---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 13/III/17-23 April 2000 - -------------------------------------- H. Ustadz Rodji Jaelani, Ketua Umum Pagar Nusa DKI Jakarta: "MEREKA SALAH PAHAMI JIHAD" (DIALOG): Aksi bersenjata tajam Laskar jihad Alhussunnah wal Jamaah membuat meradang masyarakat lain. Bahkan kelompok lain sudah berancang-ancang menghadapi aksi-aksi laskar jihad itu, jika pihak keamanan terus-terusan membiarkan mereka tanpa tindakan hukum. Berikut adalah H Ustadz Rodji Jaelani (36), Ketua Umum Pagar Nusa DKI Jakarta (meliputi wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang Bekasi). Berikut wawancara Xpos yang dilakukan, Rabu (12/04). T: Apa tanggapan Pagar Nusa tentang Jihad? J: Menurut saya, setiap muslim yang beriman memang mesti terpanggil untuk Jihad. Namun tujuan Jihad ini yang kadang tidak terpahami. Asal Jihad itu kan untuk menyelamatkan bukan mengorbankan. Menyelamatkan ini sendiri khan dilihat dari berbagai aspek seperti dalam kasus Ambon. Kami tidak berjihad dengan menggalang kekuatan kemudian kita pamer kekuatan serta segala perlengkapan senjata yang ada. Karena, satu, jika dilihat negara kita ini sudah mempunyai seorang pemimpin yang Kyai --yang mana untuk pemahaman agama lebih dalam daripada kebanyakan orang, dan sudah mumpuni untuk pengetahuan agamanya, tentu lebih bijak cara menanganinya. Yang kedua untuk Jihad, kita tidak bisa langsung angkat senjata dilanjutkan dengan perang frontal. Sebab awal dasarnya menyelamatkan, ada masih banyak cara lain. Seperti kita galang kekuatan untuk menekan pemerintah agar secepatnya menyelesaikan persoalan saudara kita yang di Ambon, baik yang beragama Islam maupun Kristen. T: Mengapa pemahaman jihad berkembang menjadi angkat pedang dan mengancam orang lain? J: Nah, ini masalahnya. Darimana pemahaman Jihad seperti itu, kita perlu cari tahu itu. Bukankah pemahaman jihad itu dasarnya adalah menyelamatkan bukan mengorbankan. Saya tidak sependapat dengan pandangan Jihad yang berpedang, mengancam seperti itu. Memang, seruan Jihad itu tidak saya pungkiri, namun caranya yang lebih bijak sebagai umat Islam. Karena cara Jihad dengan pedang seperti itu malah berdampak tidak menyelesaikan, sebaliknya memperkeruh. Sebab yang kita hadapi kan saudara setanah air dan senegara juga. T: Apakah aksi Jihad belakangan ada hubungannya dengan upaya kelompok politik tertentu? J: Memang ada ke arah sana, misalnya kenapa maraknya aksi-aksi Jihad ini baru dilakukan dengan gencar belakangan ini. Kenapa nggak dari dulu saat kasus Ambon baru hangat. Ada tanda-tanda untuk menggoyang pemerintahan Gus Dur dalam kasus ini. Ini yang ditemukan anggota Pagar Nusa di lapangan. Mungkin dari luar mereka nggak bisa, sekarang mereka coba dari dalam sendiri. Seolah-olah kan dimunculkan kesan bahwa Gus Dur tidak peduli. Padahal sebetulnya seperti Tap MPRS tentang Komunis itu kan, beliau ingin mengajarkan pada kita agar lebih demokratis. Dan kejadian ini digunakan sebagai kesempatan oleh orang-orang itu untuk menekan Gus Dur. T: Apa tanggapannya tentang kelompok Ahlus Sunnah Wal Jammaah? J: Ahlus Sunnah sendiri adalah nama aliran. Sesungguhnya aliran yang ada di Indonesia itu adalah Ahlus Sunnah wal Jammaah. Di dalam Islam ada aliran, Wahabi, Syiah, Ahlus Sunnah dan beberapa lainnya. T: Apakah laskar Jihad ini cukup profesional dan terlatih? J: Ya , ini saya tidak bisa jawab secara langsung. Namun kalau Pagar Nusa itu bukan cuma bicara, tapi bukti, begitu. Yang namanya terlatih itu tidak bisa dinilai dari penampilan yang bersorban putih, membawa pedang, golok dll. Kami tidak mau ditipu oleh penampilan, sebab yang namanya bukti, kami pesilat dan segala bentuk beladiri kami pelajari. Baik yang olah batin atau metafisik maupun yang olah fisik atau silat itu sendiri lewat tenaga dalam, begitupun tangan kosong maupun pakai alat. Meski begitu 'tidak kami tampilkan', mana ada anak Pagar Nusa yang yang membawa toya, tombak, atau golok. Karena itu memang bukan ukuran untuk orang yang telatih atau tidak! Jadi membawa senjata itu buka ukuran suatu kekuatan yang terlatih dalam silat melainkan sebaliknya. Ketahuan kekuatannya sampai seberapa dan kelemahannya juga. Kalo strategi Pagar Nusa kemampuan silat itu harus tersimpan, seolah nggak ada apa-apa namun menyimpan kekuatan yang dahsyat.. yang tak bisa dibayangkan. T: Apakah hal itu menjadi pola standar Pagar Nusa? J: Memang kami tidak memakai atribut, tapi kami ada dimana-mana. Dan mereka tidak bisa mendeteksi kami meski kami bisa mendeteksi mereka. Termasuk saat Tabligh akbar kemarin (di Senayan 6/4), kami memasukkan 200 orang ke dalam barisan mereka untuk tahu apa dan siapa mereka. Jadi kami memang selalu memantau acara yang sifatnya seremonial apalagi yang dampaknya nasional dan luas. Namun di saat kami bergerak dan operasi kami tidak diketahui mereka karena selalu tidak menggunakan atribut. T: Bagaimana saling mengenali saat di lapangan? J: Kami punya ciri-ciri sendiri dan ciri itu selalu berubah. Kalau Polisi, kami sering masih tahu begitu pun intel lain misalnya. Meski begitu, kami tetap mengedepankan manfaat untuk orang banyak dalam tindakan kami beraksi. Jadi walaupun dari segi materiil menguntungkan namun kalau nggak berguna untuk masyarakat secara keseluruhan buat apa? Tidak akan kami lakukan. Apalagi kalau tidak menyelamatkan malah mengorbankan orang banyak, lebih baik tidak. T: Ada yang menuduh Gus Dur kafir? J: Nah, inilah yang membuat kami kesal. Di dalam Islam jika kita menghakimi orang lain dengan tuduhan kafir itu artinya mengkafirkan diri sendiri. Begitu pun jika tuduhan itu dialamatkan pada umat yang beragama lain, nah ini dialamatkan pada Presiden kita yang juga Kyai. Ini bagaimana ? Kok bisa sampai mengatakan begitu! T: Pihak berwenang kesulitan untuk melucuti senjata laskar itu? J: Kalau melucuti senjata tajam mestinya aparat bisa. Apalagi jika itu mengancam keselamatan orang lain. Namun tampaknya aparat masih bertenggang rasa, serba salah jika dilucuti mereka akan dituduh tidak mendukung Jihad. Tapi jika hal itu sudah mengundang hal yang merugikan oranglain, ya berarti harus tegas. Kita akan bertindak untuk mengatasi masalah itu . T: Apa tidakan Pagar Nusa dalam masalah ini? J: Dalam bertindak ini kami mendahulukan, mana yang berguna untuk kemaslahatan. Jika memang diperlukan kami di Jabotabek mempunyai anggota 5000 pesilat yang terlatih, jadi kami akan mencoba untuk menekan pihak aparat atau jika perlu kami akan turun mengambil senjata tersebut. Kami akan melihat perkembangannya... Jika mau sombong-sombongan, kami semestinya yang membawa senjata, karena kami pesilat, tapi kami kan nggak melakukan hal itu. Kami menginginkan Islam itu tetap sebagai rahmatan lil allamin, dimana umat Islam membawa rahmat bagi siapapun. Entah berbeda ideologi maupun agamanya. Kami membolehkan Gus Dur dikritik, silahkan itu juga perlu untuk mengontrol. Tapi jangan menjelekkan apa lagi memfitnah kafir, ini yang kami nggak setuju. (*) - ----------------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ------------------ SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 Apr 2000 jam 22:42:28 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
