---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 20/III/12-18 Juni 2000 ================================================ PERDAMAIAN KUCING DAN ANJING (POLITIK): Pertemuan Gus Dur-John Howard tak jamin ketegangan antar 2 negara menurun. Mesti ada upaya hentikan kegiatan mata-mata Australia di Indonesia. Akhirnya, Presiden Abdurrahman Wahid dan Perdana Menteri John Howard bertemu muka. Banyak pihak berharap pertemuan yang berlangsung di sela-sela upacara pemakaman mantan PM Jepang Keizo Obuchi di Tokyo (8/6) ini akan mengawali hubungan baik antara dua negara besar, Indonesia dan Australia yang saling bertetangga. "Pertemuan ini sangat positif, kami berdua sepakat untuk lebih memfokuskan ke masa depan dan melupakan masa lalu," ujar Howard. Gus Dur juga memberi komentar senada. Menurut Gus Dur, perdamaian antara Indonesia, Australia dan Timor Leste amat penting, mengingat ketiganya merupakan jangkar yang bakal menentukan stabilitas kawasan sekitarnya. "Karena itulah, kami mempunyai tugas untuk saling bersikap baik satu sama lain, saling bersahabat," ujar Gus Dur. Apakah pertemuan ini benar-benar akan menjadi awal hubungan yang lebih harmonis antara kedua negara atau sekedar basa-basi di negeri orang, belum diketahui secara pasti. Baru beberapa waktu lalu, hubungan Australia dan Indonesia terlihat amat "tegang" --bahkan Gus Dur sempat menuduh pemerintah Australia "kekanak-kanakan"-- sebagai imbas keterlibatan aktif Australia memimpin pasukan PBB, Interfet bulan September tahun lalu, dengan dalih menghentikan kerusuhan di Timor Leste pasca referendum. Itu sebabnya, ada keraguan terhadap pertemuan di Tokyo yang sama sekali tak menyinggung berbagai hal penting secara spesifik (lagipula, Gus Dur, bila berada di luar negeri, selalu memberi kesan Indonesia adalah negara yang sangat cinta damai dan pro-aktif --beda saat ia berbicara di dalam negeri). Kecurigaan terhadap Australia, justru pertama kali dikemukakan Menlu Alwi Shihab sehari sebelum bertemu dengan PM John Howard. Hal itu berkaitan dengan kehadiran orang-orang Australia dalam Kongres Rakyat Papua yang berakhir dengan deklarasi untuk memisahkan diri dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejumlah pengamat dan pejabat khawatir, meskipun orang-orang Australia yang hadir di Papua tak mewakili pemerintahnya, namun dikhawatirkan mereka akan memberikan informasi yang tak menguntungkan Indonesia saat mereka kembali ke negaranya. "Semoga saja isu Papua takkan mempengaruhi upaya memperbaiki hubungan Australia dan Indonesia, tapi jelas ini akan jadi catatan pemerintah terhadap Australia," ujar Alwi. Kekhawatiran terhadap sikap Australia yang bisa merugikan Indonesia dalam kasus Papua memang beralasan. Pertama, dalam pertemuan dengan Gus Dur, John Howard, berbeda dengan para pemimpin dunia lain yang bertemu Gus Dur, sama sekali tidak menyatakan sikap tegasnya mengenai masalah Papua. Kedua, berdasarkan pengalaman, meskipun selama bertahun-tahun pemerintah Australia menyatakan mengakui kedaulatan Indonesia terhadap Timor Leste, namun hanya dalam waktu sekejap mereka memutar-balikkan pandangannya. Bahkan PM John Howard sempat mengirimkan surat pada presiden BJ Habibie di bulan Desember 1998 tentang sikap pemerintah Australia yang mendukung pemberian opsi merdeka bagi Timor Leste melalui pemungutan suara langsung. Wajar saja, bila pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) sampai kini masih curiga terhadap keseriusan pemerintah Australia memperbaiki hubungan diplomatik dengan Indonesia. Kapuspen TNI Marsekal Muda Graito Usodo misalnya, mengingatkan bahwa Australia dengan menggunakan kedok hak asasi manusia telah berulang kali melakukan intervensi terhadap masalah dalam negeri Indonesia. "Bukan sekali dua kali, kita 'dikerjain' Australia," ujar Graito seperti dikutip The Jakarta Post. Ia mencontohkan laporan dari United Nations Transitional Administration in East Timor (UNTAET) baru-baru ini yang berisikan 16 poin komplain terhadap TNI menyangkut berbagai isu di perbatasan antara Timor Leste dan Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, tuduhan itu sama sekali tidak beralasan. "Ketika kami melakukan pengecekan dan investigasi, tak satupun tuduhan itu memiliki dasar. Kami telah menyusun draft klarifikasi terhadap laporan itu," ujar Graito. Diyakini, laporan itu bersumber pada pasukan Australia yang bertugas di perbatasan. Seperti dilaporkan beberapa waktu lalu, pernah seorang tentara Australia ketahuan membayar seorang pemuda Timor untuk memata-matai wilayah Indonesia. Tak cuma itu, TNI pun telah berkali-kali memprotes pelanggaran wilayah udara yang dilakukan pesawat-pesawat Australia terhadap Indonesia - --meskipun pemerintah Australia selalu menyangkal. Terakhir, pelanggaran itu dilaporkan oleh majalah terbitan Inggris, Flight International serta koran Australia sendiri, Australian Financial Review (AFR). Menurut kedua media itu, sejumlah pesawat Australia jenis PC3 Orion, telah diubah fungsinya menjadi pesawat pengintai untuk beroperasi di wilayah udara Indonesia. Laporan AFR bahkan menyebutkan, pihak angkatan udara Australia (Royal Australian Air Force, RAAF) melakukan operasi pengintaian terhadap kegiatan militer Indonesia serta berbagai jalur komunikasi nusantara dengan menggunakan nama sandi "Peacemake". Gara-gara semua itu, Menlu Alwi Shihab, setelah bertemu dengan sejumlah perwira tinggi TNI, menyatakan keinginannya meminta secara resmi pada PBB untuk tak menempatkan pasukan Australia di perbatasan dengan alasan "perbedaan kebudayaan." Jelas tak mudah begitu saja menghilangkan "sakit hati" terhadap perlakuan Australia itu. Bagaimanapun, kegiatan pengintaian secara sistematis merupakan isu besar bagi soal keamanan nasional Indonesia. Tanpa ada pembicaraan lebih detil untuk menghentikan kegiatan mata-mata semacam ini, pertemuan Gus Dur dan John Howard di Tokyo, takkan lebih seperti perdamaian antara "anjing dan kucing." Berapa lama bisa bertahan? (*) ========================================================= Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ---------------------------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 15 Jun 2000 jam 07:54:36 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
