----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://lawpc42.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 22/III/26 Juni-2 Juli 2000
================================================

LASKAR JAHAT DI AMBON

(POLITIK): Pertikaian antar pemeluk agama di Ambon kembali membesar.
Kantong-kantong Kristen mulai dihancurkan. Berkat kehadiran Laskar
Jihad?

Harapan masyarakat Ambon untuk segera hidup normal, akhirnya pupus.
Upaya perdamaian yang sudah dilakukan selama dan hasilnya mulai
kelihatan, tiba-tiba tersapu oleh peristiwa menydihkan yang terjadi
Galela. Pagi-pagi hari, layaknya pasukan dengan satu komando,
sekelompok massa dalam jumlah ribuan bergerak ke Desa Duma, Kecamatan
Galela, Maluku Utara. Walaupun diblokir sejumlah tentara, lama
kelamaan bendungan itu bocor juga. Aparat keamanan yang menjaga Desa
Duma kewalahan dan massa berhasil menerobos masuk membumihanguskan
daerah itu, Senin (19/6). Bahkan sebagian tentara yang sebenarnya
harus menghalau penyerang tapi justru berbalik menyerang warga yang
mempertahankan diri.Akibatnya, tidak kurang dari 152 rakyat sipil
meninggal dunia, 60 luka berat, dan 100 luka ringan, termasuk satu
rumah ibadah tua dan ratusan rumah penduduk terbakar.

"Masih terdapat juga sejumlah ibu-ibu dan anak-anak yang diangkut
dengan truk sebagai sandera ke Soasio. Jadi, masalah ini telah
dilaporkan ke Pangkostrad, Kapolri, dan Komnas HAM guna membebaskan
mereka," kata Sekretaris Pusat Krisis Gereja Masehi Injili Halmahera
(GMIH) Yerda Djawa.

Duma berpenduduk 3.000 jiwa, terletak di tepi pantai, memiliki banyak
jurang yang dalam dan rawa-rawa, sehingga banyak warga sipil yang
terjebak ke jurang atau masuk rawa-rawa saat terjadi kerusuhan.
Peristiwa ini membuat Ambon terus bergolak, dan sulit dikendalikan.

Sementara itu dua hari kemudian, terjadi  juga penyerangan pos
penjagaan Batalyon 512 Kodam Brawijaya di Desa Puneh, Kecamatan
Galela, Pulau Halmahera, Maluku Utara, Rabu (21/6). Penyerangan
sekelompok massa ini mengakibatkan dua orang tewas. Massa dari
Kecamatan Tobelo yang berjumlah sekitar 1.000 orang menggunakan
kendaraan truk, memasuki kawasan Galela dengan maksud melakukan
penyerangan balik terhadap warga di sana. Mereka datang dengan senjata
rakitan, tombak, panah, parang, dan bom rakitan. Setelah tiba di Desa
Puneh, sekitar tiga kilometer dari Soasio, ibu kota Kecamatan Galela,
ribuan massa itu dihalau oleh aparat keamanan dari Batalyon 512 Kodam
Brawijaya, yang bertugas memulihkan konflik di kawasan Halmahera
Utara. Meski dicegat aparat keamanan, mereka tetap mendesak masuk ke
Galela, dan kemudian menyerang pos tersebut. Dalam aksi itu dua warga
Tobelo (pihak penyerang) tewas dan satu luka ringan.

Hanya dalam hitungan jam saja, asrama Brimob Polda Maluku --dihuni
sekitar 2.000 personel polda dan keluarganya-- di kawasan Tantui,
Kecamatan Sirimau, Ambon berhasil diduduki para perusuh yang
diidentifikasikan sebagai pasukan Jihad Al hussunnah wal jamaah. Dalam
serangan itu mereka berhasil membobol dua gudang logistik persenjataan
di kawasan itu (22/6). Mereka juga menjarah materialnya, di antaranya
berbagai jenis senjata, amunisi berbagai kaliber, serta pakaian dinas
polisi. Penyerangan  dilakukan tiba-tiba dalam jumlah sangat besar
serta telah direncanakan secara sistematis oleh para perusuh, sehingga
sulit dibendung. Menurut informasi, perusuh memiliki jiwa militansi
yang kuat, bahkan persenjataan yang digunakan tidak berbeda dengan
yang dimiliki aparat keamanan. Bahkan pertikaian terus merambah ke
kawasan permukiman penduduk Tantui, Kecamatan Sirimau, Kodya Ambon.
Hingga Kamis siang masih bergolak dan semakin sulit dikendalikan
aparat keamanan. Pihak penyerang dilengkapi senjata standar, bom
rakitan, serta ganat tangan membumihanguskan kawasan tersebut. Mereka
tak terkendali, melakukan pembakaran dan perusakan rumah penduduk
maupun asrama Brimob yang masih tersisa. Ledakan bom serta granat
tangan dengan hulu ledak sangat besar berkali-kali terdengar,
diselingi rentetan tembakan aparat keamanan yang berupaya keras
menghalau para penyerang. Penyerang juga terlihat makin leluasa
membakar rumah penduduk, barak-barak asrama, dan perumahan perwira
Polda Maluku serta perumahan pemda yang ditinggalkan penghuninya, yang
sejak Rabu mengungsi ke tempat yang aman.

Aksi penyerangan besar-besaran sejak Rabu siang (22/6) hingga Kamis,
ternyata didukung sejumlah tentara berbaju loreng yang dilengkapi
sejata standar/organik TNI/Polri.  Warga Tantui mengaku melihat
sejumlah oknum berseragam loreng memimpin massa melakukan penyerangan
dan pembakaran, serta melakukan penembakan terhadap warga sipil dan
aparat keamanan yang berupaya menghalau para penyerang.

Sekretaris Eksekutif Posko MUI Maluku, Malik Selang, menyebutkan
sedikitnya tiga orang tewas dan 11 lainnya luka berat dan ringan.
Mereka dirawat di RS Bersalin Al-Fatah Ambon. Sedangkan data dari RS
Lanal Ambon, menyebutkan, dua orang meninggal dunia adalah Wadansat
Brimob Polda Maluku, Mayor Eddy Susanto serta seorang anak berusia 3,5
tahun bernama Sonny. Sembilan lainnya mengalami luka-luka cukup
serius. Selain itu, pertikaian juga mengakibatkan dua rumah ibadah
terbakar, barak-barak asrama Brimob, perumahan perwira Polda Maluku,
dan puluhan rumah penduduk di Tantui dan Kampung Jawa dibakar massa
penyerang.

Sejumlah tokoh masyarakat setempat menduga, ada indikasi akan terjadi
perang antar angkatan. Penyebabnya adalah tongkat komando pengendalian
yang semula ditangan tentara akan segera diserahkan kepada polisi.

Sementara itu penyerangan terhadap kantong-kantong Kristen di wilayah
kota Ambon terus dilakukan oleh Laskar Jihad. Mereka menggunakan
senjata modern yang diduga dibawa dari Jawa dan Makassar.
Keberhasilan mereka menguasai "portal" Kristen tersebut semata-mata
karena lengkapnya perlengkapan perang mereka, termasuk pelontar bom.
Perlu diketahui, bulan Mei yang lalu, sebuah mobil Suzuki Carry hancur
dan terbakar di Jl Gatot Subroto, samping terminal bus Nganjuk,
Kediri, Jawa Timur. Mobil yang berisi amunisi itu meledak dan
mengakibatkan dua penumpangnya tewas seketika. Mobil itu merupakan
salah satu mobil milik Laskar Jihad yang dipakai untuk mengangkut
amunisi mereka dari Yogya menuju pelabuhan Tanjungperak Surabaya.
Menurut rencana amunisi yang ada di mobil tersebut akan dikirim ke
Ambon, menyusul para anggota laskar jihad yang sudah berhasil masuk ke
kepulauan Ambon.Diperkirakan, sampai saat ini sudah sekitar 800
anggota laskar jihad dari Jawa yang berada di Ambon. Mereka adalah
anggota laskar pilihan yang dilatih di Bogor April lalu. Dan buktinya,
sejak kehadirannya di Ambon sebulan belakangan, bara pertikaian di
Ambon semakin meningkat. (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- --------------------------------
SiaR WEBSITE:
http://lawpc42.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 29 Jun 2000 jam 07:16:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke