---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Pengungsi Kluet Makin Membengkak TAPAKTUAN-Pengungsi di Kecamatan Pembantu Pasi Raja, Kluet Utara, Aceh Selatan terus membengkak, sampai Selasa (11/7) kemarin tidak kurang 10 ribu jiwa. Kondisi mereka sangat memprihatinkan, selain kekurangan bahan makanan, banyak warga mulai terserang berbagai penyakit, dan sedikitnya tiga orang ibu hamil dilaporkan melahirkan di lokasi. Bengitupun Pemda Aceh Selatan, sampai Selasa pagi kemarin, belum melakukan penanggulangan. Bahkan, untuk memulai aksi penanggulangan, menurut sebuah sumber di Setda setempat, diperlukan dulu rapat koordinasi dengan semua unsur Muspida. Padahal, saat ini Bupati Ir T Machsalmina Ali masih dalam perjalanan pulang dari Banda Aceh. "Saya rasa tindakan penanggulangan harus menunggu bupati berada di tempat," kata sumber itu. Tanpa bupati, pejabat Pemda tak ada yang berani memulai upaya penanggulangan pengungsi. Sedangkan Ketua DPRD, Ir Mismaruddin Mahdi, juga baru kembali dari Banda Aceh. Ketika dihubungi, kemarin, Mismaruddin mengatakan, nasib masyarakat Kluet Utara yang mengungsi sangat memprihatinkan. Mereka terpaksa mengungsi secara besar-besaran. "Aneh kalau untuk membantu rakyat, para pejabat tak punya nyali. Alasannya hanya karena menunggu bupati pulang, dan butuh rapat segala. Ini darurat. Apa tak ada telepon sehingga harus menunggu kehadiran fisik bupati baru ada tindakan. Kalau rakyat kelaparan karena harus menunggu rapat-rapat pejabat dulu bagaimana?," kata Mismarudin kesal. Karenanya, para pejabat di lingkungan Pemda Aceh Selatan didesak segera turun tangan, karena menyangkut nasib ribuan warga. Lebih penting lagi, Tim KBMK (Komite Bersama Modalitas Keamanan) Jeda Kemusian Tk I Aceh diminta segera turun ke Kluet Utara sehingga dapat mengetahui motif pengungsian yang sebenarnya. Pimpinan dewan itu mengajak semua pihak untuk berpikir dengan menggunakan mata hati, karena tak mungkin ada kebohongan di sana. "Kasihan kita melihat masyarakat yang tak berdosa. Mereka tiba-tiba menjadi warga pengungsi di kampungnya sendiri, dengan sarana dan prasarana serba terbatas," kata Ir Mismaruddin. Keterangan yang diperoleh Serambi dari sejumlah warga Kluet Utara, jumlah pengungsi semakin meningkat. Arus pengungsi bukan saja datang dari 22 desa dalam wilayah Kemukiman Terbangan dan Kemukiman Rasian, melainkan dari Kemukiman Asahan, Harapan, dan Manggamat. "Jumlah pengungsi berkisar antara 14 ribu sampai 15 ribu jiwa," kata salah seorang tokoh masyarakat Kluet Utara kepada Serambi, kemarin. Lokasi pengungsian terpusat di tiga lokasi, terbesar di komplek Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pertanian, Desa Ujong Padang Rasian, sekitar 20 Km dari Tapaktuan arah Medan. Kemudian, lokasi Pesantren Jabal Makmur, Pucuk Krueng, dan Masjid Ujong Batu. Laporan terakhir, pengungsi yang menempati lokasi Masjid Ujong Batu telah diminta pindah ke SMK Pertanian. Kedatangan arus pengungsi dilukiskan sangat menyedihkan. Mereka terpaksa harus memboyong seluruh anggota keluarga, orang tua, orang sakit, termasuk ibu-ibu yang baru beberapa hari melahirkan. "Orang sakit harus dibawa dengan tandu ke lokasi pengungsian," lapor salah seorang warga disana. Dengan mengutip pengakuan salah seorang perawat yang bertugas di lokasi pengungsian, warga itu menjelaskan, tiga ibu hamil melahirkan bayi di lokasi, Senin (10/7) malam, dan kondisinya kini sangat memprihatinkan. Ratusan warga mulai terserang penyakit, seperti demam dan diare. Kondisi ini semakin diperburuk, karena di lokasi SMK Pertanian tidak ada persediaan air yang cukup. Ribuan jiwa yang menempati lokasi pengungsian terpaksa mengkomsumsi air dari kawasan rawa-rawa atau aliran sungai kecil yang terdapat di bagian belakang atau sekitar lokasi sekolah. Tentunya, masalah ini sangat rentan penyakit diare. Persedian makanan, juga terbatas, karena sebagian besar pengungsi merupakan masyarakat miskin tak memiliki persedian makanan. Makanya, bila tidak segera ditanggulangi, ribuan warga terancam kelaparan. Warga yang kini mengungsi minta Pemda segera menurunkan tim medis atau petugas PMI (Palang Merah Indonesia) Cabang Aceh Selatan untuk menangani warga yang tergeletak sakit di lokasi. "Bila tidak korban jiwa akan berjatuhan, karena di lokasi terdapat sejumlah warga yang tergeletak sakit. Mereka sebelumnya terpaksa dibawa dengan tandu dari rumah," kata salah seorang warga di sana. Menurut keterangan yang berhasil dikumpulkan, belasan ribu masyarakat yang kini mengungsi sangat berkeinginan kembali ke rumah masing-masing. Mereka bersedia kembali, asalkan ada jaminan keamanan dari aparat. Soalnya, di kampung mereka sangat terancam, seperti ancaman rumah akan dibakar, bila tidak mengungsi. Yusnan, yang mewakili Kadis Kesehatan Aceh Selatan ketika dihubungi, kemarin menjelaskan, secara resmi belum menerima laporan tentang adanya pengungsi yang menderita sakit seperti diare. Tapi diakui, Kepala Puskesmas Kotafajar telah menghubungi dinas kesehatan di Tapaktuan untuk meminta persedian sejumlah obat-obatan. "Bantuan obat-obatan segera kami kirim ke lokasi," kata Yusnan. Ribuan warga Kecamatan Pembantu Pasi Raja, Kluet Utara mengungsi ke komplek SMK Pertanian, Ujong Padang Rasian, sejak Minggu (9/7) lalu. Mengenai alasan warga melakukan aksi mengungsi berkembang dua versi. Menurut Pejabat Pengganti Sementara (PGS) Kapolres Aceh Selatan, Asisten Superintendent Drs Supriadi Djalal karena intimidasi kelompok yang selama ini berbuat kekacauan di sana. Sedangkan Tgk Dikluet yang mengaku dari Biro Penerangan GAM Wilayah Kluet mengatakan, masyarakat mengungsi karena takut kepada patroli aparat. Belasan ribu pengungsi yang kini menempati tiga titik lokasi, SKM Pertamian, Pesantren Jabal Makmur, dan Masjid Ujong Batu. Sebagian besar mereka datang dari 22 desa dalam wilayah Kemukiman Terbangan dan Kemukiman Rasian, selebihnya dari Kemukiman Asahan, Harapan dan Manggamat. Data lengkap tentang pengungsi belum diperoleh, karena pihak Kecamatan Kluet Utara, sampai Selasa kemarin belum mengirim laporan kepada Kantor Bupati Aceh Selatan. Menurut keterangan sementara, warga yang mengungsi di Kemukiman Terbangan mencakup Desa Ladang Tuha, Ladang Teungoh, Pucuk Krueng, Ujung Batu, Mata Ie, Panton Bili, Silolo, Kampung Baru, Ladang Baro, dan Paya Ateuk. Sementara Kemukiman Rasian, terdiri dari Desa Teupin Gajah, Seuneubok, Krueng Kale, Lhok Sialang Cut, Lhok Sialang Rayeuk, Pulo Ie II, Ladang Baro, Pasi Rasian, Ie Mirah, Ujong Padang Rasian atau lokasi SMK Pertanian. Pengungsi telah mendirikan tenda-tenda darurat dari plastik di lokasi pengungsian. Sebagian lagi telah memasuki ruang-ruang belajar SMK Pertanian, termasuk asrama pelajar, dan ruang laboraturium. Suasana Kemukiman Terbangan dan Kemukiman Rasian dilaporkan sunyi senyap. Arus lintas di jalan raya agak lengang, lantaran armada umum yang beroperasi sangat minim.(nun) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 12 Jul 2000 jam 03:56:29 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
