---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Antara, 7 Mei 2000 PENGUNGSI TIMTIM PULANG "GENGGAM" SEMANGAT "MERAH PUTIH" Atambua, NTT, 7/5 (ANTARA) - Pengungsi di berbagai tempat penampungan di NTT atau Timor "Barat" yang telah kembali ke kampung di Timor Timur tetap mencintai Indonesia , kata mantan pimpinan Pasukan Pejuang Integrasi dari Kelompok "Laskar Merah Putih" Olivio Moruk. "Sudah banyak orang Timtim yang pulang tetapi tetap `menggenggam` semangat kecintaan terhadap Bangsa Indonesia dan tidak membawa senjata. Semangat `Merah Putih` itu tetap tertanam mendalam dalam diri orang Timtim prointegrasi," katanya di Atambua, Minggu. Namun perjuangan warga prointegrasi tersebut di bumi Lorosae bukan dengan menggunakan cara kekerasan apalagi mengendalikan kekuatan senjata. Perjuangan yang dilakukan warga prointegrasi adalah melalui jalur diplomasi politik, dengan tujuan merebut kembali hak-hak orang Timtim atas tanah kelahirannya. "Orang asli Timtim yang berhak atas tanah Timtim dan bukan `Barat` serta keturunan Portugis di Timtim. Maka perjuangan memperoleh hak itu yang terus dilakukan," ujar mantan Komandan Batalyon "Laskar Merah Putih" dari Covalima, sekitar 280 kilometer selatan Kota Dili itu. Warga Timtim terpaksa mengungsi ke Timor "barat" setelah UNAMET (Misi PBB di Timtim,red) pada 4 September 1999 mengumumkan hasil jajak pendapat otonomi luas dimenangkan kelompok antiintegrasi. Penolakan rencana pemberian status otonomi luas oleh sebagian besar masyarakat Timtim melalui jajak pendapat mengakibatkan daerah itu terpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menyiapkan diri menjadi negara merdeka serta berdaulat. Sekitar 250.000 penduduk Timtim meninggalkan kampung halamannya karena terjadi aksi kerusuhan di daerah itu. Namun sejak Oktober 1999 Badan PBB untuk urusan pengungsi (UNHCR) membantu pengungsi untuk pulang ke tanah airnya. Kepulangan orang Timtim itu bukan karena adanya unsur paksaan dari pihak mana pun juga , melainkan atas pilihan sendiri. "Tidak ada yang memaksa orang Timtim kembali ke kampung halamannya, tetapi pilihan secara sukarela. Meski memilih pulang tidak berarti tidak cinta terhadap Indonesia," katanya. Apalagi, katanya, setelah pengumuman hasil jajak pendapat itu, Timtim dikuasai bangsa asing yang tergabung dalam UNTAET (Pemerintahan peralihan PBB di Timtim,red), sehingga muncul kebangkitan semangat prointegrasi untuk membela tanah airnya. Ia mengatakan, kecintaan orang asli Timtim terhadap Bangsa Indonesia tetap tertanam karena selama 23 tahun daerah itu berintegrasi dengan NKRI telah terjadi berbagai kemajuan kehidupan masyarakat setempat. Namun rekayasa masyarakat internasional melalui jajak pendapat itu telah mengakibatkan Timtim berpisah dari kesatuan dengan rumpunnya yakni Bangsa Indonesia, demikian Olivio Moruk. (F.PA02PA03/B/ru3/ 7/05/:0 11:08 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 9 May 2000 jam 06:40:03 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
