---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Media Indonesia, 9 Mei 2000 Aspirasi Rakyat Papua Tetap dalam NKRI JAKARTA (Media): Pemimpin besar bangsa Papua Theis Hiyo Eluay dan Tom Beanal mengatakan pihaknya segera menyelenggarakan Kongres Papua dengan agenda mencari solusi terbaik soal Provinsi Irian Jaya ini. "Pada kongres ini kemungkinan bisa diambil keputusan soal posisi Irian Jaya," kata Theis Hiyo Eluay kepada pers, di Jakarta, kemarin. Theis dan kawan-kawan di Jakarta untuk mensosialisasikan hasil- hasil Musyawarah Besar (Mubes) Papua 2000 yang diselenggarakan masyarakat Irian Jaya yang kini lebih senang menyebut dirinya Papua. Theis mengatakan Mubes Papua, 23-26 Februari lalu memberikan mandat kepada Presidium Dewan Papua menyelenggarakan Kongres Papua, 29 Mei mendatang. Menurut dia, pasca kejatuhan Orde Baru, aspirasi politik rakyat Papua kini bermuara pada pilihan- pilihan. Tentu saja, pengungkapan aspirasi politik rakyat Papua itu dilakukan secara damai, tanpa kekerasan serta sesuai sopan santun adat. Semangat seperti itulah yang mengilhami diselenggarakannya Mubes Papua 2000. Di ajang itu juga rakyat berkesempatan menyalurkan aspirasi politiknya secara wajar, demokratis, adil, dan bertanggung jawab. Menurut Theis, aktualisasi perjuangan bangsa Papua sejak semula sudah diletakkan di atas prinsip dasar damai dan pelurusan sejarah. Prinsip ini mengedepankan pendekatan dialogis atau wacana demokrasi. Persoalannya, di lapangan keinginan menyelenggarakan Kongres Rakyat Papua tak mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Paling tidak, dalam sebuah seminar di Jakarta, awal Mei lalu, desakan agar pemerintah, terutama Presiden Abdurrahman Wahid tidak perlu menghadiri kongres tersebut. Desakan tersebut antara lain datang dari Ketua PBNU Solahuddin Wahid, adik kandung Gus Dur, yang kebetulan menjadi penasihat Komite Bantuan Kemanusiaan Akibat Tindak Kekerasan. Saat ini lembaga tersebut sedang menangani empat wilayah --Aceh, Kalimantan Barat, Maluku, dan Irian-- yang saat ini sedang `bergolak` akibat kekerasan. Seperti dijelaskan Bahaudin Tonti, Koordinator Sub-Komisi Bantuan, lembaganya menaruh perhatian terhadap pendidikan di daerah-daerah tersebut. Antara lain dari aktivitas di lapangan, khususnya di Irian itulah Solahuddin Wahid dan Bahaudin Tonti Cs, menangkap aspirasi murni masyarakat Irian tersebut, yang ingin tetap dalam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). "Sebaiknya, Gus Dur mengurungkan niatnya membuka Kongres Rakyat Papua itu. Acara itu tidak mewakili seluruh aspirasi rakyat Papua. Lebih banyak yang ingin tetap dalam Republik Indonesia," kata Solahuddin Wahid dalam sebuah acara, di Jakarta, 1 Mei lalu. (Win/NA/P-2) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 10 May 2000 jam 11:05:54 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
