----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, 25 April 2000

Negara Teluk akan Tingkatkan Investasi, Sebagai Bukti
Komitmennya kepada Indonesia

JAKARTA (Media): Para menteri luar negeri, menteri investasi,
dan kalangan bisnis dari enam negara Teluk ditambah Yaman dan
Iran serta tiga dari ASEAN akan bertemu di Jakarta pada 3-4 Mei
sebagai upaya meningkatkan investasi di Indonesia.

"Hal ini merupakan satu terobosan untuk mengajak para investor
dari negara-negara Teluk sehingga jangan ada kesan bahwa kita
hanya tergantung pada negara Barat maupun Jepang," kata Menlu
Alwi Shihab kemarin.

Alwi mengungkapkan hal tersebut sepulang dari Kuwait, Qatar,
Iran, dan Uni Emirat Arab. Rencana pertemuan itu muncul saat
pertemuan Dewan Menteri Indian Ocean Rim-Association for
Regional Cooperation di Oman, Januari lalu. Dalam pertemuan
tersebut, Alwi melihat keinginan untuk membantu pemulihan
ekonomi Indonesia hingga timbul ide memfasilitasi investasi
dengan mengadakan pertemuan tingkat menteri.

Mereka yang telah menyatakan akan hadir adalah enam negara Teluk
seperti Arab Saudi, Oman, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan
Kuwait ditambah Iran dan Yaman. Selain itu, tiga negara ASEAN
juga menyatakan bersedia datang yaitu Brunei Darussalam,
Malaysia, dan Singapura.

Alwi Shihab menyatakan selama ini negara Teluk kurang dekat
dengan Indonesia. Jakarta juga lebih sering berhubungan dengan
Dana Moneter Internasional (IMF) atau Bank Dunia. Menurut Alwi,
Indonesia seperti tergantung pada IMF atau Bank Dunia karena
mereka yang lebih dulu mengulurkan tangan.

"Pada saatnya nanti, jika Abu Dhabi Fund mau memberikan US$60
miliar kepada Indonesia, maka pada saat itulah Indonesia akan
mengatakan ya. Untuk sementara kita pakai ini dulu dan kita
goodbye dulu kepada World Bank," kata Alwi memberi contoh. "Yang
penting, mereka ini akan datang dan bertemu di Indonesia untuk
menunjukkan komitmennya bahwa kami, dari Gulf countries tidak
meninggalkan Indonesia di saat yang sulit."

Dalam pertemuan yang rencananya dibuka oleh Presiden Abdurrahman
Wahid itu akan hadir Menko Ekuin dan Menperindag sebagai
pembicara. "Kalau bisa Pak Amien Rais dan Pak Akbar Tandjung
juga ikut berbicara karena baik kita berbicara tentang ekonomi
atau politik, persepsi itu sangat penting," kata Alwi. "Kalau
persepsi itu kurang positif, maka itu akan mempengaruhi
investor."

Dalam beberapa pekan terakhir muncul isu akan adanya impeachment
yang membuat seolah Indonesia akan kembali berganti pemimpin.
Alwi mengeluhkan sikap para politisi yang membuat Indonesia
berkesan tidak stabil. "Memang kita sayangkan bahwa ada
pernyataan yang membuat kesan indonesia itu tidak stabil," kata
Alwi. Ia meminta, "Kita di dalam negeri diharapkan supaya
menciptakan suasana yang kondusif. Yang suka demonstrasi
dikurangi dan yang suka ngojok-ojok demonstrasi dikurangilah."

Sementara itu, Menteri Perindustrian dan Perdagangan
(Menperindag) Jusuf Kalla menegaskan pemerintah telah berupaya
memberi iklim kondusif untuk menarik minat investasi asing ke
Indonesia. Apalagi kondisi pemulihan ekonomi pascakrisis telah
berada pada posisi yang diharapkan.

"Kita memang butuh investasi masuk ke Indonesia untuk
mempercepat keluar dari krisis, karena itu pemerintah terus
berupaya memberikan iklim yang sehat bagi penanaman modal," kata
Jusuf kepada pers di Jakarta kemarin.

Menperindag berharap investor asing segera memanfaatkan peluang
yang diberikan pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan
Nasional (BPPN) dengan membeli aset-aset industri yang dikuasai
lembaga pemerintah tersebut.

Menurutnya, upaya pemulihan ekonomi akan semakin cepat jika
investor asing membeli aset-aset industri yang sudah ada
daripada membangun proyek baru. "Mengapa tidak memanfaatkan atau
memperbesar kapasitas industri yang ada, kan lebih cepat
menguntungkan daripada membangun industri baru," ujar Jusuf.

Meski demikian, pihaknya tidak bermaksud menghalangi investor
asing membangun proyek baru. Jusuf menambahkan Indonesia
memerlukan waktu yang lebih cepat untuk keluar dari krisis dan
hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan kapasitas industri
berorientasi ekspor yang sudah ada.

Berkaitan dengan upaya menarik minat investor asing, Ketua Kadin
bidang Investasi Bambang Sujagad berharap pemerintah mampu
membuat peraturan yang dapat menjadi pedoman bagi pemerintah
daerah agar kebijakan investasi tidak semakin membebani investor
asing.

Harapan ini seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah mengingat
pemda akan memiliki kewenangan penuh dalam perizinan maupun
pengembangan industri di wilayahnya, termasuk penetapan pajak.

"Bagaimanapun pemerintah pusat harus memiliki ketentuan baku
agar setiap daerah ada keseragaman kebijakan, khususnya
menyangkut pajak," kata Bambang.

Kadin khawatir jika peraturan investasi tidak konsisten antara
pusat dan daerah akan mengurangi daya tarik Indonesia sebagai
lahan investasi yang menarik di ASEAN.

Apalagi perizinan investasi di Indonesia sampai kini belum satu
atap ({one stop services]) sehingga investor merasa terbebani
dua kali, dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Karena itu, tegas Bambang, upaya menarik investor harus segera
dilaksanakan dengan menghilangkan ketidakpastian peraturan
selain memperbaiki masalah keamanan serta mengakui keputusan
arbitrase dan pengadilan kepailitan internasional.

Diingatkan pula, gangguan keamanan yang dulu lebih disebabkan
politik kini sudah bergeser ke masalah sosial seperti tuntutan
gaji pegawai dan buruh. "Hal-hal seperti ini harus menjadi
perhatian serius jika ingin menarik investor," kata Bambang.

Bambang Sujagad juga menilai pendekatan pemerintah dalam
mempromosikan investasi Indonesia salah karena hanya
mengetengahkan masalah peraturan saja. Padahal promosi investasi
sekarang harus dilakukan dengan membeberkan bagaimana tantangan,
potensi, dan prospek serta pemasaran. (Nur/Uut/E-2)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 26 Apr 2000 jam 06:48:32 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke