---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- FADEL MUHAMMAD AKAN DITANGKAP PALU, (SiaR, 4/7/2000). Presiden Gus Dur mensinyalir ada pengusaha dari Jakarta yang ikut menyokong kerusuhan di beberapa daerah. Dan diduga kuat, Fadel Muhammad orang tersebut. Sejumlah informasi yang diperoleh SiaR menyebutkan, dugaan keterlibatan Fadel Muhammad dalam operasi kerusuhan di Poso dan sebagainya adalah karena Peruguruan Islam miliknya di Palu dijadikan basis (benteng pertahanan) utama Laskar Jihad. Tanggal 27 Mei yang lalu, saat meletus pertempuran terakhir di Poso, Komplek Perguruan Islam Alkhaerat dipakai Laskar Jihad untuk menggelar pasukannya. Bahkan di tempat itu diduga kuat sebagai gudang senjata kelompok tersebut. "Ketika apel Laskar Jihad di komplek itu, mereka mengeluarkan semua senjatanya, sebelum diberangkatkan ke Poso," ujar Mahmudi, penduduk setempat kepada SiaR. Yayasan Perguruan Islam Alkhaerat merupakan perguruan Islam cukup tua dan sangat dikenal oleh masyarakat Palu. Perguruan itu didirikan oleh keluarga Fadel Muhammad. Sekarang, Fadel menjadi salah satu direkturnya. Menurut informasi, belum ada bukti tertulis yang menyebutkan bahwa Fadel terlibat dalam aksi kerusuhan di Poso. Karena semua transaksi dilakukan dengan cash. Namun polisi sudah mengantongi sejumlah saksi yang memperkuat dugaan tersebut. Sementara itu Presiden Abdurrahman Wahid memberi batas waktu sampai 15 Juli 2000 kepada Kapolri Jenderal Rusdiharjo untuk menangkap para provokator yang memicu munculnya berbagai kerusuhan di beberapa daerah. "Saya beri batas waktu kepada Kapolri sampai tanggal 15 Juli 2000 untuk menangkap provokator tersebut," kata Presiden Gus Dur di Medan, Sumatra Utara. Menurut Gus Dur, pihak-pihak yang selama ini diduga sebagai penghasut di tengah-tengah masyarakat itu harus diamankan sebelum Sidang Umum Tahunan MPR bulan Agutus mendatang. Dikatakan, jika provokator itu berhasil ditangkap maka tidak akan dikeluarkan sebelum Sidang Umum Tahunan MPR selesai dilaksanakan. "Jati diri dan oknum-oknum provokator itu telah diketahui dengan jelas oleh petugas. Hanya tinggal menangkap saja. Pihak provokator itu tetap harus ditangkap dan tidak akan dibiarkan begitu saja," tambah Gus Dur. Polisi sampai saat ini telah menahan 13 dari puluhan tersangka kasus tragedi pertikaian berdarah di Kota Poso dan sekitarnya yang pecah sejak 17 April lalu. Para tersangka --anggota kedua kelompok yang bertikai di Poso-- ditahan karena terlibat berbagai tindak pidana selama periode April, Mei, dan Juni, seperti memprovokasi massa, penganiayaan, pembunuhan, serta penjarahan. Polisi juga berhasil menemukan bukti-bukti antara lain adanya keterangan banyak saksi, pengakuan dari pihak tersangka sendiri, serta barang bukti senjata tajam dan senjata api rakitan serta amunisinya. Dalam operasi penyisiran akhir pekan lalu, polisi berhasil menemukan 19 mayat yang dikubur secara massal dalam tiga lubang di Desa Tagolu, ibu kota Kecamatan Lage. "Mayat-mayat itu diduga kuat merupakan korban tindak kekerasan beberapa hari setelah terjadi penyerangan mendadak oleh kelompok perusuh bersenjata api di Poso pada 23 Mei," katanya. Korban sudah sulit dikenali, apakah anggota Kelompok Merah atau Kelompok Putih, sebab kondisi fisik mereka umumnya sudah membusuk. Bahkan sebagian ada pula yang tinggal tulang-belulang akibat terbakar. Polisi setempat menyatakan mereka masih terus mencari korban pertikaian berdarah yang membesar sejak 23 Mei itu. Sebab, menurut laporan berbagai pihak, banyak lokasi di Kecamatan Poso Pesisir, Lage, dan Pamona Utara dijadikan sebagai kuburan massal oleh pasukan kelompok perusuh. TNI yang bertugas melaksanakan operasi pemulihan keamanan di Poso, Jumat lalu (30/6) juga telah menemukan tiga kuburan massal berisi sekitar 39 mayat korban kerusuhan di Desa Tagolu, Kecamatan Lage, sekitar 7 km arah selatan Kota Poso. Mayat-mayat tersebut ditemukan dalam kedaan sudah membusuk di dalam tiga lubang terdiri atas orang tua dan anak-anak. Disinyalir mayat-mayat itu adalah sebagian dari santri Pondok Pesantren Wali Songo dan warga Desa Sintuwu, Lembah Kecamatan Lage, Kabupaten Poso yang dibantai Kelompok Merah saat pecah kerusuhan babak ketiga di Poso. Pertikaian berkepanjangan bernuansa SARA di Kabupaten Poso sedikitnya telah mengakibatkan 200 orang tewas dan lebih dari 3.000 bangunan milik penduduk musnah dibakar oleh kedua kelompok yang bertikai. *** - ------------------------------------------------ SiaR WEBSITE: http://lawpc42.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 4 Jul 2000 jam 11:55:42 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
