----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 13/III/17-23 April 2000
- --------------------------------------

MUSUH WARTAWAN NOMOR SATU

(PERISTIWA): Sudah sepantasnya, organisasi wartawan seperti Aliansi
Jurnalis Independen atau Committee to Protect Journalist tahun ini
menobatkan kelompok massa jihad Ahlussunnah Wal Jamaah sebagai musuh
wartawan nomor satu.

Betapa tidak? Organisasi pimpinan Jaffar Umar Thalib ini dalam
aktifitasnya telah mengancam bahkan telah melakukan tindakan kekerasan
terhadap wartawan yang ingin meliput kegiatannya. Selain mengancam
secara fisik maupun teror psikologi, laskar jihad bersenjata tajam itu
juga melakukan tindakan diskriminatif terhadap wartawan perempuan dan
wartawan non muslim.

Pekan lalu, tiga wartawan disiksa dan nyaris dibunuh di lokasi kamp
latihan mereka di Kampung Munjul RT 06/05 Desa Kayumanis, Kecamatan
Tanah Sareal Bogor, Minggu (9/4). Tidak hanya itu, mereka juga
mengancam akan membunuh para wartawan ini jika membeberkan peristiwa
penyiksaan itu di media massa. Ketiga wartawan itu masing-masing Usman
Asyari (senior produser BBC Indonesia), Victor Cahyadi (AFP) dan
Hinarius (freelance). Sampai sekarang ketiganya masih menghilang dari
kejaran laskar Jihad. Karena ternyata banyak media mengetahui dan
memberitakan peristiwanya.

Ketiga wartawan tersebut datang ke lokasi latihan itu bermaksud
memnuhi janji wawancara Komandan Jihad, Jafar Umar Thalib. Tetapi
karena sampai saat yang ditentukan sang komandan laskar belum juga
datang, ketiga wartawan itu berinisiatif masuk ke kamp kosentrasi
laskar. Belum jauh berjalan, mereka dikejar dan ditangkap oleh anggota
laskar. Ketiganya diikat, diinterogasi dan disiksa. Dari ketiga
wartawan itu, Victor Cahyadi yang mengalami siksaan berat karena
beragam kristen juga karena sebelumnya pernah "bermasalah" dengan
anggota laskar yang demo di Istana Negara.

Walaupun sudah diperiksa habis-habisan dan disiksa, wawancaranya pun
dibatalkan sepihak. Dalam kondisi yang payah, ketiga wartawan ini
dibawa ke kantor polisi dan sempat dirawat di RSU PMI Bogor. Mereka
diancam untuk tidak menuntut dan menulis peristiwa yang menimpanya.
"Kalau itu dilakukan, mati!" kata sebuah sumber menirukan ancaman
laskar jihad.

Pada hari yang sama (9/4) sebenarnya juga banyak rombongan wartawan
yang mendatangi lokasi. Salah satu rombongannya adalah dari Tabloid
Semanggi. Para wartawan Semanggi ini juga gagal bertemu dengan Jaffar
Umar Thalib. Padahal sudah janji terlebih dahulu. Rombongan tabloid
Semanggi ini tidak bernasib senaas Usman dkk. Hanya saja, pelucutan
dan pemeriksaan identitas dilakukan sangat ketat. "Pertanyaan utama
mereka adalah, apakah para wartawan yang datang itu non muslim. Saya
nggak membayangkan kalau wartawan yang datang itu non muslim. Karena
dari nada pertanyaannya, sangat tidak bersahabat," ujar sumber Xpos.

Tabloid Semanggi beberapa waktu sebelumnya pernah diancam dibakar oleh
Laskar Jihad karena pemasangan foto kelompok ini pada edisi No. 19.
Laskar ini merasa tersinggung karena fotonya dimuat dalam pemberitaan
mengenai NII. Laskar Jihad menuntut agar tabloid Semanggi meminta maaf
dan mengklarifikasi. Karena takut disatroni dan dibakar kantornya,
akhirnya tabloid itu memuat klarifikasinya pada edisi No 21.

Ancaman serupa juga dialami harian Radar Bogor. Koran milik Jawa Pos
Grup itu Minggu (9/4) juga didatangi satu truk anggota Laskar Jihad
yang lengkap membawa senjata pedang dan pisau komando. Mereka marah
karena Radar Bogor dinilai telah menyebarkan berita yang mengadu domba
antara laskar jihad dengan masyarakat Kayumanis (lokasi latihan) dan
aparat keamanan setempat.

Laskar yang mengklaim beranggotakan puluhan ribu itu, selain sangat
anti terhadap wartawan non muslim, juga anti terhadap wartawan
perempuan. Teresia Sufa, seorang wartawan dari Jakarta Post diusir
dari lokasi kamp latihan gabungan di Kayumanis, Minggu (9/4). Begitu
juga ketika laskar ini menggelar tabligh akbar di Istora Senayan dan
yang dilanjutkan dengan demo di Istana negara Kamis (6/4) itu,
beberapa wartawan perempuan diusir dan tidak bisa meliput. Hal serupa
juga terjadi ketika mereka datang ke DPR dan berpamitan dengan Ketua
DPR Akbar Tanjung untuk berangkat ke Ambon. Seorang wartawan perempuan
dihardik habis-habisan dan diusir tidak boleh meliput dialog antara
laskar bersenjata tajam itu dengan Akbar Tanjung.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI), yang selain mengecam tindak
kekerasan laskar, juga menyoroti perlakuan diskriminatif mereka
terhadap wartawan. "Pernyataan protes ini kami sampaikan, agar pihak
Laskar Jihad memahami sepenuhnya tugas-tugas yang diemban para
jurnalis. Kami berharap pihak Laskar Jihad tidak lagi mengulangi
tindakan-tindakan kekerasan dan diskriminasi agama dan gender kepada
para jurnalis," tulis Sekjen AJI Didik Supriyanto dalam nota
protesnya.

Tetapi tanpa harus dilapori, seyogyanya aparat keamanan --yang punya
aparat intelijen-- sudah tentu mengetahui dan melakukan tindakan tegas
terhadap mereka. Atau menunggu masyarakat melakukan tindakan sendiri?
(*)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

SOAL DANA Rp 4 MILYAR

(BOX): Laskar Jihad  kebakaran jenggot. Hilal Thalib, kakak kandung
Panglima Perang Laskar Jihad ahlussunnah wal jamaah membantah keras
isu bahwa pihaknya menerima dana dari Cendana sebesar Rp4 milyar,
seperti yang pernah di beritakan Xpos edisi lalu (No. 12/III, 10-16
April 2000).

Hilal Thalib, pemilik tanah tempat latihan laskar di Munjul itu
berang, bahkan sempat mengancam akan "buat perhitungan" dengan tabloid
tersebut. "Itu berita brutal. Berita itu keterlaluan karena akan
mendiskreditkan kita," tegas Hilal kepada detikcom, Jum'at
(14/4/2000).

Alasannya, jika benar dapat dana milyaran rupiah, maka para anggota
laskar tidak mungkin akan minum air sumur dan tinggal di tenda-tenda
darurat.

"Kalau kita dapat dana segitu besar, kita akan tinggal di hotel
bukannya di tenda. Kita tidak punya transaksi politik dengan
pihak-pihak tertentu dan kita juga tidak punya tuduhan politik," papar
Hilal Thalib.

Namun demikian, logika Hilal Thalib masih kurang akurat. Sebab
pemilihan tempat latihan dan fasilitasnya bukan karena keterbatasan
uang.

"Dalam prinsip pendidikan milisia, bahwa semakin terbatasnya fasilitas
dan semakin sengsaranya orang, maka akan semakin mudah memainkan emosi
dan kebrutalan orang tersebut," kata sumber Xpos. (*)

- -----------------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Apr 2000 jam 22:04:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke