---------------------------------------------------------- The US government makes available 55.000 GREEN CARDS (permanent residence visa) in a random lottery. Visit http://www.us-immigration.org for details on how to play the GREEN CARD LOTTERY -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Suara Pembaruan, 3 Juli 2000 FRN: Suatu Kesempatan Historis untuk Reformasi Oleh: Albert Hasibuan Ketika Jean-Jacques Rousseau dalam Le Conffesions menyerukan bahwa segala sesuatu secara fundamental tergantung dari politik, ia membuat pernyataan yang bersifat provokatif dan mendua. Dalam pandangannya, politiklah yang menjadi akar dari kehidupan sosial, bukan kebiasaan atau adat-istiadat, bukan moral ataupun agama. Ia berpendapat bahwa karakter rakyat bergantung pada sifat pemerintahnya. Seperti diketahui, pernyataan Rousseau itu kemudian merupakan isu fundamental yang dihadapi Revolusi Prancis tahun 1789 sampai 1799. Karena revolusi itu membuka kesempatan yang unik dalam menyusun kembali susunan dan hubungan atau kontrak sosial rakyat Prancis, kira-kira bagaimana bentuknya? Apa yang menjadi kemauan umum di Prancis pada tahun 1790-an? Oleh sebab itu, kaum revolusioner tidak saja berdebat tentang permasalahan klasik pemerintahan, seperti kebaikan monarki berhadapan dengan republik, atau aristokrasi berhadapan dengan demokrasi. Melainkan, mengubah dan mengembangkan suatu struktur politik yang disebabkan makin berkembangnya bentuk dan pengertian seperti partisipasi politik dan mobilisasi populer, bahasa politik, ritual politik dan organisasi-organisasi politik. Istilahnya, rekonstitusi dan regenerasi ide-ide dan praktek politik. Berhubung dengan itu, mungkin agak terlalu dibesar-besarkan atau exaggerated bilamana dibandingkan antara Revolusi Prancis pada tahun 1790-an dengan peristiwa Forum Rembuk Nasional (FRN) di Kuta Bali, tanggal 30 Juni sampai 1 Juli tahun 2000 itu. Namun, dilihat secara fundamental, pada hakikatnya, ada persamaan-persamaannya. Kalau Revolusi Prancis hendak menjungkirbalikkan segala sesuatu yang berkaitan dengan monarki absolut, sekalipun tidak berhasil sepenuhnya dengan timbulnya keadaan teror dan guillotine dari Robespierre, FRN berupaya untuk clean break with the past dengan rekonstruksi dan dekonstruksi, rekonstitusi serta regenerasi nilai-nilai dan pemikiran yang baru. Memang, seperti juga terjadi pada Revolusi Prancis, yang mengambil prakarsa pada FRN adalah kelas menengah seperti kaum intelektual, akademisi, politisi, pengusaha, budayawan, pemimpin LSM, mahasiswa, dan sebagainya yang resah terhadap jalannya reformasi di seluruh sektor kehidupan bangsa Indonesia, sekarang ini. Lalu, sikap yang diambil adalah demi kepentingan dan kebaikan seluruh rakyat Indonesia. Bukan, sikap partisan yang sempit atau narrow partisan spirit, yang tergambar dari sikap oportunisme, faksionalisme, kedengkian atau meanness, egoisme, pemecahbelahan, kesempitan atau narrowness. Sebab itu, momentum dan kesempatan historis dan unik itu harus dipergunakan, seperti kata Nurcholish Madjid, ''Kita menggunakan momentum ini untuk membuat investasi politik yang sejauh mungkin memenuhi norma-norma demokrasi, sebagaimana menjadi cita-cita kenegaraan kebangsaan kita agar menjadi acuan dan teladan bagi angkatan-angkatan mendatang. Dan, kita melakukan investasi moral etika publik, agar kita sebagai bangsa tetap memiliki kelayakan etis dan moral untuk tetap bertahan hidup, kalau bisa selama- lamanya.'' Ada banyak pertanyaan, apakah forum ini terkait atau menyediakan kontinuitas legitimasi bagi Gus Dur? Jawabannya, sama sekali tidak! Kenapa Gus Dur datang pada hari Sabtu sore itu? Gus Dur datang untuk menyampaikan pikiran-pikirannya, dan sekaligus berdialog, serta kemudian menerima hasil rembuk itu untuk dilaksanakan apa yang merupakan porsi tugas pemerintah. Mengapa waktunya dekat-dekat dengan bulan Agustus di mana MPR bersidang? Jawabnya, FRN sudah lama digagas dan direncanakan. Seperti dikatakan seorang pembicara, seumpama dapur bangsa, kita menghadapi piring lama yang belum dibersihkan, tiba-tiba sudah datang piring baru yang kotor. Apalagi tukang cuci piringnya ternyata kurang andal seperti yang diharapkan. Piring kotor menumpuk, makin lama makin banyak. Semua tempat nantinya berisi piring kotor, ditaruh disembarang tempat. Yang penting adalah hasil Forum Rembuk Nasional itu harus ditindaklanjuti, baik oleh pemerintah maupun masyarakat seluruhnya di bidang politik, hukum, ekonomi, pemberantasan KKN, kerawanan sosial, integrasi bangsa, desentralisasi, dan sebagainya yang merupakan penggambaran usaha-usaha reformasi sekarang ini maupun di waktu yang akan datang. Semua ini mengacu sedikit banyak pada kepemimpinan nasional yang kuat yang dimulai dari level presiden dan kabinet, termasuk behavior of the presidency.* ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 17 Jul 2000 jam 12:34:33 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
