----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Gus Dur Harus Simak Pengalaman Pak Harto. Bisa Jatuh jika Musuhi Partai
Islam

Media Indonesia - Politik dan Keamanan (6/28/00)
JAKARTA (Media):

Presiden Abdurrahman Wahid bisa jatuh dari kursi kepresidenan jika
terus-menerus bersikap memojokkan partai-partai Islam. Karena itu Gus Dur
diminta belajar dari pengalaman mantan Presiden Soekarno dan Soeharto.

Ketua Umum DPP PPP Hamzah Haz mengemukakan hal tersebut ketika membuka
Konferensi Nasional Gerakan Pemuda Kabah (GPK) yang diselenggarakan di
Asrama Haji Pondok Gede kemarin. Konferensi tersebut berlangsung hingga 29
Juni.

"Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto jatuh karena kebijakan-kebijakan
mereka dinilai tidak populer di mata umat Islam," kata Hamzah.

Meski Hamzah mengakui bahwa sangat sulit menjatuhkan Gus Dur dari kursi
kepresidenan karena tidak terbukti melanggar UUD 1945 dan GBHN, namun
diingatkan bahwa kebijakan Bung Karno dan Pak Harto banyak memojokkan Islam
dan itu kemudian membuat mereka jatuh. Karena itu, kata Hamzah, jangan
sampai Gus Dur mengulang lagi hal itu.

Menurut Hamzah, memang ada kesan Gus Dur memojokkan partai-partai Islam. Hal
itu, kata Hamzah lagi, tampak pada pergantian dirinya ketika diberhentikan
dari jabatan Menko Kesra dan Taskin. "Saya diberhentikan dan kemudian tidak
diganti lagi dengan kader PPP. Jadi PPP sebagai unsur Islam hanya satu di
kabinet. Hal lain dalam kebijakan membuka hubungan dengan Israel atau semua
kebijakan yang dirasakan umat Islam tidak pas," kata Hamzah lagi.

Pada kesempatan tersebut Hamzah mengingatkan lagi soal manajemen
kepresidenan selama ini. Menurut dia, reshuffle tidak perlu dan tidak
menyelesaikan persoalan. Karena persoalan utama dan yang harus segera
dibenahi adalah manajemen presiden," kata Hamzah lagi.

Secara khusus dia menyoroti sikap Gus Dur yang kerap mengeluarkan
pernyataan-pernyataan yang kontraproduktif terhadap situasi nasional.

Sekjen GPK Emron Pangkapi mengatakan konferensi tersebut akan merumuskan
hal-hal yang akan dibawa GPK ke DPP PPP sebagai bahan masukan menghadapi
Sidang Umum Tahunan MPR Agustus mendatang.

Tidak intervensi

Pada kesempatan terpisah Ketua PBNU Solahudin Wahid yakin Gus Dur tidak akan
melakukan intervensi pelaksanaan Kongres XII GP Ansor. "Terlalu kecil buat
Gus Dur mencampuri urusan seperti itu. Biarlah kongres yang menentukan,"
kata Solahudin menjawab pers, Senin (27/6) di Jakarta mengomentari rencana
Kongres GP Ansor yang berlangsung 28 Juni sampai 2 Juli 2000 di Asrama Haji
Donohudan, Solo itu.

Solahudin berharap pimpinan wilayah tidak mendikte peserta kongres untuk
memilih orang-orang tertentu. Biarlah peserta sendiri yang menentukan
pilihannya.

Sebagaimana diketahui menjelang pelaksanaan Kongres Ansor itu paling tidak
sudah ada empat nama yang mencuat ke permukaan untuk berkompetisi
memperebutkan kursi pimpinan. Mereka adalah Saifullah Yusuf (sekarang Ketua
Umum GP Ansor), Saifullah Ma`shum (mantan Sekjen GP Ansor), Fathoni Rodi
(salah satu ketua GP Ansor), dan Khotibul Uman Wirono (Ketua PB PMII).

Dia mengharapkan, pemimpin Ansor adalah seorang pekerja yang memiliki
wawasan luas. "Kalau perlu pemimpinnya nanti bisa memberdayakan Ansor agar
lebih produktif," ujarnya.

Karena itu, lanjut Solahudin, idealnya, GP Ansor ke depan tidak dipimpin
seorang politikus. Apa lagi pemimpin `bajing loncat`.

Disinggung kurangnya greget Ansor selama ini dibanding masa-masa sebelumnya,
Solahudin mengatakan, itulah sebabnya organisasi itu perlu dipimpin orang
yang memiliki wawasan yang baik dan mampu memberdayakan Ansor untuk lebih
produktif. Sebagai contoh, bagaimana memberdayakan ekonomi rakyat lewat
koperasi.

Sementara itu Syaifullah Ma`shum yang juga salah satu kandidat Ketua Umum GP
Ansor melihat Ansor sekarang ini telah berkembang menjadi ormas kepemudaan
besar dan berposisi strategis.

"Nilai strategis Ansor itu bukan saja disebabkan jumlah anggota dan jaringan
kepengurusan sampai di seluruh pelosok Tanah Air, melainkan juga karena
keberadaan NU, organisasi induknya, saat ini berposisi sebagai penguasa RI,"
katanya.

Sebagai ormas kepemudaan yang berciri keislaman, lanjut Syaifullah lagi,
Ansor juga terus mengembangkan sikap dan nilai religius dengan memperbanyak
kegiatan keagamaan, seperti kegiatan seremonial keagamaan yang sering
dilakukan.

Menyinggung masalah Ansor dan keprihatinannya, khusus mengenai problem
politik, Saifullah mengungkapkan, keberhasilan NU mengantarkan KH
Abdurrahman Wahid menjadi presiden di satu sisi menghasilkan kebanggaan,
tapi juga harus dipahami sebagai awal perjuangan berat NU dalam pentas
politik nasional.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Jun 2000 jam 11:17:57 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke