----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Perlu Segera RUU Otonomi Khusus Papua.
Sejumlah Negara Tolak Hasil KRP

Media Indonesia - Umum (6/9/00)

TOKYO (Media): Pemerintah Australia, Jepang, Filipina, dan
Malaysia mendukung keutuhan wilayah RI dan menolak upaya
pemisahan Papua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pernyataan itu keluar dari empat kepala negara, masing-masing
dari Perdana Menteri Australia Jhon Howard, Perdana Menteri
Malaysia Mahathir Muhammad, Perdana Menteri Jepang Yoshiro Mori,
dan Presiden Filipina Yoseph Estrada setelah secara terpisah
bertemu Presiden Abdurrahman Wahid di Imperial Guest House Tokyo,
kemarin.

Pertemuan Gus Dur-Howard, seperti dilaporkan wartawan Media Imam
Anshori Saleh dari Tokyo, tadi malam berlangsung sekitar 45
menit.

"Pertemuan itu bisa dikatakan sebagai mencairkan kebekuan yang
ada selama ini antarkedua negara," kata Menlu Alwi Shihab yang
mendampingi pertemuan Gus Dur dengan Howard.

PM Howard sendiri dalam jumpa persnya tadi malam menyatakan
mendukung pemerintah Indonesia yang menolak hasil Kongres Rakyat
Papua (KRP) yang menyatakan merdeka. "Kami mendukung integritas
teritorial negara RI sepenuhnya," kata Howard. Dia juga menolak
adanya anggapan bahwa negerinya ada di belakang gerakan
separatisme Papua.

Dalam pertemuan itu, PM Australia kembali mengharapkan agar
Presiden RI dapat segera berkunjung ke negerinya, seperti
dinyatakan Gus Dur sebelumnya. Namun kepada Howard, Gus Dur belum
dapat memastikan kapan ke Canberra dengan alasan kunjungannya ke
Negeri Kanguru itu belum dapat persetujuan dari DPR dan
masyarakat Indonesia.

Masalah Papua selain menjadi fokus pembicaraan antara Presiden
Abdurrahman Wahid dan Howard siang kemarin juga menjadi
pembahasan dengan Perdana Menteri Yoshiro Mori beberapa saat
setelah Kepala Negara yang didampingi Ibu Shinta Nuriyah
Abdurrahman Wahid beserta rombongan tiba di Bandara Haneda,
Tokyo.

Dalam pertemuan dengan PM Mori yang berlangsung sekitar 10 menit
itu Gus Dur didampingi oleh Menlu Alwi Shihab, Mendiknas Yahya A
Muhaimin, Menhutbun Nurmahmudi Ismail, Ketua DPUN Sofjan Wanandi,
dan Duta Besar RI di Tokyo Soemardi Brotodiningrat. Yoshiro Mori
dalam pembicaraan itu menyatakan tetap menghormati kesatuan
teritorial RI.

"Pemerintah Jepang tidak mengakui pemisahan Papua atas wilayah
RI," kata Mori sebagaimana dikutip Menlu Alwi Shihab.

Pemerintah Jepang, lanjut Mori, tidak akan goyah dalam memberikan
pengakuan terhadap Negara Kesatuan RI, walaupun ada upaya
memisahkan diri seperti yang terjadi di daerah Aceh, Papua, dan
sebagainya.

Presiden Filipina Joseph Estrada juga tetap mengakui keutuhan
wilayah RI. Demikian juga Perdana Menteri Malaysia Mahathir
Muhammad tadi malam menyatakan dukungannya terhadap usaha
pemerintah RI untuk mencegah gerakan separatisme termasuk di
Papua.

RUU Papua

Di Jakarta, DPR minta pemerintah untuk segera mengajukan RUU
tentang Otonomi Khusus Irian Jaya yang secara konkret
menggambarkan perimbangan keuangan pusat dan daerah yang lebih
adil. Dalam hal ini porsi Irian Jaya harus lebih besar sebagai
kompensasi ketidakadilan yang diperlakukan terhadap Irian selama
beberapa puluh tahun.

Anggota Komisi VIII DPR-RI Samson S mengemukakan itu seusai
komisinya mengadakan raker dengan tiga menteri terkait dengan
otonomi daerah yakni Mendagri, Menteri Otonomi Daerah, dan
Menteri Pertambangan.

Ramson mengatakan, gejolak yang muncul di wilayah itu akibat
ketidakadilan yang diperoleh di masa lalu. Karena itu, solusi
yang diberikan haruslah tindakan konkret dan bukan janji yang
tidak jelas.

Karena itu, tambahnya, RUU tentang Otonomi Khusus Papua yang
diamanatkan GBHN 1999, haruslah memuat tindakan konkret termasuk
besarnya subsidi individu yang bisa diperoleh rakyat Papua. Hanya
dengan cara itu mereka bisa tahu, dalam kurun waktu tertentu dan
pasti mereka mencapai sesuatu tahap tertentu dalam tingkatan
kesejahteraan.

Sedangkan parpol internasional Syabab Hizbut Tahrir Indonesia
menuntut pemerintah mengambil langkah-langkah politik dan
mengutuk segala bentuk campur tangan asing yang memprovokasi
rakyat Irian Jaya untuk memisahkan diri dari wilayah Indonesia.

"Bila perlu dengan langkah-langkah militer," kata Wakil Ketua
Syabab Hizbut Tahrir M Al Khaththath.(Win/Ant/P-5)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 14 Jun 2000 jam 08:33:48 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke