----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

'Biang Kerok' Ada di Singapura
Tudingan Soal Sumber Gejolak Rupiah

Singapura dituding sebagai 'biang kerok' gejolak kurs rupiah yang meresahkan
masyarakat Indonesia. Maka, Bank Indonesia (BI) dan pemerintah didesak
segera melarang perdagangan rupiah di luar negeri karena hanya digunakan
untuk spekulasi.

Demikian rangkuman pendapat dari sejumlah analis pasar uang akhir pekan
lalu. Analis itu di antaranya Farial Anwar dan Mirza Adityaswara yang
menyesalkan langkah lambat pemerintah dan BI, bahkan pasrah melihat rupiah
dipermainkan spekulan.

"Sumber spekulasi rupiah bersarang di Singapura. Negeri itulah 'biang kerok'
gejolak kurs rupiah," ujar Farial. Menurut dia, data selama ini membuktikan
fluktuasi rupiah paling ditentukan spekulan di Singapura. "Rupiah, sumber
spekulasi paling empuk bank-bank di sana."

Menurut pengamatannya, spekulan di negeri tetangga itu memang senang
mempermainkan mata uang regional, seperti rupiah karena kondisi bank-banknya
belum membaik. Sementara bank-bank di sana kuat. Apalagi Singapura selama
ini hanya hidup dari jasa finansial dan perdagangan. Soal ekonomi Indonesia
hancur akibat rupiah, mereka tak peduli. "Jadi kalau ada berita-berita buruk
tentang Indonesia justru sumber spekulasi dealer di Singapura. Ini yang
harus dikendalikan."

Analis perbankan, Mirza Adityaswara juga mengatakan berita konflik politik
di surat kabar dalam dan luar negeri turut memberi kontribusi pelaku pasar
asing untuk berspekulasi. Pialang valas di luar Indonesia, begitu membaca
head line surat kabar Singapura yang `jelek` tentang Indonesia, langsung
saja memborong dolar.

Farial dan Mirza mendesak bank sentral menutup perdagangan rupiah untuk
orang di luar Indonesia, kecuali didasari transaksi underlying yakni
transaksi yang terkait dengan perdagangan. Misalnya, orang Singapura perlu
rupiah untuk membeli saham, perdagangan impor-ekspor atau membayar utang,
itu diperbolehkan.

"Tapi bila punya rupiah atau beli dolar untuk spekulasi, sebaiknya dilarang
saja karena tidak cocok dengan situasi di Indonesia," papar Mirza.

Apalagi, Farial menambahkan selama ini rupiah di luar negeri memang murni
digunakan untuk spekulasi. Di luar negeri, rupiah tidak laku. Tidak ada
orang yang menggunakan rupiah untuk transaksi perdagangan dan lainnya yang
tak terkait dengan spekulasi.

"Kita membiarkan rupiah dipermainkan di luar negeri hanya karena IMF.
Lembaga ini kan diboncengi spekulan dunia yang menyumbang pajak besar bagi
negara besar, seperti AS," tegas Farial.

Ketika ditanya mengenai pernyataan Menkeu dan Menko Ekuin pasar perlu
belajar dan nantinya akan memahami konflik politik di Indonesia, Farial
tidak sependapat (Media, 10/07). Justru yang perlu belajar adalah Menkeu dan
Menko Ekuin karena tidak tahu pasar valas.

"Konflik politik bagi pelaku pasar bukannya perlu dipelajari, tapi dicari
spekulan. Bahkan, mereka sering menciptakan isu negatif dari mereka sendiri
tentang Indonesia."***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Jul 2000 jam 08:15:49 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke