---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 13/III/17-23 April 2000 - -------------------------------------- FIDEL CASTRO (LUGAS): Lama namanya tak terdengar. Tiba-tiba saja ia menyediakan diri menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi negara-negara Kelompok 77 (G77) --yang diasosiasikan sebagai kelompok negara-negara dunia ketiga. Di masa lalu, ia dikenal sebagai pemimpin kharismatis dari negara-negara dunia ketiga, bersama-sama Soekarno dan Gamal Abdul Nasser dari Mesir. Pada era tahun 60-an itu, dengan retorika yang memukau, mereka jadi juru bicara utama penentang kapitalisme. Castro tampaknya melihat celah untuk kembali tampil sebagai simbol negara-negara selatan (negara-negara berkembang) menghadapi dominasi ekonomi negara-negara utara (negara-negara maju). Sepuluh tahun setelah usainya perang dingin, perekonomian negara-negara selatan justru terpuruk karena lilitan utang yang besar. Hal ini makin nyata, setelah krisis ekonomi melanda Asia pada 1997. Dalam keadaan begini, relatif mudah untuk menggalang solidaritas antar sesama negara selatan. Ini disadari betul oleh Castro. Apalagi, sebagai tuan rumah konferensi G77, ia punya kesempatan memberikan pidato penting pada saat pembukaan. "Selama tiga dasawarsa, sistem ekonomi global yang berlaku sekarang, telah membunuh orang dewasan maupun anak-anak akibat kelaparan dan penyakit yang sebetunya bisa diobati lebih banyak ketimbang jumlah korban yang tewas selam enam tahun Perang Dunia II," ujar Castro berapi-api dalam pidatonya. Berdasarkan itulah, menurut Castro, sudah saatnya dunia ketiga menuntut pembubaran IMF. Lembaga ini, dianggapnya tak berhasil menjamin kestabilan ekonomi dunia dan gagal menyalurkan dana preventif untuk membantu negara pengutang terhindar dari krisis likuiditas. Lebih dari itu, Castro juga menuntut pembentukan pengadilan internasional a al Nuremberg --yang mengadili para penjahat Perang Dunia II-- untuk mengadili para pencetus dan penanggung jawab sistem tatanan ekonomi dunia saat ini. Castro memang cerdik. Ketika pamor ideologi sosialisme-komunis mulai memudar, ia tetap punya bahan untuk menghantam kapitalisme internasional. Isu pembubaran IMF sudah diperkirakan bakal menguat. Sebab, pada saat bersamaan, para aktifis LSM di AS, sedang gencar melontarkan isu yang sama. Tentu terlalu pagi untuk menganggap ini sebagai gejala kebangkitan sosialisme. Kebanyakan negara dunia ketiga sudah muak dengan pertentangan ideologis yang mereka alami selama perang dingin. Cukuplah mengatakan bahwa sekarang ini adalah era bangkitnya dunia ketiga melawan ketidakadilan. Tanpa retorika pun, kita tahu betapa pentingnya hal itu. (*) - ----------------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ------------------ SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 Apr 2000 jam 22:17:44 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
