----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, 22 Juni, 2000

Pangdam Siagakan 150 SSK. Gubernur Janji Sikat `Pak Ogah`

JAKARTA (Media): Gubernur DKI menilai penegakan ketertiban di
Jakarta sudah sangat mendesak. Terutama berkaitan dengan rasa
aman dan kenyamanan warga Ibu Kota. Karena itu, dalam waktu
dekat, pengamen dan `Pak Ogah` dibersihkan.

Di pihak lain berkaitan dengan keamanan Jakarta khususnya
menjelang Sidang Umum (SU) Tahunan MPR pada Agustus 2000,
seluruh kekuatan TNI dan Polri di Jakarta dikerahkan. "Kurang
lebih 150 satuan setingkat kompi (1 SSK=100 orang)," kata
Pangdam Jaya Mayjen Ryamizard Ryacudu, usai Comanders Call
bersama seluruh kesatuan TNI dan Polri di Jakarta Theatre,
kemarin.

Gebrakan Gubernur Sutiyoso dimulai dari pembersihan pengamen dan
`Pak Ogah` berkaitan dengan sorotan fraksi-fraksi DPRD DKI.
Mayoritas fraksi menilai kebijakan Pemda DKI tidak konsisten
membuat pelanggar ketertiban merajalela.

Fraksi menyoroti kebijakan Sutiyoso menyangkut pelanggaran
ketertiban di antaranya pedagang kaki lima menguasai jalan dan
trotoar, joki, pengamen, `polisi cepek`, dan tukang becak.

Sutiyoso yang dicegat wartawan usai rekaman pidato HUT ke-473
Jakarta untuk TVRI di ruang kerjanya, kemarin, mengucapkan dalam
merealisasikan programnya itu ia menempatkan aparat keamanan dan
aparat pemda di setiap sektor wilayah Jakarta.

Sasaran utama keberadaan `Pak Ogah` yang kehadirannya sudah
sedemikian meresahkan, apalagi sampai menewaskan seorang kenek
Metro Mini. Setelah itu, keberadaan pengamen jalanan yang
dikeluhkan banyak warga kota.

Gelar pasukan melibatkan kepolisian, TNI, dan Pemda DKI sudah
dicanangkan. Sutiyoso berharap masyarakat mau berpartisipasi.
Konsep yang diterapkan tidak sekadar menertibkan, tetapi
diupayakan adanya alih kerja yang tidak mengganggu ketertiban.

Adanya kesan hanya masyarakat kelas bawah yang terkena dampak
penertiban, Sutiyoso menegaskan pihaknya juga menertibkan
pelanggaran di semua level. "Orang yang terlibat korupsi dan
kolusi dalam pelaksanaan penertiban akan saya tindak," tegasnya.

Semangat Sutiyoso menegakkan ketertiban di Jakarta ditanggapi
anggota masyarakat dengan dingin karena terbukti Program 100
Hari yang notabene sasarannya sama, tidak menghasilkan apa pun.
Pengamen dan `Pak Ogah`, misalnya, tetap saja merajalela.

Merebaknya `Pak Ogah`, menurut Abdul Aziz Matnur, anggota Komisi
A DPRD DKI dari F-PK, terkait dengan pemberantasan kemiskinan
dan penyediaan lapangan kerja. Pemda DKI tidak memiliki
formulasi yang tepat membuat aparat di lapangan jenuh yang
akhirnya membiarkan `Pak Ogah`. Akibatnya `Pak Ogah` malah
bergeser ke arah premanisme.

Permasalahan semakin rumit karena di beberapa putaran `Pak Ogah`
malah memakai seragam Hansip. "Dengan seragam Hansip seolah
keberadaan Pak Ogah direstui pemda," ungkap Matnur.

Sama dengan Gubernur DKI, Pangdam Jaya Mayjen Ryamizard Ryacudu
juga mengharapkan partisipasi masyarakat untuk menciptakan
keamanan di Ibu Kota. "Tidak mungkin TNI dan Polri menjamin
seluruh keamanan warga karena jumlahnya terbatas," paparnya.

Dalam menciptakan suasana kondusif, Ryamizard meminta pemain
politik dan elite politik tidak bicara macam-macam yang bisa
meresahkan masyarakat. "Sebetulnya, kalau mau aman, elite
politik tidak ngomong macam-macam," lanjut mantan Pangdam
Brawijaya itu.

Dalam pengamanan SU kali ini, Pangdam Jaya tidak mentolerir
satgas maupun kelompok masyarakat ikut andil. Yang bertugas di
depan adalah polisi dan di belakangnya TNI. "Kalau satgas di
depan tidak boleh," tegasnya.

Menyinggung situasi keamanan menjelang SU 2000, Kapolda Metro
Senior Commander (Mayjen Pol) Nurfaizi menyebutkan dalam batas
toleransi.

Nurfaizi mengharapkan kelompok masyarakat tidak main hakim
sendiri dan merusak fasilitas umum dalam menertibkan yang
dianggapnya melanggar. Polri, katanya, akan menindak tegas
kelompok yang bertindak represif dalam mengadakan penertiban.

Soal penyerbuan Polsek Mampang, Pangdam Jaya berpendapat siapa
pun yang terlibat, apakah AD, AL atau AU, harus ditangkap.
Sementara Danpuspom Mayjen Djasri Marin mengaku pihaknya turut
melakukan penyelidikan, namun hingga kini belum menemukan
tersangka. "Pihak lain seperti dari Marinir, sejak awal sudah
menyatakan kesediaan membantu menyelesaikan masalah ini," ucap
Djasri. (Sad/Emh/J-1)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 26 Jun 2000 jam 09:06:49 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke