----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://lawpc42.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 22/III/26 Juni-2 Juli 2000
================================================

MENCUCI UANG DI YAY. KARYAWAN

(POLITIK): Yayasan karyawan instansi-instansi basah biasanya kaya
raya. Di yayasan itulah tempat nyaman menyembunyikan uang curian.

Sekali-sekali, cobalah mampir di komplek Bidakara, Kuningan, Jakarta
Selatan. Dari Pancoran, komplek gedung itu tampak megah. Komplek ini
menempati tanah yang cukup luas di wilayah kelas satu yang berhimpitan
dengan perumahan pejabat tinggi di kompleks Jl Denpasar, dan amat
dekat dengan pusat bisnis Kuningan. Di komplek ini terdapat
perkantoran bertingkat tinggi yang mewah dan hotel yang menjulang.
Pemilik kompleks Bidakara, tak lain dan tak bukan adalah Yayasan Dana
Pensiun Bank Indonesia.

Yang menjadi pertanyaan banyak orang, bagaimana sebuah yayasan
karyawan mengumpulkan uang begitu banyak sehingga uang yayasan itu
bisa diinvestasikan di sektor properti seperti Bidakara? Setidaknya
dibutuhkan dana sebesar Rp 500 miliar untuk membangun komplek
Bidakara. Lalu pertanyaan berikut: berapa gaji karyawan Bank Indonesia
sehingga mereka bisa mengumpulkan dana sebesar itu? Apa bisnis yayasan
itu?

Pertanyaan serupa juga ditujukan kepada Yayasan Karyawan Bulog.
Seberapa kayanya yayasan karyawan itu sehingga bisa "meminjamkan" uang
senilai Rp35 miliar tanpa jaminan kepada Suwondo? Tentu, kekayaan
Yayasan Karyawan Bulog lebih besar dari Rp35 miliar itu. Darimana
karyawan Bulog mengumpulkan uang untuk yayasannya? Apa bisnisnya? Yang
ada dalam benak orang awam, dana yayasan karyawan itu merupakan dana
hasil curian (yang biasa disebut dana non-bujeter) instansi
bersangkutan, dan yayasan karyawan adalah tempat yang efektif untuk
mencuci dan menyelamatkan uang itu dari kejaran siapa saja.

Nah, di zaman Soeharto, dana non-bujeter ini, selain untuk
"dikonsumsi" sendiri oleh para petinggi instansi bersangkutan, juga
dipakai untuk membiayai Golkar hingga partai korup itu bisa terus
berkuasa hingga tiga dekade.

Belakangan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sudah mulai melakukan
identifikasi dana nonbujeter di instansi pemerintah termasuk
Departemen Pertahanan (Dephan) Markas Besar (Mabes) TNI dan Polri.
Selanjutnya akan dilakukan identifikasi terhadap BI dan Bulog serta
semua instansi. Ini diungkapkan Kepala BPK Satrio Budihardjo (Billy)
Judono setelah menyerahkan laporan hasil pemeriksaan BPK semester II
tahun anggaran 1998-1999 dan semester I tahun anggaran 1999-2000
kepada Presiden Abdurrahman Wahid, Jumat (23/6), di Bina Graha.

Menurut Billy, untuk menertibkan masalah keuangan negara BPK sedang
melakukan langkah untuk mencatat dan mengaudit bentuk dana nonbujeter
di instansi-instansi itu. Nah, khusus untuk 50 badan usaha dan yayasan
yang dimiliki TNI akan diteliti mana yang memakai anggaran negara dan
apakah data yang diberikan Menteri Pertahanan cocok atau tidak.

Nah, jika langkah BPK ini menghasilkan, maka akan ada banyak pejabat
tinggi dan bekas pejabat tinggi bisa diusut untuk kasus korupsi.
Sekaligus, jika dana non bujeter itu bisa masuk APBN, pemerintah bisa
mengurangi utang luar negerinya.

Dana non-bujeter yang nyangkut di instansi pemerintah berjumlah
triliunan rupiah. Ini merupakan sumber korupsi, karena dana ini susah
dipertanggungjawabkan penggunaannya, dan bahkan tertutup
penggunaannya.

Dana non-bujeter banyak terdapat di Bulog. Pada masa silam, sebagian
besar dana non-bujeter Bulog disembunyikan dalam kantong yayasan tadi.
Dari catatan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), kurang
lebih ada Rp2,7 triliun dana semacam itu. Di samping Bulog, beberapa
badan usaha milik negara juga menyimpan dana tidak tercatat itu dalam
jumlah besar. Pertamina, yang terkenal sebagai sapi perah Orde Baru,
adalah salah satunya.

Demikian pula dengan beberapa instansi pemerintah. Seorang mantan
pejabat tinggi menyebutkan bahwa Sekretariat Negara juga punya dua
dana non-bujeter, dari pos bantuan presiden (banpres) dan dana
reboisasi. "Saat ini masih ada Rp250 miliar dana banpres," katanya.

Ada sekitar Rp2 triliun dana non-bujeter yang ada di bawah penguasaan
Depkeu. Sementara Dephutbun punya pos dana tersebut sebesar Rp1
triliun. Bahkan Rp5 triliun dana reboisasi yang tidak jelas nasibnya.
Lalu, Dephan, menyimpan dana non-bujeter sekitar US$4 miliar yang
dikumpulkan dari kelebihan menjual minyak. Misalnya target menjual
hanya 100 ribu barel per hari ternyata yang dijual 120 ribu barel,
kelebihannya itu masuk ke dana non-bujeter. Menurut catatan Ditjen
Pajak, sekitar 23 rekening dana non-bujeter yang berada di sejumlah
departemen belum masuk kas negara.

Keberadaan dana yang tidak masuk dalam pembukuan negara dan hanya
diketahui pejabat terkait. Di zaman Soeharto banyak dana non-bujeter
yang justru dipakai untuk kepentingan politik penguasa, bahkan juga
keluarga presiden. Misalnya, mantan kepala Bulog, Rahardi Ramelan,
menulis surat tertanggal 8 April 1999 yang menyebutkan ada Rp8 miliar
dana Bulog yang dipakai untuk keperluan keluarga Soeharto dan
penggunaan dana Rp50 miliar untuk "keperluan lain-lain". Setelah
Bulog, yang mendesak kini, mengejar dana non-bujeter di BI. (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- --------------------------------
SiaR WEBSITE:
http://lawpc42.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 29 Jun 2000 jam 06:36:40 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke