----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Cara Gus Dur Habisi Lawan Politik
Reporter: Tim Adil

Adil - Jakarta, Peserta rapat Tim Monitoring Bidang Ekuin yang dilangsungkan di Bina 
Graha, Jakarta, Senin (26/6), tiba-tiba
membelalakkan mata. Saat itu, Ketua Dewan Pengembangan Usaha Nasional (DPUN) Sofjan 
Wanandi kepada Presiden K.H. Abdurrahman Wahid
yang memimpin rapat Senenan itu mengusulkan agar dilakukan penangkapan terhadap 
tokoh-tokoh politik yang menimbulkan keresahan,
kerusuhan, dan mengganggu proses pemulihan ekonomi dan politik, khususnya menghadapi 
Sidang Tahunan MPR.

Karuan saja usulan itu membuat peserta rapat lainnya yakni menteri-menteri ekonomi, 
keuangan dan industri terheran-heran. Anehnya
lagi, Gus Dur mengamini usulan nyeleneh itu. Tuan Presiden malah menegaskan bahwa 
prosesnya sedang berjalan. ''Pertengahan bulan
Juli nanti akan diadakan penangkapan besar-besaran terhadap mereka,'' ungkap sumber 
ADIL menirukan omongan Presiden. Rupanya Gus Dur
belajar dari pengalaman sukses Kejagung menangkap Gubernur Bank Indonesia (BI) Syahril 
Sabirin.

Penegasan Gus Dur tersebut ternyata bukan sekadar isapan jempol belaka. Kejaksaan 
Agung (Kejagung) ternyata sudah mengirimkan surat
bernomor R-141/F/Fpk.1/6/2000 tertanggal 22 Juni 2000 kepada pimpinan DPR dan MPR 
mengenai rencana penangkapan itu. Ada sekitar 40
tokoh politik yang terdaftar dalam lampiran surat itu. Di antaranya Fuad Bawazier, 
Ginandjar Kartasasmita, Mar'ie Muhammad, dan
Siswono Yudohusodo. Surat itulah yang sekarang sedang diributkan kalangan DPR dan MPR.

Banser NU kabarnya juga sudah mengantungi nama-nama tokoh politik yang masuk Daftar 
Pencarian Orang (DPO) versinya. Daftar
orang-orang yang akan diburunya itu klop benar dengan nama yang masuk didaftar 
Kejagung. ''Hanya saja yang serius sedang diincar:
Fuad Bawazier dan Ginandjar,'' ujar sumber ADIL di Senayan. Pasukan sipil nahdliyin 
ini bahkan mengancam jika Jaksa Agung Marzuki
Darusman tidak berani menangkapnya, mereka akan membereskan sendiri. Kalau itu 
terjadi, gile bener!

KEKALAPAN PRESIDEN
Kesabaran Gus Dur barangkali sudah habis. Belum genap setahun memimpin negeri ini, 
kursi empuknya sudah digoyang kanan-kiri.
Terbongkarnya skandal Buloggate, bantuan Sultan Brunei, serta mengendonnya dana BPPN 
senilai Rp 5 triliun telah membuat dirinya
pontang-panting. Itu belum termasuk ancaman hak interpelasi DPR tentang pemecatan 
Jusuf Kalla dan Laksamana Sukardi yang diajukan
Fraksi PDI Perjuangan, serta hak angket yang diajukan Fraksi PPP tentang skandal Bulog.

Poros Tengah yang mengantarkannya ke singgasana kepresidenan, kini malah sudah menjadi 
lawan politiknya. Ketua Umum PAN Amien Rais,
Ketua Umum DPP PPP Hamzah Haz, dan tokoh lainnya semacam Fuad Bawazier bahkan sudah 
terang-terangan menyerang kebijakan
pemerintahannya. Amien Rais malah setuju usulan tokoh Partai Golkar Agung Laksono 
bahwa perlu dibentuk tim dokter independen guna
memeriksa kesehatan Presiden. Sidang Tahunan MPR, Agustus nanti, kabarnya malah akan 
dimanfaatkan untuk menjatuhkannya.

Wapres Megawati pun sudah tidak akur lagi dengan Gus Dur. Berawal dari pencopotan 
kader PDI Perjuangan Laksamana Sukardi dari
kabinet dengan alasan KKN yang sampai sekarang belum bisa dibuktikan. Karena itulah 
putri Presiden RI pertama ini membiarkan
kader-kadernya di DPR mengajukan hak interpelasi mempersoalkan masalah itu. Praktik 
KKN yang dilakukan kalangan Istana, serta
pernyataan counter-productive-nya juga tidak berkenan dihatinya.

Apalagi Poros Tengah lewat Fuad Bawazier kabarnya sudah pernah mencoba meyakinkan 
Taufik Kiemas akan memback-up Mega menggantikan
posisi Gus Dur.

Begitu juga dengan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung. Kompaknya Akbar-Ginandjar 
dalam kepemimpinan partai berlambang beringin
itu semakin melapangkan jalan buat mendongkrak Megawati menduduki kursi RI-1. Apalagi 
Ginandjar selama ini dikenal dekat dengan
kalangan PDI Perjuangan --ketua fraksi partai ini, Arifin Panigoro adalah sohibnya. 
Konsesinya tentu saja Akbar atau Ginandjar harus
mendampinginya sebagai wapres. Kesepakatan yang sempat tertunda dalam SU-MPR tahun 
lalu bisa jadi akan diperjuangkan lagi.

Selain itu, Ginandjar kabarnya juga berambisi untuk menggantikan Akbar sebagai Ketua 
Umum Partai Golkar. Kalau posisi itu di
tangannya, sudah barang tentu akan memuluskan jalan koalisi PDI Perjuangan-Golkar. 
Koalisi kedua parpol besar ini dipercaya akan
mampu menggeser Gus Dur.

Meskipun kepada Detik.com, anggota MPR dari utusan Jawa Barat ini membantah sepak 
terjangnya itu sebagai bagian dari skenario
menjatuhkan Gus Dur tapi sejumlah kalangan yakin dia masih berperan seperti Fuad 
Bawazier --penghubung utama kepentingan Golkar dan
PDI-P. Lewat dialah, negosiasi kedua kekuatan politik itu dihasilkan. Termasuk 
menghadapi SU-MPR Agustus nanti.

Sejumlah jenderal kabarnya juga sudah mulai meninggalkan Gus Dur. Mereka 
perlahan-lahan merapatkan barisan ke Megawati. Adalah Kasum
TNI Letjen Agus Widjojo dan Wakil KSAD Letjen Endriartono Sutarto, dua perwira yang 
disebut-sebut memanfaatkan jalur wapres ini.

Gus Dur jelas sudah menghitung kemungkinan terburuk itu. Awalnya mantan Ketua PB NU 
ini memang mencoba bersikap persuasif. Beberapa
tokoh Poros Tengah diundang untuk dirangkul kembali. Fuad Bawazier yang sangat vokal 
malah sempat diiming-imingi jabatan di
pemerintahan dan proyek bisnis pada Januari lalu. ''Pak Fuad pernah ditawari mau jadi 
Ketua DPA, duta besar atau mau ambil proyek.
Tapi tawaran itu ditolaknya dengan tegas,'' ungkap kolega Fuad di Poros Tengah kepada 
ADIL.

Gagal membungkam the king maker Indonesia --Fuad Bawazier, Gus Dur pernah berniat 
menjebloskannya ke penjara. Jaksa Agung Marzuki
Darusman kabarnya sudah beberapa kali mendapat instruksi dari Presiden untuk mencari 
alasan yang tepat untuk menangkapnya. Tadinya
kasus dana BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) yang akan dijadikan alasan. Namun 
karena bukti-bukti keterlibatannya sangat
lemah, niat itu mental dengan sendirinya.

Gus Dur juga sudah mencoba mempertemukan Megawati dan disusul Ketua DPR juga Akbar 
Tandjung dengan sejumlah ulama NU di Pesantren
Mahasiswa Al-Hikam, Malang, Jawa Timur, pekan lalu. Dalam pertemuan informal itu, para 
kiai dari beberapa daerah itu meminta
kepastian dukungan Megawati kepada Gus Dur di SU-MPR Agustus nanti. Namun jawabannya 
tidak memuaskan mereka. ''Kalau misalnya nanti
tidak ada dinamisasi terbalik, Gus Dur kita dukung,'' ujar kiai yang mengikuti acara 
itu kepada Detak.

Dari sekian lawan politiknya, tampaknya Fuad Bawazier dan Ginandjar Kartasasmita yang 
dianggap paling berbahaya. Makanya, Gus Dur
menugaskan Jaksa Agung Marzuki Darusman membereskan mereka sebelum Agustus. Caranya ya 
itu tadi seperti model operasi khusus (opsus)
yang pernah diterapkan Orde Baru diawal kekuasaannya. Musuh-musuhnya dijebloskan ke 
penjara.

Soal mereka terbukti bersalah --mau menjungkalkan Presiden-- atau tidak, itu urusan 
belakang. Jika mereka sudah diamankan, Sidang
Tahunan MPR diharapkan akan berlangsung mulus tanpa ada perlawanan yang berarti. Malah 
kalau berhasil, Marzuki akan diberi jabatan
Menteri Luar Negeri.

Benarkah spekulasi penangkapan itu? Sekretaris Kabinet Marsilam Simanjutak yang hadir 
dalam rapat Tim Monitoring Bidang Ekuin Senin
pekan lalu mengaku tidak ingat lagi mengenai usulan Sofjan Wanandi yang diiyakan oleh 
Presiden. ''Saya sudah lupa. Lebih baik no
comment saja. Tanyakan saja ke Pak Sofjan,'' jawab tokoh Fordem ini kepada ADIL 
setelah lama berpikir untuk menjawab pertanyaan itu.
Sayang sampai tulisan ini diturunkan Sofjan belum bisa dikonfirmasi.

Jaksa Agung juga jelas-jelas membantah pihaknya telah melayangkan surat penangkapan 
terhadap musuh-musuh Gus Dur. ''Tidak mungkin
ada surat tersebut. Itu tidak masuk akal,'' sanggah Marzuki Darusman kepada ADIL 
disela-sela kunjungan kerjanya di Polandia. Senada
dengan itu, Panglima Banser NU Syaifullah Yusuf mengaku sampai saat ini belum 
mendengar kabar itu. ''Sorry, aku belum dengar
informasi itu,'' ujarnya kepada ADIL.

Nah, kalau begitu mungkinkah surat rencana penahanan itu aspal -- asli tapi palsu? 
Lagian kenapa tokoh semacam Mar'ie Muhammad dan
Siswono Yudohusodo ditakuti. Toh, mereka tidak melakukan gerakan politik apapun selain 
bersikap kritis. Jadi sekadar direkayasa oleh
lawan-lawan politiknya untuk memperosokkan Presiden ke jurang kehancuran. Atau itu 
sengaja dibuat untuk menggertak musuh-musuhnya
yang dianggap berbahaya?

Marzuki Darusman, Jaksa Agung RI

Kalau pun ada itu Surat Palsu

Ada kabar pemerintah akan 'mengamankan' tokoh-tokoh politik yang dianggap akan 
mengganggu SU-MPR Agustus nanti?
Tidak ada itu. Cara-cara tersebut hanya mungkin dilakukan pada zaman Orde Baru. Beda 
dengan sekarang. Jadi, tidak mungkin dilakukan
cara tersebut.

Bagaimana dengan adanya surat berkop Kejagung yang berisi rencana penangkapan tersebut?
Tidak mungkin ada surat tersebut. Tidak masuk akal itu. Sebab, pemerintahan sekarang 
telah legitimasi dipilih oleh rakyat. Sangat
kontradiktif jika pemerintah harus menangkap orang.

Lalu bagaimana sampai surat itu bisa muncul?
Anda sudah melihat surat tersebut? Jangan berbicara dahulu kalau belum melihat 
suratnya. Anda akan menulis berita atau menulis isu?
(Nada suaranya meninggi).

Sumber kita akan menunjukkan surat tersebut...
Kalaupun ada itu surat palsu. Tidak ada satu perintah apapun untuk menangkap orang.

Menurut surat tersebut, perintah penangkapan datang dari Presiden Gus Dur langsung...
Saya tegaskan, Presiden tidak bisa memerintah saya untuk menangkap orang. Tulis saja 
seperti itu. (Masih dengan nada suara tinggi).

Fuad Bawazier, Musuh Nomor 1

Di mata Gus Dur, tokoh Poros Tengah yang paling berbahaya adalah Fuad Bawazier. Sudah 
lama pendukung Gus Dur mencurigai sepak
terjang mantan Menteri Keuangan Orde Baru itu. Jubir Fraksi PKB, Effendi Choirie 
menyebutnya sebagai tokoh yang berada di balik
pendongkelan Presiden. "Dia itu otak penggoyang Gus Dur," tuturnya. Menurutnya, 
pihaknya mengetahui Fuad terlibat langsung atau
tidak langsung terhadap berbagai gerakan politik yang bertujuan menurunkan Gus Dur 
dari singgasananya.

Ketidaksukaan Fuad memang sangat kentara. Setiap kali ada kesempatan, ia selalu 
melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah. Bahkan
terang-terangan mengatakan Gus Dur adalah seorang pemimpin paranoid yang membahayakan. 
Ia juga yakin dalam empat bulan mendatang Gus
Dur akan lengser. ''Bila dalam empat bulan, Gus Dur masih gonjang-ganjing dalam 
menggerakkan roda pemerintahan, saya akan
mengusulkan kepada Fraksi Poros Tengah untuk menurunkan Gus Dur," katanya di Makassar, 
April lalu.

Satu per satu kebijakan pemerintah dikritisinya. Mulai dari menentang Cacuk Sudarjanto 
menjadi Kepala BPPN, penggalangan demonstrasi
guru-guru Jawa Barat ke DPR, menentang rencana pencabutan Tap MPR anti-komunis, 
penundaan bantuan IMF, membuka kasus dana Bulog, dan
terakhir soal dana BPPN sebesar Rp 8 triliun yang baru disetor ke negara Rp 3 triliun.

Dan untuk kasus penjarahan duit Rp 35 miliar di Bulog itu, Fuad tak sekadar mengritik, 
tetapi juga melancarkan gerakan politik
bersama kekuatan politik lainnya, sampai Gus Dur tampak keteteran dibuatnya.

Apa sebenarnya peran Fuad? Tokoh keturunan Arab itu dicurigai telah memasok setumpuk 
dokumen Buloggate kepada sebuah majalah
ternama. Dari sanalah kasus Gus Im di BPPN sampai kasus penjarahan di Bulog terungkap. 
Sebuah sumber malah menyebutkan, antara
Government Watch (Gowa) --LSM yang serius menangani kasus Bulog-- dengan Fuad 
berhubungan erat. Tapi Koordinator Gowa, Farid R.
Faqih menolak tudingan itu. ''Kami tidak punya hubungan apa-apa dengan Pak Fuad. Kami 
bekerja independen,'' ujarnya.

Terungkapnya Buloggate ternyata cukup efektif. Hampir semua media massa membongkar 
skandal yang melibatkan kalangan Istana itu. Gus
Dur terpaksa harus diperiksa sebagai saksi atas kasus itu. Sebelumnya Bondan Gunawan, 
Sekretaris Presiden Bidang Pengendalian
Pemerintahan sekaligus Pejabat Sekretaris Negara akhirnya juga mundur setelah diserang 
bertubi-tubi.

Selain itu, Fuad membentuk kelompok kajian politik yang bermarkas di Gedung Bursa 
Gagasan milik Yayasan Ibnu Sina yang didirikan
oleh Fuad sendiri yang berada di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Dari sanalah 
kabarnya sejumlah strategi dan langkah taktis
digulirkan untuk menyerang Gus Dur. Tiap Selasa malam 'kelompok Kuningan' itu juga 
menggelar diskusi bertajuk Tuesday's Dialog on
Debt di Hotel Indonesia, Jakarta.

Tidak cuma itu. Fuad cs juga dikabarkan menjalin hubungan dengan sejumlah perwira 
tinggi TNI yang kecewa. Mundurnya Bondan Gunawan
tidak lepas dari manuvernya bersama para jenderal itu. Mereka sebelumnya merasa 
dikorbankan oleh intervensi Bondan yang terlalu jauh
dalam mutasi TNI. Mereka adalah Kaster Letjen TNI Agus Widjaja dan Mayjen TNI Djaja 
Suparman. Kedua jenderal ini kabarnya juga
bertemu dengan kepentingan kelompoknya Jenderal TNI (Purn.) Wiranto dan Jenderal TNI 
(Purn.) Hartono, mantan KSAD.

Kabar Fuad menjalin hubungan politik dengan kedua jenderal itu membuat pihak lawan 
menemukan alasan kuat. ''Mereka kelihatannya
disatukan oleh kepentingan untuk melindungi keluarga Cendana,'' ujar sumber ADIL di 
Fraksi PKB. Harus diakui, ia memang pernah
menjadi orang kepercayaan Soeharto.

Sengitnya Fuad menyerang itulah yang membuat Gus Dur murka. Pertemuannya dengan 
masyarakat Indonesia di Kairo, Mesir, Selasa (20/6),
betul-betul dimanfaatkan. Ia mengungkapkan banyak orang yang sakit hati kepadanya. 
Misalnya saja Fuad Bawazier. Ia merasa pernah
dijanjikan menjadi salah satu pejabat tinggi. ''Fuad ngamuk-ngamuk kepada saya, karena 
katanya, saya pernah menjanjikannya untuk
menjadi pejabat tertentu. Saat itu saya diam dan dikira setuju. Saya sendiri tidak 
mengira begitu,'' katanya.

Gus Dur juga menyinggung soal ambisi Ketua MPR Amien Rais. Menurutnya, Amien merasa 
dirinya yang paling pantas menjadi presiden.
''Dia juga pernah menugaskan Fuad menemui saya menyampaikan hal itu. Saya diam saja. 
Dikira saya setuju. Kemudian yang jadi presiden
saya. Seharusnya dia bisa terima,'' kata kepala negara lagi. Tapi pernyataan itu 
segera dibantah Amien Rais. ''Saya tidak pernah
minta Fuad Bawazier untuk mendatangi Gus Dur agar mendukung saya menjadi presiden,'' 
jelasnya.

Senada dengan itu, Effendi Choirie percaya, apa yang dilakukan Fuad selama ini tidak 
lepas dari kekecewaannya tidak dapat menduduki
jabatan Menkeu dan Kepala BPPN. "Padahal lobinya untuk mendapatkan jabatan itu sudah 
dilakukan dengan berbagai cara. Baik mengajukan
namanya sendiri maupun orang lain," katanya. Sebenarnya, Gus Dur juga tahu keinginan 
mantan pendukungnya itu. Namun karena banyak
pihak yang menentang, maka baik Fuad maupun jagonya kandas. Apalagi Fuad identik 
dengan Orde Baru.

Sudah pasti Fuad membantah semua tudingan yang dialamatkan kepadanya. ''Itu kan 
statemen-statemen yang sebetulnya dilakukan
orang-orang yang paranoid. Sebaiknya kalau ada kritik dari siapa pun juga, apalagi 
dalam alam reformasi seperti sekarang ini, itu
harus dilihat kepada konteks kritikannya,'' tuturnya kepada ADIL. Kalau begitu operasi 
khusus (opsus) gaya baru yang dilakukan pada
Juli nanti --jika benar ada-- bagian dari sikap paranoid itu dong!

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Jul 2000 jam 16:30:59 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke