----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

SUHARTO BUKAN KORBAN KUDETA HALUS (EKLOF)

ANALISIS SUPANGKAT DARI NEW YORKSTEFAN EKLOF SEPELEKAN PERANAN MAHASISWA          
MENYIMPULAN SUHARTO KORBAN KUDETA HALUS

Pendapat Stefan Eklof dalam bukunya: "Indonesian Politics in Crisis: The Fall of
Suharto" bahwa Suharto adalah korban kudeta halus bukannya akibat "people
power" mahasiswa yang dikutip oleh Antara 27 Juni ini, merupakan kesimpulan
yang setengah benar (half truth).

Sebabnya ialah:
1. Kesimpulan itu ditarik dari "end game" konspirasi Ginanjar dkk yang menyatakan
mengundurkan diri dari kabinet Suharto. Peristiwa ini muncul setelah situasi gawat
mencapai puncaknya, di mana Harmoko sendiri telah main mata dengan para de-
monstran di DPR dan menganjurkan agar Suharto mundur.
2. People power mahasiswa terasa sekali akan menjatuhkan Suharto sedangkan
pada waktu itu ABRI membatasi dirinya pada penculikan, pembantaian Trisakti dan
Semanggi daripada "all out" menindas seluruh mahasiswa demonstran.
3. Demonstrasi mahasiswa tetap merupakan penyebab utama kejatuhan Suharto
bukannya kudeta halus oleh para Menteri di bawah Ginanjar dan ABRI seperti
yang disimpulkan oleh Eklof.
4. Kudeta halus yang dituduhkan kepada Ginanjar dkk tidak tepat karena yang
berhasil merebut tahta adalah Habibie, pilihan Suharto secara sukarela bukan
berdasarkan paksaan. Sejak lama justru Habibielah yang telah dicalonkan Su-
harto untuk suksesi karena Habibie adalah protege-nya sejak kembalinya dari Jerman.
Kalau kudeta,  logislah Suharto akan menyerahkan kekuasaannya kepada pihak
yang melakukan kudeta, bukan kepada pilihannya sendiri!

Disini letaknya blunder Stefan Eklof.

Memang harus diakui adanya konspirasi Ginanjar, Harmoko dan mungkin Wiranto
dkk., namun konspirasi dalam "end game" bukan faktor yang menyebabkan pe-
nyerahan kekuasaan Suharto.

Peranan Prabowo memang mengacaukan pikiran kita: mungkin pada mulanya ia
membela sang mertua dengan penculikan dan penganiayaan, penghilangan para
aktivis. Mungkin sesudah ia yakin usahanya tak akan berhasil bisa saja ia men-
coba manipulasi situasi untuk keuntungan dirinya yang kemudian ditafsirkan se-
bagai penghianatan oleh Suharto dan oleh isterinya yang langsung minta cerai.

Habibie sendiri yang mungkin tadinya bersekongkol dengan Prabowo telah mening-
galkannya dan merangkul Wiranto sehingga Prabowo bawa pasukannya ke Istana
kemudian kerumah Habibie untuk memaksakan rencananya yang sudah gagal.

5. Eklof mungkin tidak merasakan betapa dahsyatnya ketegangan waktu itu di
mana Amien Rais sudah akan mengerahkan ratusan ribu massanya namun
akhirnya dibatalkan karena ancaman pembantaian massal oleh ABRI sudah
jelas sekali bukan gertak sambel lagi.

Walhasil menyepelekan jasa jasa mahasiswa dan memberikan kredit kepada para
pelaku "kudeta halus" tidak bisa dibenarkan secara hatinurani - Eklof anggap
sepi hal ini - dan secara politik, militer.

Kalau Wiranto dicurigai melakukan kudeta halus ini tidak masuk akal pula karena
justru dialah yang telah memberikan jaminan keselamatan Suharto dan keluarga
secara fisik dan material (kekayaan) karena sejak ia menjadi ajudan, Wiranto
adalah protege Suharto.

Menyerahkan kekuasaan kepada para protege yang ditafsirkan sebagai akibat
kudeta halus adalah logika yang ngawur sekali dan semakin membodohkan
kita yang sedang belajar untuk tidak bodoh lagi.

New York, 27 Juni 2000.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 30 Jun 2000 jam 18:49:48 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke