----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, 3 Juli 2000

Ke Mana Nasionalisme Mereka?

NASIONALISME dalam pengertian cinta tanah air, negara, dan
bangsa, tengah memudar di sebagian masyarakat Indonesia.
Ironisnya, lunturnya rasa kebangsaan ini justru ditunjukkan oleh
kalangan elite politik kita sendiri. Gejala denasionalisasi ini
bisa ditengarai dari sinyalemen yang dilontarkan Menteri
Pertahanan Prof Dr Juwono Sudarsono bahwa berbagai gonjang-
ganjing politik nasional dan kerusuhan di beberapa tempat,
di-remote oleh mantan pejabat di era Orde Baru. Carut-maruk
republik ini, lebih diprovokasi oleh dinamika wacana publik yang
membingungkan awam.

Kalau sinyalemen ini benar, betapa naifnya elite politik kita
yang berdiri di belakang segala kekisruhan ini.
Merekalah yang dulu mengajarkan kepada kita untuk selalu bersatu
dengan slogan persatuan dan kesatuan.
Namun, kenapa setelah tidak berkuasa lagi, justru mereka pula
yang mengkoyak rasa persatuan dan kesatuan bangsa?

Sekali lagi, kalau sinyalemen Menteri Pertahanan ini benar,
sungguh nasionalisme mereka patut dipersoalkan.
Mungkinkan nasionalisme mereka hanya sebatas kekuasaan, atau
bahkan uang? Benarkah nasionalisme tuan-tuan telah tercampakkan,
sehingga tega menghancurkan negeri yang pernah tuan bangun
sendiri?

Memang, sulit untuk tidak mempercayai sinyalemen Pak Juwono.
Sebodoh-bodohnya sebagai wong cilik, kita pasti bisa membaca
bahwa dalang segala instabilitas politik dan keamanan di negeri
ini adalah orang-orang yang terdidik, terlatih, berpengaruh, dan
memiliki uang. Karenanya, tidak mengherankan bila goncangan
stabilitas nasional ini sangat simultan sifatnya dan sistematis
gerakannya.

Kekisruhan negeri ini semakin diperparah oleh clometan-nya para
politikus, aktivis LSM, atau kalangan pakar dalam wacana
perpolitikan nasional. Simpang-siur isu yang diwacanakan, selalu
diklaim sebagai wacana demokrasi. Saya khawatir, klaim wacana
demokrasi tersebut bukan malah mendewasakan masyarakat dalam
berdemonstarsi, tetapi sebaliknya malah membingungkan rakyat
banyak. Bahkan lebih dari itu, rakyat tampaknya mulai bosan
mendengarkan retorika kosong mereka.

Kekhawatiran saya sesungguhnya juga merupakan kerisauan awam.
Pada titik tertentu, apabila masyarakat banyak sudah tak dapat
lagi menahan diri maka negeri ini akan dilanda kemarahan rakyat.
Kalau hal ini terjadi, chaos pun tak bisa dihindarkan lagi.
Melalui tulisan ini, saya mengetuk hati nurani pemilik tangan-
tangan kotor yang bermain di balik kekacauan negeri ini,
termasuk mereka yang suka melantunkan retorika kosong dalam
debat publik. Sudilah kiranya tuan-tuan menghentikan nafsu
kekuasaan dan provokasi yang meluluhlantakkan persatuan dan
kesatuan bangsa. Negeri ini bukan hanya milik tuan semata.
Negeri ini adalah milik lebih dari 200 juta penduduk yang
menghuninya. Akankah tuan mewariskan jaman jahiliah ini kepada
generasi penerus, yang juga berhak atas terbitnya Indonesia
Baru? Rasanya, sah-sah saja kalau kami terobsesi oleh Indonesia
Baru yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo.

AG. PUTRANTO

Pasar Minggu, Jakarta Selatan
-----------------------------

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 4 Jul 2000 jam 07:19:51 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke