---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 13/III/17-23 April 2000 - -------------------------------------- BAU TINJA DI DUSUN MUNJUL (PERISTIWA): Mereka memang sudah menyerahkan senjata ke polisi. Tapi apa susahnya beli senjata lagi. Kenapa mereka dibiarkan saja? Setelah mendapat kecaman berbagai pihak dan keberatan dari warga sekitar lokasi latihan, Panglima laskar jihad Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Jaffar Umar Thalib akhirnya bersedia menyerahkan senjata pasukannya ke Polwil Bogor, Jumat (14/4) pagi. Keberadaan laskar jihad ini sejak awal memang sudah memunculkan kontroversi. Tak kurang Ketua Umum PBNU sendiri, KH Hasyim Muzadi, pun akhirnya menyatakan keberatan atas penggunaan nama Ahlus Sunnah Wal Jamaah --yang sejak dulu sudah menjadi identitas NU-- yang dipakai Laskar Jihad tanpa permisi. Menurut Hasyim, laskar jihad keliru memahami makna kata Ahlus Sunnah Wal Jamaah, yang seharusnya lebih menampakkan wajah moderat dalam hubungan antara agama dan negara. "Jangan sampai sesama umat beragama saling berhadapan," ancamnya. Penampilan laskar yang selalu mengenakan atribut khas ini memang cukup meresahkan masyarakat. Warga Dusun Munjul, Kayumanis, Kodya Bogor sendiri yang lingkungannya dipakai sebagai tempat latihan, sejak awal sudah merasa keberatan dengan keberadaan kelompok ini. Aliran sungai yang biasanya dipakai warga untuk keperluan sehari-hari tak lagi bisa digunakan karena penuh dengan limbah tinja manusia. Bau tak sedap pun merebak kemana-mana. Laskar jihad yang membangun kamp di atas tanah seluas 7500 meter persegi milik Hilal Thalib, kakak kandung Jaffar Umar Thalib, memang tidak menyediakan fasilitas sanitasi yang memadai. Warga desa juga merasa dirugikan, sebab tanpa alasan jelas, mereka memblokir akses jalan desa sehingga warga terpaksa memutar lebih jauh menuju ke tempat tujuan. Tapi warga desa tak bisa berbuat apa-apa. Mereka ketakutan. Jangankan warga desa, bahkan Komandan Koramil Tanah Sareal, Kapten Kaseran, yang kantornya persis bersebelahan dengan lapangan bola tempat anggota laskar tersebut dilatih, mengaku sama sekali tak pernah dihubungi pimpinan laskar. "Sekadar lapor pun tidak," katanya. Ia hanya bisa menyuruh kaum milisi itu menyingkir dari pandang matanya kalau sedang berlatih. Tapi, ya itu tadi, pihaknya pun merasa tidak mampu bertindak lebih jauh. Apalagi Dusun Munjul sebenarnya masuk wilayah Kodya Bogor, sementara Koramil yang dipimpinnya sebatas wilayah kabupaten Bogor. Memang sangat mengherankan. Laskar yang keberadaannya menebar teror di masyarakat tersebut, sejauh ini seolah tak tersentuh hukum. Bayangkan, mereka dengan seenaknya petentang-petenteng membawa pedang atau parang ketika mengadakan tablig akbar di Senayan. Padahal, UU Nomer 6/1955 (yang belum dicabut) jelas-jelas menegaskan larangan membawa senjata di muka umum. Bahkan mereka berani membawa senjata tersebut ketika berdemonstrasi ke istana. "Untung yang mereka hadapi Presiden Gus Dur. Coba waktu jamannya Soeharto, habis mereka," kata Budi, warga Pancoran, yang mengaku pendukung Gus Dur. Budi mungkin akan lebih marah, seandainya dia mendengar makian Laskar Jihad yang menyebut Gus Dur sebagai "Presiden sinting", komentar mereka setelah diusir dari istana. Yang gerah terhadap keberadaan laskar ini ternyata tak cuma warga biasa. Negara-negara Timur Tengah pun sudah menyatakan keberatannya atas penggunaan simbol-simbol Islam dan atribut Arab yang mereka gunakan. "Itu merusak citra negara-negara tersebut," kata Menteri Agama Tholchah Hasan. Tindakan laskar ini memang sudah keterlaluan. Tiga wartawan dari BBC, AFP dan seorang fotografer freelance yang mencoba meliput ke lokasi pelatihan pun sempat mengalami penganiayaan berat: dipukuli, mata ditutup, dan sebuah lubang digali (untuk kuburan mereka). Untunglah, peristiwa itu tak sempat berlangsung karena masih ada yang sadar dan membawa para wartawan itu ke polisi. Ironisnya, jangankan menyeret pelaku penganiayaan, polisi malah menyuruh para korban tersebut untuk tidak memperpanjang perkara. "Kami tak bisa menjamin keselamatan kalian," kata seorang polisi. Meskipun mereka sudah menyerahkan senjata ke polisi (agak mengherankan, senjata yang diserahkan cuma 487 pucuk, sementara mereka mengklaim ada sekitar 3 ribu anggota laskar yang dilatih), tak ada jaminan bahwa laskar jihad akan menghentikan aksinya. Jaffar Umar Thalib bahkan sudah berani memastikan, tanggal 29 April ini seluruh pasukan akan berkumpul di Kaliurang dan selanjutnya berkonvoi ke Surabaya. Dari kota ini lah mereka akan menyeberang ke Maluku. Jaffar memang pernah sesumbar,"Kalau kita ditolak dan dihadang di laut, kita siap bertempur, termasuk melawan TNI." Laskar jihad sudah menyampaikan tantangan secara terbuka. Beranikah TNI menghadang? (*) - ----------------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ------------------ SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 Apr 2000 jam 22:56:03 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
