda. Padahal, seperti sudah diketahui masyarakat luas, melalui Sekretaris Kabinet Marsilam Simanjuntak, Gus Dur telah membubarkan lembaga ekstra yudisial yang tak bisa di-PTUN-kan itu. Kalau didiamkan, bisa-bisa hal ini terjadi di semua daerah. Nah, 'gimana nih Gus? (*) - ----------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ------------ SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 28 Mar 2000 jam 04:28:49 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
