----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

KITA DUKUNG GEBRAKAN KSAD MENGHAPUS BABINSA DAN KORAMIL

        JAKARTA, (TNI Watch! 11/5/2000). Secara perlahan KASAD Jenderal
Tyasno Sudarto mulai melakukan reformasi internal dalam tubuh Angkatan
Darat. Kali ini yang akan dilikuidasi adalah institusi Babinsa
(Bintara Pembina Desa). Rencana itu dikatakan KASAD dalam kunjungan
kerjanya, ke Kodam IV/Diponegoro, beberapa waktu lalu. Kabar terakhir
juga menyebutkan, institusi Koramil juga akan dilikuidasi.

        Babinsa merupakan salah satu bentuk intervensi militer dalam
kehidupan kemasyarakatan. Terlebih di pedesaan, aparat Babinsa
merupakan figur yang menyeramkan. Ia berlaku sebagai "penegak hukum"
otoriter, yang bisa menentukan seseorang bersalah atau tidak.

        Kita maklum, alam pikiran masyarakat pedesaan kita masih sederhana.
Pada umumnya mereka adalah orang lugu, dan pengetahuan politiknya juga
terbatas, maka keberadaan Babinsa untuk mengawasi kegiatan di pedesaan
sungguh berlebihan. Bisa dilihat kenyataan di lapangan, keberadaan
Babinsa juga tidak menekan angka kriminalitas, sebagaimana yang
terjadi di wilayah jabotabek. Bahkan yang lebih sering terjadi,
Babinsa terlibat dalam tindak kriminal di desa, seperti beking judi
atau skandal dengan perempuan setempat.

        Langkah KASAD melikuidasi Babinsa dan Koramil, merupakan wujud
kongkret dari upaya menghapus peran sospol dari TNI. Peran sospol ini
berlangsung sangat intensif di era Orde Baru. Karena Soeharto dalam
mempertahankan kekuasaan, ia menggunakan cara kekerasan, dengan
menggunakan TNI sebagai "buldosernya".

        Memang agak sulit untuk menghapus karakter kekerasan pada TNI, baik
sebagai institusi maupun perorangan. Contohnya adalah perilaku Babinsa
itu sendiri, yang lebih merupakan monster bagi warga, ketimbang
sebagai pelindung atau penegak hukum.
Mengingat itu, kita perlu tetap waspada pada TNI, yang setiap saat
siap menggunakan cara kekerasan untuk mencapai tujuannya. Itu
dikaitkan dengan kabar santer tentang rencana Gus Dur untuk mundur
sebagai Presiden, bulan September nanti. Kalau  isu tersebut benar,
ini pertanda gawat. Karena TNI bisa memanfaatkan situasi, untuk
kembali berkuasa, kalau perlu dengan cara kekerasan. Jika TNI kembali
berkuasa, sia-sialah perjuangan kawan-kawan mahasiswa, yang telah
berkorban nyawa, untuk mencapai masyarakat yang demokratis.

        Kini TNI telah kembali ke fungsi pokoknya, sebagai penjaga
pertahanan, bukan lagi "penjaga" sospol. Sehubungan dengan itu,
bintara atau babinsa harus kembali ke pasukan. Dan peran mereka bisa
dioptimalkan di pasukan. Sebagaimana ditulis Letjen Agus
Wirahadikusumah dalam salah satu bukunya, bahwa bintara merupakan
penterjemah kebijakan pimpinan satuan di lapangan. Terlebih bagi
bintara senior, biasanya kemampuan teknisnya bisa lebih tinggi dari
perwira muda. Kinerja sebuah satuan tempur, bukan hanya tergantung
pada unsur pimpinan (perwira), tapi juga pada peran bintara.

        Keberadaan institusi seperti Babinsa atau Koramil, agaknya lahir dari
asumsi yang keliru dari para penguasa masa itu. Para penguasa Orde
Baru berasumsi, bahwa rakyat itu bodoh, jadi tidak bisa mengatasi
masalahnya sendiri. Untuk itu perlu diadakan Babinsa dan Koramil,
untuk "mengurus" masyarakat. Padahal pada kenyataannya aparat Babinsa
dan Koramil, dalam kesehariannya lebih banyak menganggur. Pada jam
kerja, antar aparat hanya saling ngobrol kesana-kemari tak tentu arah,
atau bermain catur. Dengan melihat kegiatan Babinsa dan Koramil dari
hari ke hari, itu merupakan cerminan, betapa rendahnya kualitas sumber
daya manusia di  negeri kita. ***

_______________
TNI Watch! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku
TNI, dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan
ketentaraan para perwiranya, pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia
yang dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya.
Tujuannya agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi
bersama-sama.

- ----------------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 12 May 2000 jam 12:07:50 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke