---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 13/III/17-23 April 2000 - -------------------------------------- LANJUTAN PEMBERONTAKAN SEATTLE (POLITIK): Akhirnya, para pemimpin negara-negara miskin merapatkan barisan. Ujian pertama: menuntut penghapusan utang. Kuba, satu dari sedikit negara sosialis yang masih bertahan, kini jadi pusat perhatian. Negerinya Fidel Castro itu sedang mencatat sejarah. Di sini dan saat inilah untuk pertama kalinya, para pemimpin negara berkembang yang tergabung dalam Group 77 (G77) bertemu secara formal. Sejak didirikan pada tahun 1964, paling banter, pertemuan kelompok yang kini beranggotakan 133 negara itu hanya berlangsung pada tingkat menteri. Namun, menjelang pertemuan kali ini, sejumlah nama pemimpin "dunia selatan" seperti Yasser Arafat dari Palestina, Robert Mugabe dari Zimbabwe, Mahathir Mohamad dari Malaysia, Thabo Mbeki dari Afrika Selatan, Presiden Abdelazi Bouteflika dari Aljazair, Presiden Abdurrahman Wahid dari Indonesia serta sebagian besar pemimpin negara-negara Amerika latin telah menyatakan kesediaannya untuk hadir. Tak cuma itu, Sekjen PBB Kofi Annan juga menyempatkan diri berpartisipasi dalam pertemuan ini. Antusiasme para pemimpin dunia selatan untuk hadir dalam pertemuan ini sungguh fenomenal. Betapa tidak? Selama sekian tahun, posisi G77 dianggap tak lebih sebagai salah satu blok politik yang lemah di dalam Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Di masa berlangsungnya perang-dingin, dominasi dua ideologi besar sosialisme dan kapitalisme, menenggelamkan eksistensi G77. Amerika Serikat dan Uni Sovyet sebagai dua kutub besar kedua paham besar tadi, cenderung mengambil-alih peran sebagai juru bicara negara-negara yang berada di bawah pengaruhnya - --termasuk negara-negara miskin di dunia selatan yang terperangkap dalam polarisasi ideologi. Ketika perang dingin usai, di awal tahun 90-an, eksistensi negara-negara selatan justru tambah terpuruk, terutama karena kapitalisme tampil sebagai kekuatan tanpa pengimbang. Para pemilik modal pun melebarkan sayap, mengeruk keuntungan dari pasar yang besar di dunia selatan. Ekspansi ini memang membawa keuntungan pembangunan fisik yang pesat di sebagian negara selatan, tapi pada saat bersamaan juga muncul ekses lain, seperti ketergantungan terhadap utang luar negeri, kesen-jangan sosial seta kemiskinan massal. Inilah yang kemudian memuncak kurang dari sepuluh tahun setelah perang dingin usai, yaitu saat terjadinya krisis moneter tahun 1997 yang mengguncang dunia. Sialnya, kesadaran bahwa pola hubungan utara-selatan (baca: negara-negara kaya dan negara-negara miskin atau berkembang) sudah berjalan amat timpang, terlambat disadari negara-negara berkembang. Ini lantaran, para pemimpin lama di beberapa negara itu, memperoleh keuntungan dari hubungan kolutifnya dengan para pemberi pinjaman modal. Korea Selatan, Indonesia dan Thailand punya pengalaman sama: ketika rezim lama digantikan oleh rezim baru, saat itulah baru disadari betapa parahnya persoalan. Yang pertama kali memberi peringatan tentang situasi ini, justru bukan para pemimpin dunia selatan. Para aktifis LSM-lah yang lebih punya peran dalam hal ini. Dalam pertemuan tahunan WTO (World Trade Organization) yang berlangsung di Seattle, akhir tahun lalu, misalnya. Para pemimpin negara-negara selatan hadir tanpa punya sedikit pun kekuatan tawar-menawar (bargaining power). Yang membikin "rusuh" malah puluhan ribu aktifis LSM. Mereka menolak ketidakadilan, perusakan lingkungan dan pelanggaran hak asasi manusia. Pada saat itulah, mata dunia kembali terbuka dan menyadari "ketidakharmonisan" dalam pola hubungan utara-selatan. Sebelum pertemuan G77 ini, secara individual, beberapa negara selatan sudah mulai "protes" kecil-kecilan pada negara-negara utara - --misalnya, dengan adanya tuntutan penghapusan beban utang negara-negara miskin. Sejumlah negara Eropa sebetulnya, sudah menanggapi positif. Namun para pemodal besar seperti Jepang, dengan keras menolak. Hal ini yang justru memperkuat keinginan untuk mengadakan pertemuan antar negara selatan secara lebih terorganisir. Dalam konteks itulah, pertemuan G77 menjadi momentum yang amat penting (Menlu Kuba Perez Roque menyebutnya sebagai "lanjutan pemberontakan Seattle"). Dalam pernyataan menjelang pembukaan konferensi, Duta Besar Nigeria untuk PBB Arthur Mbanefo, selaku Kepala Pertemuan G77, menegaskan hal itu. "Kami menginginkan situasi yang memungkinkan dibatalkannya utang-utang (negara selatan -red.)," ujarnya. Menurutnya, saat ini, sejumlah negara terpaksa mengeluarkan dana dua kali lipat lebih besar dari biaya pemenuhan kebutuhan sosial, supaya dapat membayar cicilan utang. Karena itu ia amat berharap, pertemuan ini dapat menghasilkan "dokumen politik yang visioner" serta "program aksi" dengan tujuan dan jadwal yang jelas untuk kembali bertemu. Seberapa besar kemungkinan tuntutan negara selatan mendapat respon dari negara maju, belum dapat dipastikan. Namun, peluang untuk mendapatkan keringanan utang tentu saja terbuka dengan adanya "unjuk kekuatan" dari negara-negara selatan lewat pertemuan ini. Apalagi, sejak merebaknya krisis ekonomi Asia sampai ke negara maju, kesalingtergantungan dunia sudah makin terasa nyata. Negara-negara maju tentu tak ingin kehilangan pasar yang telah terlanjur dibuka di negara-negara selatan. Meskipun demikian, pertemuan G77 bukan tanpa risiko. Sejumlah negara berkembang yang masih tidak menghormati isu demokratisasi dan hak asasi manusia, mungkin saja menjadikan G77 sebagai tameng untuk menghadapi kecaman internasional terhadap situasi dalam negerinya (seperti diberitakan, pimpinan rezim militer Pakistan, Jenderal Pervaiz Musharraf juga ambil bagian dalam pertemuan itu). Bila terjadi begini, para anggota G77 harus kembali diingatkan bahwa yang menyatukan mereka bukanlah tali ideologis, tapi nilai-nilai universal. (*) - ----------------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ------------------ SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 Apr 2000 jam 23:21:12 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
