---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- --------------------------------------------------------------------- WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP Edisi: Bahasa Indonesia Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir. --------------------------------------------------------------------- Edisi ini diterbitkan pada: Selasa 18 Juli 2000 15:00 UTC ** CINA DAN RUSIA MENENTANG PERISAI LUAR ANGKASA AMERIKA ** JUMLAH KORBAN SAMPAH LONGSOR FILIPINA MASIH MENINGKAT TERUS ** KOREA UTARA DAN JEPANG AKAN BERUNDING ** TOPIK GEMA WARTA: INTERVENSI ASING DI MALUKU DIBUTUHKAN KARENA PEMERINTAH TERLALU SIBUK DENGAN DIRI SENDIRI ** TOPIK GEMA WARTA: MAMPUKAH INDONESIA MENOLAK INTERVENSI ASING DALAM SOAL MALUKU? * CINA DAN RUSIA MENENTANG PERISAI LUAR ANGKASA AMERIKA Cina dan Rusia menandatangani pernyataan bersama menentang pembuatan perisai luar angkasa baru Amerika. Penandatanganan berlangsung pada kunjungan kenegaraan pertama Presiden Rusia Vladimir Putin di Cina. Dalam pernyataan itu kedua negara mengatakan perisai rudal baru itu merupakan ancaman bagi keseimbangan strategis sedunia. Putin sebelumnya resmi disambut di lapangan Tien An Men. Dengan kunjungan Putin ini kedua negara ingin menggarisbawahi persekutuan mereka. Selain pernyataan bersama itu Cina dan Rusia juga akan membicarakan dipereratnya hubungan ekonomi. * JUMLAH KORBAN SAMPAH LONGSOR FILIPINA MASIH MENINGKAT TERUS Regu penyelamat Filipina masih menemukan dua mayat di kawasan kumuh dekat ibukota Manila yang tertimbun sampah longsor dan lumpur pekan lalu. Jumlah korban tewas sampah longsor itu kini mencapai 202 nyawa. Sekitar 200 tempat tinggal di kawasan kumuh dekat Manila tertimbun lumpur dan sampah pekan lalu ketika gunung sampah di dekatnya longsor akibat hujan yang berkelanjutan. Menurut otoritas Filipina dua mayat yang ditemukan hari ini sudah membusuk berat sehingga tidak lagi bisa diidentifikasi jenis kelaminnya. Sejauh ini lebih dari 60 mayat masih belum bisa diidentifikasi. Jumlah orang yang masih tertimbun sampah tidak diketahui karena jumlah orang yang hidup di kawasan kumuh itu tidak pernah diketahui pula. * KOREA UTARA DAN JEPANG AKAN BERUNDING Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Menteri Luar Negeri Jepang dan Korea Utara akan mengadakan perundingan. Hubungan kedua negara menjadi dingin menyusul berbagai konflik. Perundingan dimaksudkan membuahkan hubungan diplomatik. Perundingan pertama dijadwalkan akhir Juli pada KTT ASEAN. Perundingan ini dalam rangka perkembangan baru yang berjalan di Korea Utara. Di masa Perang Dingin Korea Utara terisolasi. Tetapi negeri itu nampak ingin memulihkan hubungan dengan luar negeri menyusul pertemuan puncak dengan Korea Selatan bulan lalu. Korea Utara saat ini mengalami kekurangan bahan pangan. * BEKAS SANDERA ASAL JERMAN TIBA DI NEGERINYA Perempuan Jerman yang dibebaskan dari pulau Jolo, Filipina, Senin kemarin telah tiba di negerinya. Renate Wallert, bersama warga asing lain disandera pembangkang muslim Filipina Abu Sayyaf selama 12 minggu. Selasa pagi tadi bekas sandera Jerman itu tiba di bandar udara Frankfurt. Diperkirakan ia segera dilarikan ke sebuah klinik untuk diperiksa kondisi medis dan mentalnya. Renate Wallert, 56 tahun, mengalami tekanan darah tinggi sesaat setelah disandera di pulau Jolo, Filipina Selatan. Menurut seorang jurubicara pemerintah Jerman Wallert dibebaskan tanpa uang tebusan. Suami dan putra perempuan Jerman itu masih disandera oleh pembangkang muslim bersama 30an sandera lainnya, di antaranya sepuluh orang wisatawan asing. * AUSTRALIA MEMBERLAKUKAN SANKSI TERHADAP FIJI Australia memberlakukan sanksi terhadap kepulauan Fiji untuk memprotes pengucilan warga Fiji keturunan India dari kancah politik. Pemerintah di Canberra mengurangi sepertiga bantuan dana pembangunan dan menangguhkan kerjasama militer. Selandia Baru sebelumnya memberlakukan sanksi serupa terhadap Fiji, setelah berakhirnya penyanderaan bernuansa SARA di gedung parlemen ibukota Suva. Presiden baru kepulauan Fiji, Ratu Josefa Ilo-ilo, berseru kepada rakyat agar mempertahankan kesatuan dan tidak mendiskriminasi saudara sebangsa dan setanah air. Pelantikan presiden baru itu secara tak terduga dihadiri juga oleh pemimpin penyanderaan George Speight yang sangat nasionalistis. Speight mengatakan tidak bisa menjamin bahwa semua kekerasan terhadap suku minoritas keturunan India kini telah berakhir. Kamis lalu Speight membebaskan 18 orang menteri dan anggota parlemen yang disanderanya selama berminggu-minggu. * AIDS ADALAH MASALAH KEAMANAN INTERNASIONAL Dewan Keamanan PBB menyetujui tindakan untuk mencegah penyebaran penyakit AIDS oleh pasukan perdamaian. Masalah pencegahan menularnya AIDS akan diangkat sebelum pasukan perdamaian dikirim ke sebuah negara. Tentara antara lain akan didorong untuk menjalani pemeriksaan AIDS secara sukarela. PBB untuk pertama kalinya menganggap AIDS sebagai masalah keamanan internasional, dan bukannya sebagai masalah kesehatan belaka. Pasukan perdamaian dianggap sebagai faktor resiko karena mereka bisa terjangkit dan menyebarkan AIDS di seluruh dunia. Tindakan pencegahan ini diusulkan oleh duta besar Amerika di PBB Richard Holbrooke. Menurut Holbrooke pasukan PBB harus dicegah agar tidak menyebarkan suatu penyakit yang lebih mematikan ketimbang konflik yang harus mereka akhiri. Hal itu, demikian Holbrooke, sangatlah ironis. * CAMP DAVID TAMPAK MEMASUKI BABAK YANG MENENTUKAN Perundingan perdamaian antara Israel dan Palestina di Camp David, Amerika, nampak memasuki babak yang menentukan setelah berlangsung selama satu minggu. Presiden Amerika Bill Clinton meningkatkan tekanan terhadap kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan sebelum Rabu besok. Besok Clinton bertolak ke Okinawa, Jepang, dalam rangka KTT G-8, tujuh negara industri terkaya di dunia plus Rusia. Ketegangan di Timur Tengah meningkat menjelang batas waktu besok. Puluhan ribu orang turun ke jalan di ibukota Israel Tel Aviv untuk memprotes konsesi-konsesi yang kemungkinan akan diberikan Perdana Menteri Ehud Barak kepada Palestina pada KTT di Camp David. Ratusan warga Palestina melakukan mars dalam rangka mendukung para juru runding Palestina. Gerakan Hamas yang militan sementara ini memperingatkan pihaknya hanya bisa rela apabila semua tuntutan Palestina dipenuhi. * WARGA SPANYOL PROTES ETA Ratusan ribu warga Spanyol Senin kemarin menggelar aksi demonstrasi memprotes aksi-aksi teror baru gerakan separatis Baskia ETA. Menurut polisi, di kota Malaga saja, Spanyol Selatan, sebanyak 300.000 orang turun ke jalan. Di kota ini Jose Maria Martin Carpena, seorang anggota dewan kotapraja yang konservatif, ditembakmati akhir pekan lalu. ETA dituduh bertanggungjawab atas aksi teror ini dan dua aksi pemboman pekan lalu. Ribuan orang di Barcelona, Madrid dan kota-kota besar lainnya berdemonstrasi memprotes ETA. Pembunuhan di Malaga merupakan aksi teror keenam yang dilakukan ETA sejak gerakan separatis itu mengakhiri genjatan senjata akhir tahun lalu. Gencatan senjata berjalan selama 14 bulan. * LAGI-LAGI PENERBIT HARIAN LIBERAL IRAN DIHUKUM Iran kembali menghukum seorang penerbit harian liberal. Sebuah juri yang konservatif menyatakan pria itu bersalah menyebarluaskan propaganda anti negara. Vonis ini merupakan yang kedua dalam serangkaian kasus pengadilan terhadap media yang progresif. Aparat kehakiman Iran dengan demikian hendak membungkam pers yang indipenden. Menurut Ayatollah Ali Khamenei pers memberi peluang bagi kaum musuh. Khamenei adalah musuh konservatif Presiden Mohammad Khatami yang liberal. * INTERVENSI ASING DI MALUKU DIBUTUHKAN KARENA PEMERINTAH TERLALU SIBUK DENGAN DIRI SENDIRI Menteri Luar Negeri Alwi Shihab kembali menegaskan bahwa Indonesia menolak intervensi asing di Maluku. Sementara Presiden Abdurrahman Wahid membuka peluang intervensi asing hanya sebatas bantuan logistik. Tapi, bagaimana keadaan di lapangan sendiri ? Gubernur Maluku Utara, Abdul Mufi Effendi, kepada televisi swasta SCTV mengatakan, pihaknya tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Abdul Mufi Effendi: Saya kira harus hati-hati dalam rangka memilih dan memilah mana yang baik mana yang tidak. Tapi memang kami sudah menghidupkan SATKORLAP dan itu lsm yang memabntu di sana setiap Sabtu kami rapat di bawah koordinator PMI di kantor menentukan mana sasaran yang akan dicapai, apa yang diberikan. Demikian Gubernur Maluku, Abdul Mufi Effendi. Menurut sosiolog Universitas Indonesia asal Maluku, Thamrin Thomagola, kenyataan di lapangan justru mendesak segera campur tangan dunia internasional. Thamrin Tomagola [TT]: Saya kira sudah, karena sekarang ini itu tragedi Maluku itu tidak lagi sekedar tragedi nasional, itu sebenarnya sudah harus dilihat sebagai tragedi kemanusiaan. Nah kalau sebagai tragedi kemanusiaan, kalau memang kita sebagai bangsa itu tidak mampu untuk menyelesaikan dan perkembangan di lapangan itu menunjukkan tanda-tanda itu, ketidakmampuan dari aparat keamanan untuk menyelesaiakan itu, dan lebih jelek lagi karena banyak unsur dari aparat keamanan itu yang turut memperkeruh suasana di lapangan itu kan, dan kemudian ada laskar jihad yang samasekali tidak bisa diapa-apakan oleh aparat keamanan. Nah, itu berarti kemampuan nasional itu kan sudah sampai maksimal tidak mampu. Nah, pada saat itu kita harus menoleh ke dunia internasional untuk minta bantuan. Dalam hal ini biasanya pertama-tama yang kita minta bantuan itu kan negara-negara tetangga kita. Jadi dari segi itu kita barangkali pertama-tama harus menoleh ke negara-negara ASEAN. Apakah mereka bisa menolong kita dalam mengatasi masalah Maluku itu. Terutama pertama yang sangat utama sekarang itu adalah penanganan pengungsi dan pemberian pelayanan yang langsung kepada pengungsi termasuk evakuasinya dari Ambon itu. Nah sesudah itu saya pikir barangkali suatu UN troops [pasukan PBB,Red.] dari kalangan ASEAN itu barangkali sudah bisa dipikirkan untuk didatangkan karena perkembangan di lapangan kelihatan aparat keamanan sudah tidak mampu lagi. Radio Nederland [RN]: Kemarin saya kira Gubernur Maluku Utara Pak Mufi Effendi diwawancara oleh SCTV dan dia sangat optimis dengan melihat perkembangan di Maluku Utara. Dia melihat perkembangannya baik dna satu hal yang sangat mengejutkan aparat keamanan di sana sangat netral. TT: Ini ada dua kemungkinan ya. Kemungkinan yang pertama itu memang bahwa gubernur dengan aparatnya itu berusaha maksimal dan gubernur menggunakan wewenangnya secara maksimal yang tercantum dalam keadaan Darurat Sipil itu. Dan kemudian memang berhasil. Dan kemungkinan kedua adalah sebenarnya ini, Maluku Utara ini kan dipimpin oleh seorang gubernur yang berlatarbelakang militer, sedangkan Maluku Tengah ini dipimpin oleh seorang gubernur yang berlatarbelakang sipil. Nah bisa saja ini adalah satu manuver militer untuk memperlihatkan bahwa kalau satu daerah dipimpin oleh militer itu lebih berhasil dalam meredakan keadaan sedangkan daerah yang dipimpin oleh sipil itu tidak gitu. Itu kan sebenarnya menunjukkan keunggulan militer terhadap sipil. Bisa juga begitu. Nah karena memang yang sudah mulai reda itu adalah Maluku Utara, sedangkan Ambon itu, di Maluku Tengah itu tetap saja itu, makin jelas itu perkembangannya. Demikian Thamrin Thomagola, sosiolog asal Maluku. Mengapa pemerintah tidak tegas meminta intervensi dunia internasional? Menurut pengamat politik, Arbi Sanit, pemerintah saat ini sedang sibuk dengan dirinya sendiri. Arbi Sanit [AS]: Ada pertimbangan agak sulit di Indonesia, terutama dari pemerintah. Bisa jadi memang kalau dilihat secara fungsional akan membantu ya campur tangan internasional itu. Tapi bagi pemerintah pertimbangan kemerdekaan, nasionalisme dan lain sebagainya itu juga nggak bisa dilepaskan itu. Menurut saya memang ini katakanlah pertimbangan ini agak berat ya bagi pemerintah, tapi sekarang tampaknya pemerintah melihat bahwa ada kemungkinan penyelesaian itu melalui darurat sipil gitu ya dan bisa meningkat ke darurat militer. Sebab kalau internasional masuk kan militer juga masuk. Bisa jadi untuk mengganti alternatif internasional itu ditingkatkan menjadi darurat militer. RN: Ternyata Darurat Sipil itu kan tidak efektif. Korban semakin berjatuhan dan apa salahnya kalau kita minta dunia internasional turun tangan? AS: Ya dunia internasionalnya kan juga sulit karena sama aja itu masuknya internasional nanti soal agama juga akan tumbuh. Dari internasionalnya bagaimana pertimbangan agamanya, apakah memang bisa ada tentara dari dunia Islam dan tentara dari dunia non-Islam? Itu kan juga jadi persoalan. Sama juga tentara yang dimasukkan sekarang ke sana juga persoalannya itu. Lama-lama di sana itu mengikut agama masing-masing dia. RN: Bukankah pertimbangannya kalau pasukan internasional turun itu lebih netral sifatnya itu Pak Arbi? AS: Apakah ada jaminan begitu? Jadi kan soal agama ini. Tidak ada jaminan begitu. Internasional nanti soal agama juga akan terjadi. Lihat saja di Timor Timur kan soal agama juga kelihatan toh? RN: Soalnya korban semakin berjatuhan, apakah kita masih bertumpuk kepada cara-cara kita yang ternyata tidak mempan. Apakah kita harus tunggu sampai semua warga di sana habis baru kita mencari jalan keluar yang lebih efektif? AS: Ya memang begitu. Tapi sekarang ini di Indonesia sedang terjadi perkembangan demokrasi dan perkembangan efektifitas pemerintah. Nah itu satu sama lain tidak ada sinkronisasi ya, masih dianggap berlawanan. Kalau pemerintah menjadi efektif dengan melalui represif itu dianggap bertentangan dengan demokrasi. Pertimbangan ini belum bisa diambil secara mudah oleh orang-orang baik masyarakat maupun pemerintah di Indonesia. Itu menyebabkan saya kira terbengkal persoalan-persoalan seperti Ambon, seperti Aceh itu. Itu boleh dikatakan sekarang sebenarnya baik pemerintah dan masyarakat belum atau tidak siap mengambil suatu sikap yang tegas terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut SARA, menyangkut suku, agama dan ras itu. RN: Ya itu masalah yang sekarang ini kan berkaitan dengan hal itu. Nah, sampai kapan kita mentolerir ketidaksanggupan pemerintah itu? AS: Ya, saya sendiri ya kalau dilihat dari segi kebutuhan ya bisa cepat diambil langkah yang lebih tegas. Tapi yang menjadi persoalan ini kan pemerintah ini sedang sibuk dengan diri sendiri. Orang-orang yang berkuasa dalam negara ini sedang asyik di satu pihak ingin memperbesar kekuasaan, di lain pihak ingin mempertahankan kekuasaan. Itu umpamanya antara DPR dan eksekutif yang sedang terjadi sekarang itu. Jadi mereka luput terhadap itu. Korban-korban nyawa itu menjadi luput. Atau tidak bisa mengkonsentrasikan perhatian kepada masalah masalah seperti itu. Demikian pengamat politik Arbi Sanit. Sebelumnya anda sudah mendengar penjelasan Gubernur Maluku Utara Abdul Mufi Efendi dan pendapat pakar sosilogi asal Ambon Thamrin Thomagola. * MAMPUKAH INDONESIA MENOLAK INTERVENSI ASING DALAM SOAL MALUKU? Harian Belanda NRC Handelsblad, memberitakan, masuknya pasukan internasional ke Ambon dan Maluku nampaknya sulit untuk dihindari setelah pihak televisi menayangkan adegan Laskar Jihad yang bertempur bersama-sama TNI di sana. Berikut laporan koresponden Syahrir dari Jakarta: Dalam pidatonya membuka Rapim Golkar, Ketua Umum Akbar Tandjung kemarin menyerang Gus Dur yang dinilainya gagal, terutama dalam masalah Ambon: " Yang terjadi adalah sikap-sikap dan kebijakan-kebijakan presiden yang tidak konsisten, berubah-ubah dan memancing kontroversi dalam masyarakat. Kebijakan-kebijakan dan pernyataan-pernyataan yang inkonsisten inilah yang sebenarnya telah menciptakan ketidakpastian politik. Bukannya apa yang disebut secara superfisial dengan konflik-konflik elit politik." Sementara itu kemarin diumumkan bahwa Menlu Alwi Shihab hari Minggu tanggal 23 Juli akan berangkat ke Bangkok, menghadiri Asean Regional Meeting. Dalam pertemuan tersebut, Alwi dijadwalkan akan bertemu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Madeleine Albright untuk membicarakan masalah Ambon dan Maluku Utara. Kepada pers Alwi Shihab menegaskan tidak akan ada intervensi asing dalam penyelesaian kasus Maluku. Pemerintah sudah mengadakan pertemuan dengan Masyarakat Eropa membahas masalah tersebut. Dia juga mengatakan pemerintahan Gus Dur tidak bisa menerima bila tentara asing masuk ke Maluku. Namun soal bantuan kita akan pertimbangkan supaya tidak ada kesan itu intervensi. Alwi juga akan ke Belanda menemui Perdana Menteri Belanda Wim Kok dan ke New York menjumpai Sekretaris Jenderal PBB. Selain itu ia juga akan bertemu Menlu Australia. Australia telah menyatakan kesediaannya untuk mengirim pasukannya ke Maluku. Sementara kelompok politik di Amerika Serikat menyetujui rencana pengiriman militer Australia itu jika ada permintaan dari Indonesia. Pemerintah Belanda pun sudah mendesak Sekjen Kofi Anan untuk lebih memperhatikan Maluku. Masalah Maluku kembali menjadi perhatian utama pemerintahan Gus Dur dan TNI setelah Amerika, Masyarakat Eropa dan PBB mulai menunjukkan niat kuat untuk mengirim pasukan internasional ke daerah sengketa tersebut. Kemarin, Brigjen Pol Firman Gani, Kapolda Maluku menyatakan, penanganan kasus Maluku tidak memerlukan intervensi PBB karena kedua belah pihak telah menghentikan aksi-aksi penyerangan. Brigjen Firman Gani juga mengakui, sebagian kecil pihak Kristen dan Islam masih tetap menginginkan terjadinya kerusuhan. Tetapi kelompok besar sudah menginginkan suatu perundingan untuk mencari jalan keluar dari situasi rusuh di Maluku. Polisi, menurut Kapolda Maluku berusaha melakukan pendekatan simultan, hukum dan sosial kultur. Sedangkan Panglima Armada Barat Laksamana Putu Ardana di tempat yang lain mengatakan kepada pers, Angkatan Laut tetap melakukan tugas-tugas pokoknya untuk meningkatan keamanan di laut. Putu Ardana, menjelaskan bahwa Armada Barat saat ini sudah siap menjaga penyusupan kapal-kapal dari Maluku yang mau melakukan pengacauan di Jakarta. Sumber-sumber lain mengatakan Panglima Armada Barat sudah menginstruksikan jajarannya untuk langsung menembak kapal-kapal yang membawa milisi bersenjata dari Maluku. Instruksi tersebut sesuai dengan perintah Panglima TNI Laksamana Widodo baru-baru ini yang mensinyalir usaha-usaha sementara pihak untuk menyelundupkan senjata organik dari Maluku ke Jakarta menjelang Sidang Tahunan Agustus mendatang. Kerusuhan-kerusuhan di Ambon dan Maluku Utara yang umumnya dibiarkan berlarut-larut oleh pihak militer, dikhawatirkan bisa menjalar ke daerah-daerah lain. Seorang Letjen dari Mabes TNI pekan lalu secara informal menjelaskan kepada "Kelompok Diskusi Cawang" bahwa TNI tidak akan turun tangan mengatasi keadaan sebelum UU PKB disahkan sebagai payung hukum bagi TNI. Mabes TNI sementara ini hanya membiarkan polisi menjaga keamanan. TNI hanya memberikan dukungan saja. Demikian tokoh Mabes TNI tersebut. Sementara masyarakat di Maluku melihat TNI acapkali berpihak pada satu kelompok. Hal ini pun dibenarkan seorang perwira dari Armada Timur. Ia menunjuk pada kasus pencarian Kapal Motor Cahaya Bahari yang dinyatakan tenggelam dengan lebih dari empat ratus pengungsi dari Maluku Utara. Koordinator tim SAR untuk musibah Kapal Motor Cahaya Bahari, Udyanto SH baru-baru ini di Manado mengemukakan: "Kami hingga kini belum memecahkan misteri kapal tersebut. Maklum di laut itu, ada banyak misteri, katanya. Ini di luar pengetahuan kita. Tetapi ini bukan berarti kami pasrah kepada misteri karena takut tak terpecahkan. Memang, andaikata ada jenazah-jenazah yang masih ada di dalam laut, dalam tempo beberapa hari jenazah-jenazah itu seharusnya sudah keluar." Ia juga menyatakan keheranannya, karena meski sudah dijelajahi baik dengan kapal maupun dengan pesawat Nomad Angkatan Laut, selama beberapa hari, tidak terdapat tanda-tanda apapun yang mengapung. Tidak pula ada buih-buih dari bawah ke atas, sebagaimana lazimnya. Hingga kini pihak Armada Timur TNI AL belum mengeluarkan pengumumnan soal kapal yang raib itu. Komandan Gugus Gamla, Laksamana Djoko Soemaryono pun meski telah meninjau keadaannya di sana tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan. Suatu sumber dari Gereja Baptis di Manado menceriterakan bahwa delapan orang pendeta gereja Baptis yang semula akan menghadiri konperensi Gereja Baptis di Manado ikut hilang dengan kapal tersebut. Berita terakhir yang diperoleh dari para pendeta itu ialah bahwa kapal naas itu dihadang oleh kapal lain yang ditumpangi orang-orang yang bersenjata. Menurut sumber tersebut di Manado kini beredar berita-berita yang belum dikonfirmasi pada TNI, bahwa kapal itu ditahan di suatu pulau. Pesawat-pesawat terbang sudah melihat kapal tersebut yang sudah dalam keadaan kosong. Demikian sumber tersebut. Sementara itu, Armada Timur TNI AL, minggu lalu berhasil menangkap 48 kapal motor yang diduga akan melakukan kerusuhan di wilayah Ambon- Maluku. Dari kapal-kapal itu berhasil disita sejumlah senjata serta amunisi. Menurut Kadispenal Laksamana Pertama Oentowiryo, beberapa hari sebelumnya mereka juga berhasil menangkap 19 kapal motor. Dengan demikian, 11 kapal perang TNI AL telah berhasil menangkap 67 kapal motor sejak diberlakukannya Keadaan Darurat Sipil. Di Jakarta, Panglima Laskar Jihad Ustad Ja'far Umar Thalib membantah bahwa pihaknya telah melakukan pembersihan terhadap kelompok merah di Maluku. Menurutnya, keberadaan Laskar Jihad justru untuk menghentikan peperangan. Hal itu disampaikan Ja'far dalam jumpa pers yang diselenggarakan di kantor Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jl. Kramat Raya. "Di sana kita justru menyelamatkan wanita dan anak-anak. Sesuai dengan syariat Islam, di dalam peperangan dilarang membunuh wanita dan anak-anak," jelas Ja'far kepada wartawan. Ja'far juga meragukan kemampuan pemerintah RI untuk segera menghentikan konflik berkepanjangan di kawasan 'seribu pulau' tersebut. "Indonesia saat ini dalam posisi dan kondisi yang lemah. Jadi tidak mungkin menyelesaikan kasus ini secepatnya. Dan jika institusi hukum tidak dapat lagi ditegakkan dengan benar maka yang melakukan pembelaan adalah rakyat sendiri," kata Ja'far. Perang yang terjadi di Maluku saat ini, menurutnya, adalah untuk menghentikan peperangan yang selama ini terjadi. Selama ini, lanjutnya, peperangan di sana dipicu oleh provokator-provokator. "Dan keberadaan Laskar Jihad di sana untuk menumpas para provokator tersebut," ungkap dia lagi. Soal penyerahan senjata sejak diterapkannya darurat sipil, Ja'far mengakui memang terjadi di sana akan tetapi hanya untuk kelompok tertentu saja. "Jika terjadi penolakan dari suatu kelompok, TNI selalu berada dalam posisi mengalah," jelasnya. Ia juga membantah bahwa Laskar Jihad mendapat dukungan senjata dari TNI. Ja'far melaporkan bahwa hingga kini masih terus menerus terjadi peperangan di Maluku. Maka tidaklah mengherankan jika harian Belanda NRC Handelsblad kemarin melaporkan bahwa kemungkinan besar pemerintah Indonesia harus menyetujui masuknya bantuan luar negeri untuk mengakhiri konflik agama di Maluku. Gus Dur sendiri dalam pertemuannya dengan para gubernur di Jakarta mengatakan, kalau pemerintah daerah tidak dapat mengatasi keadaan di Maluku maka mau tak mau kita harus menerima bantuan logistik dan peralatan dari luar negeri. --------------------------------------------------------------------- Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.ranesi.nl/ http://www.rnw.nl/ Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui [EMAIL PROTECTED] Copyright Radio Nederland Wereldomroep. --------------------------------------------------------------------- ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 Jul 2000 jam 17:04:59 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
