----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

PERNYATAAN  INFID ATAS PERUNDINGAN  HUTANG INDONESIA  DI PARIS CLUB
TANGGAL 12 APRIL 2000

YANG DIPERLUKAN  ADALAH PEMBATALAN BUKAN CUMA PENJADWALAN
Jakarta, 13 April, 2000

Berkaitan dengan perundingan kelompok negara kreditor bilateral
Indonesia yang tergabung dalam Paris Club dengan delegasi Indonesia,
yang membahas penjadwalan kembali hutang LN Indonesia yang jatuh tempo
tahun 2000 ini senilai 2,1 miliar, INFID menyatakan penghargaan kepada
delegasi Indonesia yang sudah berusaha sebaik-baiknya.

Namun, INFID  juga berpendapat bahwa penjadwalan kembali hutang LN
tidak memadai dan tidak cukup siginifikan untuk suatu permulaan
pemulihan ekonomi dan sosial Indoonesia,  karena alasan-alasan sebagai
berikut :
Pertama, negara-negara super kaya dalam Paris Club tidak cukup peka
bahwa mereka perlu ikut memikul tanggngungjawab dan resiko dari
ketidakmampuan Indonesia membayar hutang. Tidak peka karena masalah
Indonesia bukan sekadar soal liquidity (tiadanya dana) namun juga
insolvency (tidak mampu membayar). Karena itu solusi yang diperlukan
(once-for-all-setllement) adalah pembatalan (cancellation), bukan
penjadwalan kembali. Karena penjadwalan kembali adalah berpura-pura
masalah Indonesia adalah liquidity, padahal masalah sebenarnya adalah
insolvency.

Kedua, akibat krisis ekonomi, jumlah orang miskin Indonesi telah
membengkak menjadi 40 juta jiwa. Kemiskinan adalah penyakit,
kesengsaraan dan penderitaan. Kemiskinan juga artinya hilangnya
kesempatan bagi kaum anak-anak. Akibat krisis ekonomi, jutaan anak
putus sekolah. Penjadwalan kembali memang meringankan beban keuangan
negara. Namun, ia  tidak akan meringankan beban kemiskinan dan
penderitaan yang ditanggung oleh kaum miskin akibat menurunnya
anggaran untuk kesehatan, pendidikan dan subsidi. Yang dibutuhkan
Indonesia bukan belas kasihan, namun kemitraan dan tanggungjawab
bersama antara negara kaya dan negara berkembang. Pembatalan adalah
cara yang mudah dan murah untuk meringankan beban kaum miskin
Indonesia. Lebih dari itu, krisis dan kemiskinan telah mendorong
orang  bertindak anarkis dan  mudah terjebak dalam konflik horisontal.


Ketiga, rejim Soeharto yang menerima dan menumpuk hutang selama 32
tahun adalah rejim yang korup dan memerintah dengan tangan besi.
Akibat perilaku KKN rejim, banyak dana hutang yang dikorupsi dan
digunakan untuk menindas rakyatnya. Sementara itu, negara dan lembaga
kreditor menutup mata dan justru menambah hutang. Penjadwalan kembali
tidak mempertimbangkan fakta bahwa  hutang yang dikorup telah secara
tidak adil dan tidak bermoral menjadi beban pemerintah baru dan
rakyatnya. Semestinya negara kaya bisa memperlihatkan bantuan dan
kepeduliannya dengan mempertimbangkan soal ini.

Atas alasan-alasan itu, kami mendesak agar:
1. Pemerintah Indonesia terus berjuang di semua forum untuk mengurangi
dan membatalkan beban hutang LN.
2. Pemerintah Indonesia melakukan penyelidikan atas dana-dana hutang
yang dikorupsi.
3. IMF, Bank Dunia dan anggota Paris Club mendukung investigasi
korupsi atas dana hutang selama 32 tahun.
4. IMF,  Bank Dunia dan anggota Paris Club bersedia menanggung biaya
dan resiko dengan cara mendukung pembatalan hutang LN.



Hormat kami,


Binny Buchori                                   Sandra Moniaga
Sekretaris Eksekutif                            Wakil Ketua ISC

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Apr 2000 jam 06:14:26 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke