----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

PERISTIWA G30S MERUPAKAN BEBAN BAGI ANGKATAN DARAT

        JAKARTA, (TNI Watch!, 19/4/2000). Polemik soal pencabutan Tap No.
XXV/MPRS/1966, yang marak akhir-akhir ini, menimbulkan masalah
tersendiri bagi TNI, khususnya Angkatan Darat. Tentu saja, dengan
ramainya perdebatan soal Tap tersebut, itu memberi jalan bagi
terbukanya pintu sejarah mengenai peristiwa G30S tahun 1965.

        Bagaimana Angkatan Darat tidak resah, karena kini semakin terang saja
permasalahannya, bahwa pelaku utama G30S, tak lain dan tak bukan
adalah anggota Angkatan Darat. Jadi penulisan "resmi" yang selama ini
berlaku, yakni "G30S/PKI" harus diganti menjadi "G30S/TNI-AD".

        Sebenarnya selama ini masyarakat juga sudah mengerti, bahwa pelaku
utama G30S itu adalah Angkatan Darat. Cuma karena demikian kuatnya
manipulasi sejarah oleh rezim Soeharto, sehingga orang tidak berani
mengungkapkan, apa yang menjadi keyakinannnya. Dan rezim Soeharto
melarang keras, penelitian atau pengungkapan peristiwa G30S, di luar
versi yang resmi dari pemerintah. Jika ada yang berani mencoba-coba,
akan diberi tindakan keras, dan dianggap subversif.

        Ancaman terhadap pemikiran yang berbeda dengan versi resmi, bukan
gertak sambal. Banyak orang sudah merasakan realisasi ancaman
tersebut, seperti Ben Anderson, Bonar Tigor, Bambang Isti Nugroho, dan
Bambang Subono. Ben Anderson dicekal selama hampir 30 tahun. Soeharto
sangat kesal pada Ben Anderson, karena Ben yang mengungkap pertama
kali, bahwa "G30S" adalah gerakan dari Angkatan Darat, sedang PKI
hanya mengambil peran pinggiran. Kemudian Bonar Tigor dkk, ditahan
selama delapan tahun, hanya karena mengedarkan novel karya Pramoedya
Ananta Toer.

        Pernah di penghujung bulan September 1988, editorial Harian Merdeka
menyebutkan, bahwa peristiwa "G30S" masih diliputi mendung kelabu,
maka perlu ada penelitian seksama terhadap peristiwa itu. Kontan
Harian Merdeka mendapat teguran keras dari Menpen (saat itu) Harmoko.
Harian Merdeka memang tidak dibreidel, namun dua wartawan senior koran
tersebut, yang menjadi penanggung jawab editorial, harus dikeluarkan.

        Kini semuanya telah terbuka, pendapat-pendapat yang dulu hanya
disimpan di benak saja, sekarang boleh diungkapkan. Dari berbagai
pendapat yang muncul, kesimpulannya tetap saja mengarah pada satu
muara: peristiwa "G30S" adalah tindakan beberapa anggota Angkatan
Darat. Dan kini lebih terfokus lagi, bahwa "Dalang" gerakan itu adalah
Mayjen Soeharto, yang kemudian menjadi Presiden RI selama 32 tahun.

        Fakta yang mendukung teori "baru" itu, sebentar lagi akan terbit,
yaitu pledoi dari Kol Inf Abdul Latief. Pledoi itu secara gamblang
akan mengungkap keterlibatan Soeharto. Selain pledoi A Latief, juga
ada kesaksian-kesaksian lain yang mendukung teori keterlibatan
Soeharto, seperti dari Ibu Hartini Soekarno, Ibu Dewi Soekarno,
Laksamana Madya Udara Omar Dani, Jenderal Purn Benny Murdani, dan
Mayjen TNI Purn Mursyid. Suatu saat mereka akan bicara.  Kalau mereka
tidak bicara, apa yang sebenarnya mereka ketahui saat itu, kelak
mereka akan menanggung beban moril yang sangat berat. Karena turut
terlibat dalam "penipuan" sejarah sepanjang hidupnya.

        Sekarang kita paham, mengapa AD terkesan pasif, dalam menanggapi
polemik pencabutan Tap MPRS tersebut. AD cenderung mempertahankan
keberadaan Tap itu, karena AD berkepentingan  memelihara "misteri
sejarah" yang berlangsung selama ini.

        Adapun anggota AD, yang terlibat dalam "G30S", sebenarnya sebatas
anggota AD yang menjadi grup Soeharto, seperti Mayjen TNI Umar
Wirahadikusumah, Brigjen TNI Hartono Rekso Dharsono (Pak Ton), dan
Kolonel Sarwo Edhi Wibowo. Pada umumnya "anggota gerakan" sudah
meninggal, paling tinggal Pak Umar. Sebaiknya Pak Umar juga bicara,
mengenai kejadian yang sebenarnya. Untuk merehabilitasi namanya.

        Beberapa anggota kelompok Soeharto tersebut, secara kebetulan
memiliki anak atau kerabat, yang kini menjadi perwira di TNI. Sarwo
Edhi misalnya, memiliki putera yang kini juga bertugas di RPKAD
(Kopassus), yaitu Kol Inf Pramono Edhi Wibowo. Kemudian Umar
Wirahadikusumah memiliki keponakan yang menjadi Pangkostrad, yakni
Letjen TNI Agus Wirahadikusumah.

        Terhadap anak atau kerabat anggota kelompok Soeharto, kita harus
berlaku adil. Kita tidak bisa mengkait-kaitkan mereka dengan tindakan
bapak atau pamannya dulu. Dalam hal ini kita harus bersikap fair. Sama
dengan yang seharusnya diberlakukan pada anak-anak eks PKI. Tidak fair
rasanya, jika anak-anak (bahkan cucu) eks anggota PKI, juga turut
menanggung "dosa turunan", sebagaimana yang sekarang terjadi. Dan
tampaknya belum ada perubahan, meski jaman telah berganti. ***

_______________
TNI Watch! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku
TNI, dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan
ketentaraan para perwiranya, pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia
yang dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya.
Tujuannya agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi
bersama-sama.

- ------------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Apr 2000 jam 03:48:19 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke