---------------------------------------------------------- The US government makes available 55.000 GREEN CARDS (permanent residence visa) in a random lottery. Visit http://www.us-immigration.org for details on how to play the GREEN CARD LOTTERY -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Inggris dan AS Terlibat Tragedi 1965 Jakarta, Kompas Mantan tahanan politik berkebangsaan Inggris, Ny. Carmel Budiardjo (75), mengemukakan di Jakarta, Jumat, negara barat seperti Amerika Serikat dan Inggris terlibat dalam tragedi kemanusiaan 1965-1966. "Di Inggris, dokumen negara yang sudah berumur 30 tahun dapat dibuka untuk publik dan di situ terungkap pada 1962 PM Inggris Mcmillan melakukan perjanjian rahasia dengan presiden AS JF. Kennedy untuk 'get rid of' Soekarno," kata Carmel dalam diskusi buku "Plot TNI AD - Barat di Balik Tragedi 1965". Carmel mengakui hingga kini belum ada pihak yang dapat memastikan apakah "get rid of" tersebut berarti menyingkirkan nyawa Soekarno atau hanya menghabisi karir politiknya. Janda Suwondo (meninggal 1997) tersebut, juga mengemukakan saat kejadian usai G-30-S, Kedubes Inggris mengirim kawat ke London yang isinya laporan bahwa Inggris sebaiknya mendukung seluas-luasnya usaha menghancurkan komunis dan menyingkirkan Soekarno. Ibu dua anak yang ditahan tanpa pengadilan di penjara wanita Bukit Duri Jaktim pada 1968 hingga 1971 itu, lebih lanjut mengemukakan Inggris kemudian menyusun propaganda seperti Komunis RRC terlibat di belakang usaha kudeta, yang terbukti berhasil menajamkan opini publik. Dia mengatakan dalam operasi propaganda tersebut dilakukan pertemuan-pertemuan dengan pihak intelejen Inggris MI-6 di satu tempat bernama Phoenix Park. Amerika Serikat, lanjut Carmel, juga tidak diam tetapi memberikan senjata ringan untuk mempersenjatai orang-orang yang akan menyapu bersih siapa saja yang dituduh komunis. "Ketika saya dikeluarkan dari tahanan dan harus ke Inggris, saya terhenyak saat membaca berita koran di sana tentang Indonesia 1965, sebab tidak banyak berita bahkan mereka menulis yang terjadi adalah perang saudara, padahal yang terjadi pembantaian orang-orang," katanya dan menambahkan propaganda pemerintahnya ternyata berhasil juga mengelabui pers barat. Dia mengemukakan pengungkapan sejarah Indonesia pada periode 1965-1966 itu tidak hanya harus dilakukan di Indonesia, tetapi juga di luar negeri seperti di Inggris dan AS untuk mengetahui seberapa jauh keterlibatan mereka dalam kasus tersebut. Diskusi tersebut juga menampilakan peneliti LIPI, Dr. Asvi Warman Adam, serta dihadiri tokoh PRD Budiman Sujatmiko, Ketua Partai SBSI Dr. Muchtar Pakpahan, serta para mantan Tapol Napol seperti Letkol Purn A. Latief.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 11 Jul 2000 jam 08:14:54 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
