---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 16/III/15-21 Mei 2000 - ---------------------------------------- EKONOMI MAJU ATAU MUNDUR, SIH? (EKONOMI): Rupiah merosot, tapi ekonomi makro diberitakan membaik. Baik-buruk ekonomi Indonesia, tergantung siapa yang menilai. Para ekonom dalam negeri jengkel setengah mati. Apalagi kalau bukan karena ulah Gus Dur yang mengutak-atik tim Ekuinnya dan melontarkan berbagai pernyataan yang bikin mereka "jantungan". Melorotnya nilai rupiah pun dianggap dampak langsung ulahnya. Apalagi, pada hari Kamis lalu (11/5) rupiah jatuh pada nilai terendah Rp8.420 per dolar AS. Rekor terburuk sejak Gus Dur jadi presiden, tahun lalu --kendati masih lebih baik ketimbang di masa Habibie. Tunggu dulu, benarkah separah itu perekonomian kita? Aneh bin ajaib, menurut Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank, ADB), secara makro, perekonomian Indonesia justru sedang bangkit. Dalam laporannya, yang dikeluarkan pada 4 Mei lalu --setelah Gus Dur mencopot Laksamana Sukardi dan Jusuf Kalla--, ADB menyimpulkan bahwa Indonesia sedang bangkit dari krisis dan sekarang sedang berada dalam proses perbaikan. Kendati menurut ADB masih terdapat ketidakpastian yang dapat membuat rapuh proses ini, namun secara garis besar recovery telah dimulai sejak akhir tahun lalu dan masih berlangsung hingga sekarang. "Kontraksi ekonomi Indonesia sudah melewati dasarnya, dan sekarang mulai bangkit kembali," tulis ADB. Proses perbaikan ekonomi ini dimulai dari sektor pertanian, yang kemudian menjalar pada sektor-sektor yang lain, ungkap ADB. Hal ini bisa terjadi, karena stabilitas makro ekonomi dinilai cukup baik. Inflasi pun kini hanya berkisar pada angka 1,9%, dibandingkan dengan 78% tahun lalu. Menurunnya inflasi ini, menurut ADB disebabkan karena menurunnya harga-harga makanan, apresiasi nilai rupiah dan kebijakan uang ketat yang dijalankan pada masanya. Ditambah lagi dengan suku bunga yang menurun dan peningkatan ekspor dalam bulan-bulan terakhir yang membuat rapor Indonesia makin baik di level kebijakan ekonomi makro. Ramalan ADB, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 4%-5% tahun ini. Dengan perkiraan yang optimis itu, ADB berencana meneruskan komitmennya mencairkan pinjaman sebesar US$1 milyar pada Indonesia, yang US$200 juta diantaranya sudah lebih dulu dicairkan. Dari dalam negeri, Bank Indonesia 10 Mei lalu juga mengungkapkan berita positif tentang perbankan Indonesia yang mengalami kemajuan. Kebanyakan bank di sini, menurut BI, kini mencatat pendapatan sebelum pajak lebih besar dibanding waktu sebelumnya. Total kredit macet pun mengalami penurunan. "Kepercayaan publik pada bank dalam negeri juga mengalami peningkatan," ujar Direktur Riset dan Regulasi BI Djoko Sarwono. Itu terlihat dari melonjaknya simpanan pihak ketiga di bank dalam negeri menjadi Rp705,7 trilyun per 31 Maret 2000 dibanding Rp690,8 trilyun bulan sebelumnya. Pada saat bersamaan pendapatan sebelum pajak meningkat menjadi Rp2,2trilyun dari sebelumnya, Rp700 milyar. Lantas, baik atau tidak sih perekonomian kita ini? Tak gampang menjawabnya. Kalau ukurannya pertumbuhan ekonomi, barangkali iya - --kendati peningkatan itu belum tentu dirasakan rakyat. Tapi, kalau ukurannya kesejahteraan rakyat, ya jelas belum ada apa-apa. Dalam periode pemerintahan Gus Dur yang baru enam bulan, mungkin kurang bijaksana untuk menggunakan ukuran itu. Namun, setidaknya, bila menggunakan ukuran menurunnya inflasi --yang dampaknya langsung dirasakan rakyat--, bolehlah mengklaim ada sedikit kemajuan. ADB tentu saja memiliki kepentingan tertentu dengan laporannya itu. Bagaimanapun kedudukan Indonesia yang strategis di Asia, amat diperhitungkan ADB serta para pelaku utama kapitalisme internasional. Kekacauan ekonomi Indonesia --yang saat ini sedang dipimpin oleh seorang bervisi pluralis yang disukai barat-- pasti akan mempengaruhi negara-negara sekitarnya. Bagi dunia barat, mempertahankan Gus Dur yang bisa "berteman" dengan mereka adalah lebih baik, ketimbang menghadapi risiko ketidakstabilan politik regional Asia. Sehingga, wajar bila mereka lantas sengaja "membagus-bagusi" perekonomian Indonesia di bawah Gus Dur. Posisi Indonesia yang penting ini, digambarkan dengan tepat oleh harian The Washington Post (8/5). Harian itu menyamakan Indonesia dengan sedikit "negara-negara kunci" bagi perkembangan demokrasi dunia, seperti: Nigeria dan Afrika Selatan di Afrika, Kolombia di Amerika Selatan, serta Ukraina dan Polandia di Eropa Timur. "Di Asia Tenggara, yang sedang mengalami ujian adalah Indonesia, negara keempat terbesar di dunia. Indonesia kini menghadapi banyak pertanyaan yang sama dalam proses transisi demokrasi, misalnya: apakah sipil dapat mengendalikan prilaku politik militer; Bagaimana meminta pertanggungjawaban rezim lama terhadap pelanggaran HAM; serta menyeimbangkan reformasi politik dan ekonomi --dan memastikannya berjalan bersama dalam sebuah negara demokrasi," tulis harian itu. Amat mungkin, penilaian ADB soal ekonomi Indonesia tak lepas dari bias. Mereka yang menilai baik-buruk ekonomi Indonesia hanya dari fluktuasi nilai rupiah mungkin juga tak bebas dari bias --misalnya, bias dari kepentingan lawan politik Gus Dur. Menkeu Bambang Sudibyo dari Poros Tengah bilang rupiah merosot karena faktor "non-ekonomi" sedang perwakilan Bank Dunia Jakarta berpendapat, ketidakjelasan program ekonomi dan faktor eksternal jadi sebab. Entah mana yang benar. Itu artinya, menilai baik-buruk ekonomi Indonesia tak bisa dengan hanya bercermin pada fluktuasi nilai rupiah yang sesaat. Apalagi, sembarang mengganti Tim Ekuin dengan "orang-orang dekat" yang tak jelas kualitasnya. Bagaimanapun kita masih belum bebas dari jeratan utang. (*) - ------------------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - -------------------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 May 2000 jam 10:40:57 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
