---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Date: Sun, 25 Jun 2000 06:11:50 +0700 Provided By Masariku Network 2000 HANCURNYA SEBUAH PERADABAN Laporan lengkap penyerangan laskar Jihad 25 Juni 2000 Jam 12.00, 24 Juni 2000 .. dikhabarkan bahwa pada tgl.25 Juni 2000, jam 03.00 wilayah Bt.Gantung s/d Air Salobar akan diserang dari darat maupun laut. Penyerangan darat oleh perusuh jihad akan dipandu oleh panser AD, sementara penyerangan laut akan dilakukan oleh speed boat perusuh jihad. Isu tersebut dengan cepat berkembang secara ramai dan merata di kalangan masyarakat Kristen sekota Ambon. Dengan segera terlihat kepanikan dan = ketegangan menyebar dikalangan masyarakat. Orang mulai ramai mengungsikan keluarga dan harta milik mereka ke wilayah-wilayah yg dianggap aman. Beberapa orang tua yg sakit dan tak dapat berjalan diungsikan dengan tandu oleh keluarga mereka, sambil berlari merunduk menghindari kemungkinan tembakan sniper. Kota Ambon gelap gulita karena aliran listrik telah padam sejak sore hari. Anak-anak kecil dibangunkan dari tidur mereka untuk mempersiapkan diri guna proses evakuasi. Para pemuda mengambil posisi berjaga-jaga dengan perlengkapan seadanya. Hujan turun rintik-rintik, ditambah suara lolongan anjing sahut-menyahut. Beberapa anak yg sedang siaga, bahkan membahas serius lolongan anjing yg tak seperti biasanya. Diluar rumah situasi begitu lenggang dan sunyi. Kesunyian yg tak seperti biasanya. Pkl. 03.00 subuh mulai terdengar ledakan granat dan tembakan sporadis senapan organik. Menyadari itu para pemuda Kristen mulai mengambil posisi siaga penuh. Terdengar berbagai kidung rohani dinyanyikan dengan bersemangat. Bunyi paduan trumpet gerejawi terdengar menyayat hati. Satu dua tembakan dari senjata rakitan anak-anak mulai terdengar, diiringi bunyi bom rakitan untuk merespon ledakan-ledakan granat dan letusan-letusan senjata organik yg jelas terdengar berasal dari kawasan pemukiman Muslim di Waihaong-Seilale. Tembakan-tembakan sniper dari berbagai gedung tinggi disekitar Kampung Waringin, SLTP Neg.II, Gedung Telkom, dan beberapa gedung bertingkat di kawasan Waihaong-Seilale, terdengar menyalak silang bersilang, dengan sasaran utama markas Polisi Resort Pulau-Pulau Ambon dan Lease - Perigi Lima. Entah berapa banyak dan jenis peluru yg dimuntahkan, namun letusan dan desingannya terdengar layaknya orchestra yg dimainkan. Beberapa petugas polisi Kristen yg bertahan menjaga kompelks ASPOL Perigi Lima terlihat melepaskan tembakan untuk menghalau perusuh yg mulai melontarkan granat memasuki kawasan kompelks. Para pemuda Kristen terlihat mengendap di kegelapan malam mencari posisi-posisi tepat untuk membalas serangan, demi mempertahankan wilayah mereka. Kondisi ini terus berlangsung sampai pukul 05.00. Salakan senapan mesin dan dentuman granat menjadi semakin kontinu dengan tingkat intensitas tinggi. Pukul 05.00 terdengar ledakan granat semakin kontinu, dan titik sasarannya semakin dekat menjangkau kawasan perumahan penduduk di Kampung Kolam dan sekitarnya. Anak-anak yg bertahan disekitar wilayah tersebut terlihat mulai mengundurkan diri, karena tak mampu menghadapi gempuran para jihad yg dilengkapi senjata organik lengkap, dan di back-up penuh oleh kesatuan-kesatuan TNI AD yg bertugas diwilayah itu, ditambah para anggota Polres Perigi Lima yg beragama Muslim yg ternyata sejak siang telah bergabung bersama mereka. Beberapa Granat secara berturut-turut jatuh dengan tepat di atas jembatan batu gantung dan halaman-halaman rumah disekitarnya. Rupa-rupanya granat-granat tersebut dilemparkan dengan memakai pelontar granat dari arah perkampungan Waringin. Menyadari upaya pertahanan yg tak seimbang para pemuda Kristen mulai mundur ke arah bebukitan di seberang jalan lokasi Kampung Kolam dan Batu Gantung. Mereka menyadari bahwa bila fajar tiba dan hari menjadi semakin terang, maka posisi mereka bertahan akan semakin terbuka bagi sasaran bidik para sniper. Pukul 06.00....Orang terakhir yg tinggal dilingkungan tersebut = meninggalkan rumahnya dan bergabung bersama penduduk lainnya yg telah merayap naik ke bebukitan. Selang beberapa waktu kemudian terdengar masa berhasil memasuki kawasan kompleks ASPOL Perigi Lima. Bunyi-bunyi barang rumah tangga yg dihancurkan terdengar jelas, diantara suara adzan dan teriakan Alahu Akbar sambung menyambung melalui menara Masjid Alfatah. Sementara itu pula suara mesin panser terdengar jelas memasuki kawasan Kampung Waringin. Dari ketinggian terlihat jelas masa jihad telah memasuki ASPOL perigi Lima, dan sementara melakukan penjarahan pada barak-barak anggota polisi yg beragama. Sesekali terlihat mereka berjalan hilir mudik diantara satu dua tentara berpakaian loreng, dengan peralatan lengkap. Anehnya sepertinya terjalin suatu kerjasama yg rapi anatar antara para Jihad perusuh tersebut dengan Tentara-Tentara Perusuh. Barang-barang dilemparkan turun oleh para jihad perusuh dari lantai dua barak-barak anggota beragama Kristen, dan terkadang jatuh didepan para personil loreng bersenjata lengkap. Dari ketinggian itu pula para pemuda Kristen menyadari bahwa pemukiman penduduk di Kampung Kolam dan sekitarnya yg terletak menempel tembok belakang ASPOL Perigi Lima tak lagi dapat diselamatkan. Terlihat mereka pasrah tanpa ada butiran air mata yg menetes. Mereka diam dan menanti saat-saat terakhir Kampung Kolam dan sekitarnya, sambil sesekali melepaskan tembakan dengan menggunakan senjata rakitan mereka ke arah kampung kolam dan perigi lima. Sekalipun mereka sadar sungguh bahwa jangkauan tembakan senapan rakitan itu tak pernah akan sampai disitu dari tempat mereka. Pukul 07.30.....Terlihat seorang personil berseragam loreng menyeberangi tembok pemisah ASPOL Perigi Lima dan masuk ke pemukiman penduduk di kampung kolam. Selang beberapa saat kemudian terlihat jilatan lidah api sudah mulai membakar rumah keluarga Alfons yg menempel dinding Kompleks ASPOL Perigi Lima. Para Jihad Perusuh terlihat segera melemparkan kantong-kantong plastik berisi minyak pembakar ke pemukiman Kampung Kolam. Jilatan lidah api terlihat membesar, dan mulai menjilati rumah keluarga Pentury. Pada sisi lainnya jilatan lidah api juga mulai terlihat membumi hanguskan rumah keluarga Mayor Jimy Watumlawar, Rumah Kel. Dan Lekatompessy, Keluarga Theis Mail yg terletak berdekatan di tepi sungai batu gantung. Sementara itu bunyi tembajkan senapan mesin otomat, lontara granat, dan bom rakitan sambut menyambut mengcover proses pembakaran dan penjarahan yg sementara berlangsung. Iring beriring dengan komando perang yg dikumandangkan dari menara masjid Al Fatah. "Saudara-saudara masyarakat Muslim, marilah kita doakan para laskar jihad kita, yg bertarung untuk membela Islam.yg bertarung untuk mengusir musuh-musuh Islam..baik RMS, Yahudi, dan para Kafir". "Allah akan menurunkan ribuan malaikatnya untuk melindungi mereka". "Alahu Akbar. Alahu Akbar.Alahu Akbar'. Demikian teriakan itu terdengar sambung menyambung menyemangati para jihad. Inilah saat-saat terakhir pemukiman kampung Kolam dan sekitarnya. Pkl. 07.45.... Terdengar berondongan tembakan Panzer dari arah Kampung Waringin yg entah diarahkan kemana. Pkl. 07.55 kembali berondongan tembakan panzer terdengar gencar, sementara jihad perusuh dengan leluasa melanjutkan pembakaran dan penjarahan. Tak lama berselang hujan turun dengan deras, dan kobaran api terlihat terhenti. Namun salakan senjata organik terus terdengar mengalahakn bunyi hujan. Didaerah bebukitan sekelompok pemuda kristen melakukan ibadah minggu di dapur seorang keluarga yg terlindungi. Isak tangis terdengar perlahan dari setiap mereka ketika doa dan lagu dilafalkan. Kidung jemaat 438 "apapun juga menimpamu, Tuhan menjagamu", demikian mereka menyanyikan lagu itu dengan sangat khusuk. Demikian juaga ketika lagu ditengah kesukaran dinyanyikan dan didengungkan mengiringi doa seorang hamba Tuhan, terdengar mereka terisak sendu. Ibadah selesai bersamaan dengan hujan yg mulai berangsur-angsur teduh. Seteduh hati mereka ditengah kegelisahan, kecemasan, kemarahan, dendam, dan kesangsian. Tak lama setelah itu terlihat bangunan bertingkat kanwil penerangan sudah juga sementara terbakar dahsyat. Erntah untuk apa para jihad perusuh membakar bangunan milik pemerintah itu. Beberapa saat berselang terlihat kepulan asap hitam membumbung dari persekolahan SMU Kartika Chandra Kirana, yg terletak tepat bersebelahan jalan dengan pemukiman Panglima KODAM XVI Pattimura, Brigjen Max Tamaela. Sepertinya dengan sangat gampang mereka melakukan itu dihadapan mata Komandan Bantuan Militer tersebut, yg sehari-harinya terkenal dengan sebutannya "Keadaan dapat dikendalikan", "tidak ada penonjolan". Sementara itu ditengah jalan menuju ASPOL Perigi Lima dari arah Petak Sepuluh terlihat satu mobil Panser AD diparkir melintang ditengah jalan, mengcover sebuah mobil box yg digunakan untuk memuat barang-barang hasil jarahan jihad perusuh. Dengan bebas perusuh jihad memasukan barang satu demi satu kemobil box tersebut sebelum melanjutkan pembakaran rumah-rumah yg telah kosong. Sesekali terdengar teriakan kesal pemuda-pemuda Kristen. "Jihad Pencuri.Jihad Perampok", terdengar berulangkali sebagai ungkapan kekesalan mereka. Namun teriakan tersebut tak menyurutkan niat laskar untuk menjarah dan membakar. Pkl. 10.00..Pembakaran berlanjut sampai pada rumah-rumah di tepi jalan raya dr. Tamaela Batu Gantung. Melihat gumpalan api telah membumi hanguskan seluruh pemukiman Petak Sepuluh sampai ke tepi jembatan sungai Batu Gantung, konsentrasi sasaran tembakan dan lontaran granat segera dialihkan pada pemukiman sekitar kawasan Gereja Rehoboth. Dalam sahut-menyahut suara tembakan diarah Gereja Rehoboth, terlihat para pengungsi mulai mengevakuasi keluarga mereka menaiki tebing-tebing lembah menuju manggadua dan daerah negeri-negeri di gunung. Dalam proses evakuasi tersebut, diperoleh berita lewat radio bahwa masa perusuh dari Jazirah Lei Hitu di Pulau Ambon telah bergerak bergelombang menuju Negeri Passo, dengan satu tujuan untuk menghancurkan Passo dan negeri-negeri Kristen disekitarnya. Proses evakuasi terus berlangsung menuju daerah bebukitan. Para orang tua lanjut usia terlihat dibopong, atau berjalan tertatih bertompang tongkat menuju daerah bukit dan gunung. Ratusan orang tumpuk menumpuk beriringan tergusur dari = pemukimannya yg terbakar, atau yang meninggalkan pemukimannya karena cemas dan takut. Ibu-ibu terlihat membopong anak-anak mereka sambil juga menjinjing barang seadanya. Para suami mencari istri dan anak. Anak-anak yang cemas mencari orang tuanya merupakan pemandangan yg ironis dan tragis sepanjang jalan menuju bukit. Tak nampak rona keletihan diwajah mereka, karena terkalahkan oleh niat menyelamatkan diri dan keluarga. Di pemukiman perumahan gubernuran seorang gadis anggota DPR Tkt.I Maluku terlihat alot mendebat ajudan gubernur Tkt.I Maluku untuk menampung sebagian pengungsi di rumah dinas Gubernuran. Ajudan gubernur mempertahankan sikapnya untuk melindungi dokumen-dokumen penting yg ada di ruang gubernuran, sementara dengan lantang dan gemas gadis itu menerikan pentingnya jiwa manusia ketimbang dokumen-dokumen mati itu. Tak lama kemudian terlihat para ibu dan anak-anak bergerombol masuk ke tiga garasi rumah dinas gubernur, yg bahkan lebih besar dari rumah pemukiman mereka sendiri. Rupanya kesepakatan telah tercapai. Sementara itu ribuan pengungsi yg menyemut beriring menaiki daerah daerah tanjakan bebukitan menuju negeri-negeri Kristen lainnya di bebukitan, seperti Kusu-Kusu Sereh, Mahia, Hatalai, Naku, dll. Dengan tangan dan hati terbuka anggota masyarakat dari negeri-negeri tersebut segera mengkonsolidasi diri untuk menampung saudara-saudara seiman tersebut. Fasilitas-fasilitas umum dan pemukiman segera diatur untuk menampung mereka, tak peduli dari mana mereka datang atau siapa dan bagaimana mereka. Penderitaan, rasa senasib sepenanggungan, dan iman yg satu telah mengalahkan seluruh perbedaan yg ada. Pukul 16.00... diperoleh berita bahwa masa jihad perusuh yg di back-up tentara dan polisi beragama Muslim telah menduduki gereja Katholik Bintang Laut, di depan kantor GMKI cabang Ambon. Pukul 17.00..Diperoleh berita bahwa situasi sudah mulai cooling down, sebagaimananya menjelang malam. Sementara itu terpantau komunikasi jihad perusuh melalui radio dua meter band (HT) bahwa mereka telah sangat kekurangan "cili", dan karenanya perlu diminta di Angkatan Laut. Mungkin yg dimaksud adalah persediaan amunisi mereka telah menipis, dan harus diminta di Kompleks Angkatan Laut Halong. Apakah dengan demikian kesatuan TNI Angkatan Laut juga terlibat dalam permainan ini, Walahualam. Ket: Kesatuan yg bertugas disekitar wilayah itu pada saat itu antara lain Kostrad 405; dan Kostrad 509. Kostrad 509 sendiri ternyata telah menarik pos penjagaannya dari wilayah Kampung Waringin dan menempati Al Fatah sesaat setelah pecahnya penyerangan tersebut. Kondisi akhir pengungsi : Dalam beberapa hari ini dipastikan para pengungsi dalam jumlah ribuan itu akan kekurangan makanan, obat-obatan dan berbagai kebutuhan lainnya. Hal ini disebabkan kondisi dinamika kota yang total macet, serta berbagai wilayah yg kota telah tersekat tentara serta jihad perusuh. Jalur jalan yg terputus antara lain kawsan Pohon Puleh, Batu Gantung, Pohon Mangga/Air Salobar. Provided By Masariku Network 2000 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 26 Jun 2000 jam 09:21:16 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
