---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- PURNAWIRAWAN TIDAK BERMANFAAT BAGI TIM PENYIDIK JAKARTA, (TNI Watch! 26/5/2000). Dalam tim penyidik kasus pelanggaran HAM di Timor Timur yang baru-baru dilantik oleh Jaksa Agung Marzuki Darusman, dalam jajaran Tim Ahli-nya terdapat dua nama jenderal purnawirawan, yaitu Letjen TNI Purn Bambang Triantoro dan Letjen TNI Purn Hasnan Habib. Adakah keberadaan mereka akan memberi manfaat bagi tim penyidik? Walaupun mereka sudah purnawirawan sejak 15 tahun yang lalu, namun dikhawatirkan sikap mereka tetap bias (bimbang) terhadap TNI. Mereka berasal dari Angkatan Darat, sementara perwira yang akan disidik, adalah "adik-adik" mereka yang juga berasal dari Angkatan Darat. Meski Bambang Triantoro dan Hasnan Habib termasuk purnawirawan reformis, namun kalau berhadapan dengan AD, belum tentu sekritis yang kita harapkan. Karena yang bakal "diserang" oleh Tim Penyidik tersebut adalah perwira-perwira dari Angkatan Darat. Sekiranya purnawirawan tersebut, bakal merepotkan kerja tim, sebaiknya dari sekarang saja keanggotaan mereka dalam Tim ditangguhkan. Bisa diganti dengan purnawirawan lain yang lebih kredibel, dan juga memiliki pengalaman di Timtim, seperti mantan Danjen Marinir Letjen (Mar) Purn Kahpi Suradiredja. Masih ada lagi purnawirawan lain, yang juga kurang memberi manfaat bagi institusi, di mana ia bergabung. Purnawirawan dimaksud adalah Mayjen TNI Purn Sjamsudin dan Mayjen TNI Purn Sugiri di Komnas HAM. Keberadaan mereka berdua di Komnas HAM benar-benar merupakan beban, karena peran mereka kecil sekali di sana. Bagaimana mungkin mereka memberi sumbangan, kalau wawasan mereka soal HAM sangat minim. Mayjen TNI Syamsudin bahkan pernah memberi komentar yang fatal soal usulan pencabutan Tap. XXV/MPRS/!966, dalam sebuah acara Talk Show di stasiun televisi swasta. Ia berkomentar yang intinya begini, kita bisa mengadakan rekonsiliasi, kecuali dengan golongan komunis. Bagaimana komentar sebodoh itu bisa keluar dari seorang anggota Komnas HAM. Sikap yang ditunjukkan Mayjen TNI Purn Sugiri, yang lebih banyak diam, mungkin lebih baik, ketimbang berkomentar tapi tidak bermutu. Peran yang sangat minim dari Syamsudin terlihat pada inerja KPP HAM Tanjung Priok, yang sejak bekerja hampir dua bulan lalu, tidak menunjukkan kemajuan berarti. Mungkin banyak yang belum paham, bahwa keanggotaan Syamsudin dan Sugiri di Komnas HAM, lebih dilihat sebagai jabatan, bukan tempat untuk mengabdi, dengan hati yang tulus. Jadi wajar saja kalau semangat mereka dalam bekerja, sangat rendah. Dan kita sama-sama tahu, tentara itu pada umumnya kurang suka membaca atau meneliti, paling-paling mereka hanya baca koran. Itu sebabnya daya investigasi mereka lemah. KPP HAM Tanjung Priok agak giat bekerja, hanya karena tiap hari "ditongkrongi" Dewi Wardah Biki dan korban peristiwa Tanjung Priok lainnya. *** _______________ TNI Watch! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku TNI, dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan ketentaraan para perwiranya, pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya. Tujuannya agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi bersama-sama. - -------------------------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Apr 2000 jam 09:47:14 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
