----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 10/III/27 Maret-2 April 2000
- --------------------------------

CERMIN BURUK PDI PERJUANGAN

(POLITIK): PDI-P kalah dalam pemilihan walikota dan bupati di beberapa
tempat. Ada yang karena politik uang tapi juga ada yang karena lemahnya loby
politik para fungsionarisnya.

Pemilihan Wali Kota Medan Senin (20/3/2000) berlanjut dengan kemarahan
sekitar 1.500 massa berseragam merah-merah. Mereka mendobrak gerbang Gedung
DPRD II Medan, Jl Balaikota. Tidak hanya itu massa terus menyandera para
anggota FPDIP yang dianggapnya melakukan pengkhianatan terhadap partai dan
terlibat money politic. Kekecewaan massa PDIP itu beralasan. Pasalnya,
jumlah anggota DPRD II dari FPDIP ada 16 orang. Tapi calon mereka sendiri,
Ridwan Batubara kalah telak dan hanya mengantongi 4 suara. Sedang yang
menang adalah H Abdillah, calon Fraksi Golkar, dengan mengantongi 35 suara.
Setelah dikepung massa PDI-P, 16 anggota FPDIP termasuk Tom Adlin Ketua DPRD
yang dituduh itu mengakui, menerima uang suap Rp25 juta dari walikota
terpilih.

Sebelumnya, di Semarang juga terjadi keruwetan pemilihan Walikota. Sutjipto
SH, calon Walikota yang direstui DPP PDI-P ditinggalkan oleh anggota fraksi.
Ia tidak memperoleh satu pun suara. Sementara Sukawi Sutarip, seorang
pengusaha yang muncul belakangan, didukung habis-habisan oleh FPDI-P. Sukawi
menang dalam pemilihan. Di Fraksi Persatuan Pembangunan (FPP) DPRD Kodya
Semarang juga mengalami hal yang sama. Bahkan Djawahir Muhamad, calon
walikota yang awalnya disepakati akan didukung FPP, pada pemilihan tidak
mendapat satu suara pun.

Dalam pemilihan walikota yang dikepung Satgas PDI-P itu, Sukawi mengantongi
22 suara dari 45 suara anggota dewan. Dia mengalahkan cawali lain, yakni H
Soendoro BA BSc (16 suara), Drs HR Herdjono (7 suara). Drs H Djawahir
Muhammad dan H Soetjipto  SH bahkan tak memperoleh satu suara pun.

Yang membedakan dengan kasus Medan, pemilihan Walikota di Semarang kelompok
Sukawi berhasil memobilisir massa dukungan dari PDI-P, sehingga kekalahan
Sutjipto seperti bukan menjadi persoalan bagi PDI-P. Persoalan justru
terkuak dari kelompok masyarakat lain. Kelompok masyarkat ini menyodorkan
bukti-bukti bahwa pemilihan Walikota Semarang diwarnai oleh politik uang.
Bahkan kasus ini berlanjut ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang.

Yang paling telak, adalah kekalahan PDI-P dalam pemilihan Walikota Surabaya.
PDI Perjuangan yang dalam Pemilu lalu menang (55%), ternyata gagal menguasai
jabatan walikota. Sunarto Sumoprawiro, mantan anggota Kopassus itu maju dan
dijagokan PKB.

Ada yang menduga, FPDI-P sudah terjual. Karena mereka tidak gigih
memperjuangkan Soetikno, calon PDI-P. Bahkan mereka tak berdaya ketika
calonnya gagal di tengah jalan. Sebaliknya, FPDI-P mendukung Sunarto yang
selama menjadi Walikota periode yang lalu, tersangkut sejumlah proyek
bermasalah. Sunarto diduga terlibat korupsi Rp2,9 miliar dari proyek
pembebasan tanah dan pembangunan jalan dan saluran di kodya Surabaya tahun
1999/2000. Yang lebih menyedihkan, ternyata kegagalan calon dari PDI-P di
Surabaya menimbulkan tindakan kriminal dari para pendukung calon yang gagal.
Sejumlah anggota PDIP gelap mata dan menghajar dua anggota Fraksi PDIP
(FDIP)  DPRD II Surabaya hingga babak belur. Kedua anggota FPDIP DPRD
Surabaya yaitu Baktiono dan Heru Rusianto. Baktiono dan Heru yang dituduh
telah mbalelo karena suaranya diberikan pada kandidat lain.

Isu yang beredar, ada tujuh anggota DPRD II Surabaya yang diduga menerima
suap dari kandidat Soenarto, yang akhirnya terpilih untuk kedua kalinya.
Ketujuh anggota itu masing-masing Lubis A (PBB), Wahid Hariyanto (PPP),
Walidji (PKP), Budiarto Tasmo dan Sofwan Hadi (PAN), H. Sukri (PKB) yang
membawa tujuh suara PKB dan Baktiono (PDI-P) yang membawa enam suara PDIP.
Dalam selebaran itu, ditulis ke-7 anggota dewan itu disuap masing-masing
Rp125 juta untuk memuluskan Soenarto menjadi walikota.

Kekalahan PDIP di Surabaya ini terulang dalam pemilihan Bupati Kepala Daerah
Boyolali periode 2000-2004, Senin (28/2). Padahal, jumlah anggota Fraksi
PDI-P di Kabupaten tersebut mayoritas, yakni 18 orang dari 45 anggota DPRD
setempat.  Dalam pemilihan Bupati KDH Boyolali Senin (28/2) pagi, kader
PDI-P yang mendapat rekomendasi DPP PDI-P, Drs Imam Djuwarto dan Drs
Kartono, hanya mendapat lima suara, padahal anggota dewan dari PDI-P
berjumlah 18 orang. Yang menang dan jadi bupati adalah Letkol CKM dr Djoko
Sriyanta berpasangan dengan Wakilnya, KH Habib Masturi. Keduanya dicalonkan
Fraksi TNI/Polri dan Fraksi Persatuan Umat (FPU). Diduga, juga karena money
politic.

Bau ketidakberesan anggota DPRD dari PDI Perjuangan juga muncul dalam
pemilihan walikota Depok. Resi Bohang MBA dari "Pengemban Tugas DPP PDI-P
untuk Penuntasan Money Politic dalam Proses Pemilihan Walikota/Wakil kodya
Depok", mengatakan kepada wartawan Senin (7/2), hampir seluruh anggota
fraksi PDI-P juga sebagian besar anggota DPRD II Depok kecuali Drs
Rinrisyanto dan Bambang Sutopo MBA, telah melakukan praktek kotor politik
uang. Dikabarkan, praktek politik uang di DPRD Depok itu menelan dana
sebesar Rp1,5 milyar dan melibatkan hampir seluruh anggota dewan.

Gejala anggota dewan "bisa dibeli" ini adalah tragedi nasional politik
Indonesia. Karena akibatnya, kelak orang tak lagi percaya pada partai
politik. (*)

- -----------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ------------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Mar 2000 jam 06:01:55 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke