---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Saya melihat bahwa masih terdapat kengototan kelompok Islam fundamentalis baik di negeri ini maupun di luar negeri untuk menerapkan syariah agama mereka yang "tidak bercacat cela itu" dalam hukum nasional. Hal ini terlihat dari manuver Partai PPP dan partai Islam yang sealiran dengannya (Kelompok Poros Tengah) yang berupaya merubah UUD 1945 pasal 29 yang menjamin kebebasan beragama bagi semua warganegara Indonesia, yang ditentang oleh Parpol-Parpol Sekuler, PKB (Islam tradisionalis/liberal/moderat) dan non Islam lainnya. Jadi saat ini kita sedang menonton pertarungan politik antara kaum "sekuler demokratis " vs. kaum "fanatik egois hipokrit" yang merasa dirinya paling Islam dan benar di antara yang Islam dan benar. Dalam Indo-News edisi Jumat lalu ada tulisan dari Sdr. Ahmad Sudirman ([EMAIL PROTECTED]) yang menggalang kekuatan pro Negara Islam Indonesia untuk menyatukan tekad mendirikan NII sesuai amanah dan ajaran nabi dan rasul mereka. Rupanya Sdr. Ahmad ini adalah dedengkot NII yang bermukim di luar negeri dan mengatur strategi bagaimana cara mendirikan NII dengan segala cara bahkan yang haram pun dihalalkan asal demi Islam dan "allah" mereka. Sesuai ajaran Islam dan Piagam Madinah yang dibanggakan oleh si Ahmad ini, asas yang paling tepat dalam hubungan dan kedudukan antara mayoritas Muslim dan minoritas non Muslim adalah prinsip Proporsionalisme SARA. Tapi yang aneh prinsip ini berlaku satu arah yakni jika Muslim mayo- ritas dan non muslim minoritas, tidak sebaliknya. Apakah asas proporsionalisme itu ? Contoh soal : UMPTN Indonesia mayoritas adalah orang Jawa katakanlah 60 % dan pemeluk agama mayoritas adalah muslim katakanlah 90 %, maka segala fasilitas, kesempatan dan pelayanan negara harus disesuaikan dengan persentase tersebut. Kursi Perguruan Tinggi Negeri 90 % harus untuk WNI yang muslim, biarpun tes UMPTN mereka sangat tidak layak untuk masuk ke PTN tetapi karena asas "proporsionalisme" mereka mendapatkan "hak istimewa" untuk duduk di kursi PTN melalui "jalur tol", sementara I Made in Japan yang etnis Bali campuran Jepang dan beragama Hindu harus menggigit jari tidak lolos UMPTN karena kuota dari pemeluk agama Hindu sudah berlebihan, meski nilainya jauh lebih baik dari peserta UMPTN yang muslim dan Jawa. Dari antara yang muslim tadi maka 60 % atau lebih adalah jatahnya etnis Jawa. PENDIRIAN TEMPAT IBADAH Di daerah mayoritas Muslim, minoritas non Muslim apalagi Kristen diwajibkan PERMISI dulu ke tetangga kanan kiri dan minta persetujuan "lahir & batin" agar bisa mendirikan tempat ibadah mereka. Sekalipun izin diberikan itu tidak menjamin tempat ibadah itu akan aman-aman saja berdiri di sana, kalau dianggap "meresahkan masyarakat" karena misalnya mencoba untuk berdakwah dan mempengaruhi sebagian muslim setempat untuk pindah agama maka tempat ibadah itu harus bersiap- siap untuk "dibredel" syukur-syukur bila tidak dibakar dan diratakan dengan tanah. Sementara untuk mendirikan masjid tak perlu izin bahkan nggak usah pake IMB, meski sering bikin ribut dan mengganggu orang tidur waktu subuh hal itu harus diterima oleh tetangga-tetangga non muslim sebagai bagian dari "saling menghargai dan toleransi" antar umat beragama. PEMILIHAN PRESIDEN DAN ANGGOTA MPR/DPR Sudah jelas presiden RI harus MUSLIM dan etnis Jawa lebih diutamakan. Begitu juga anggota DPR/MPR harus disesuaikan dengan persentase SARA di atas. Wakil rakyat non-Islam dianggap tidak layak dan bisa mewakili aspirasi muslim, tapi wakil rakyat yang muslim dianggap cukup untuk mewakili rakyat yang non muslim. Meski statistik menunjukkan bahwa 57 % penduduk RI adalah wanita tapi wanita di- haramkan jadi Presiden/Gubernur/Bupati sampai lurah menurut SYARIAH ISLAM. Bukankah ini jelas INKONSISTEN ? DISTRIBUSI KEKAYAAN NASIONAL Etnis China dan non-muslim dipandang "terlalu kaya" dan asset mereka tidak sesuai dengan asas proporsionalisme di atas. 20 % menguasai 80 % jelas tidak adil menurut kacamata mereka, meskipun yang 20 % itu memperoleh 80% melalui kerja keras, susah payah dan melalui cara-cara yang jujur dan beretika mereka tetap tidak mau tahu. Segala upaya dilakukan untuk membagi kue kekayaan itu melalui cara halus maupun kasar termasuk melakukan perampokan, penjarahan dan pembakaran agar yang menjarah jadi sedikit kaya dan yang dijarah dan dibakar harta bendanya menjadi sama-sama miskin dengan mereka. P.R. untuk anda : Setujukah anda dengan ASAS PROPORSIONALISME SARA ala SYARIAH ISLAM ini ? Saya yakin bila anda berada di posisi menguntung- kan anda akan sangat amat setuju, tapi bila dalam posisi dirugikan anda akan menentangnya mati-matian. Apa yang terjadi bila ASAS PROPORSIONALISME ini dibalik, maksudnya bila MUSLIM ITU YANG MINORITAS ? Di Bali yang mayoritas Hindu, muslim harus mau dan wajib taat pada aturan main "syariah Hindu", tidak boleh sembarangan membangun masjid. Tidak boleh protes kalau kursi semua pejabat penting dan kursi PTN diberikan kepada orang-orang Hindu meski muslim tsb. memiliki kemampuan dan nilai melebihi orang Hindu. Di Papua, Minahasa, NTT, Batak dll. yang boleh menjadi pejabat adalah orang putra daerah asli dan Kristen. Syariahnya adalah "syariah Kristen" Semau fasilitas diutamakan bagi yang Kristen dan diutamakan kepada "penduduk asli" bukan pendatang. Mau bangun masjid harus izin, kalau bikin ribut akan ditutup dan di segel. Jika anda muslim, pertanyaan bagi anda Relakah anda diperlakukan secara diskriminatif sebagai konsekuensi ASAS PROPORSIONALISME SARA di atas dan kebetulan anda adalah kelompok minoritas di suatu daerah atau negara ? Meskipun secara prestasi obyektif anda layak mendapatkan kursi jabatan, PTN atau fasilitas tertentu tapi anda terpaksa "mengalah atau dikalahkan" karena fakta menunjukkan anda adalah kelompok minoritas dan tidak ada jatah buat anda. Saya menghimbau kepada Sdr. Ahmad Sudirman dengan kelompok NII/MUJAHIDDIN nya, Poros Tengah dan para supporter mereka untuk kembali berpikir jernih dan obyektif sebelum memaksakan SYARIAH ISLAM diterapkan di Republik Indonesia dan di manapun mereka berada di muka bumi ini. ************************************************ Di negara yang sekuler demokratis di mana semua umat beragama dan keyakinan apapun SUDAH dijamin kebebasan dan HAMnya oleh Undang-Undang, tidak ada alasan bagi pemeluk agama dan keyakinan manapun khususnya ISLAM untuk menerapkan SYARIAH nya masing-masing dan menuntut perlakuan khusus bagi kelompok mereka. Tuntunan agama harus dijalankan dengan kerelaan dan cinta kasih yang tulus kepada Tuhan bukan karena paksaan, undang-undang, sanksi pidana maupun intimidasi dari penguasa, orang tua atau pemuka agama. Formalisasi agama tanpa ketaatan tulus berdasarkan kasih kepada Tuhan dan sesama manusia hanya menghasilkan masyarakat yang MUNAFIK, hidup dalam kesalehan pura-pura karena tekanan penguasa bukan dari hati nurani mereka sendiri. ************************************************* Jika anda berlaku diskriminatif dan zalim maka aturan main yang sama juga akan diperlakukan buat kelompok anda jika kelompok anda minoritas, itu baru namanya fair play dan ADIL. Saya tidak ingin memusuhi siapapun melainkan ingin membuka mata dan hati nurani setiap pemirsa milist ini dan IndoNews tentang apa yang akan kita hadapi jika ASAS PROPORSIONALISME itu diterapkan dalam kehidupan antar masyarakat yang majemuk di muka bumi ini. APAKAH MERITOKRASI itu ? Rezim yang menganut meritokrasi memiliki ciri-ciri sbb : Yang minoritas & lemah seharusnya dilindungi bukan dizalimi, diberdayakan bukan diperdaya, diberikan persamaan hak sesuai dengan kemampuan dan prestasi obyektifnya dengan mayoritas bukan dikalahkan hak-haknya karena keminoritasannya. Manakah yang ANDA PILIH ? Kami tak membenci muslim, yang kami benci adalah kezaliman, ketidak adilan, kediktatoran, kesewenang-wenangan dan arogansi, sebagaimana muslim membenci dan tidak menghendaki kezaliman, ketidakadilan, kesewenangan dan arogansi menimpa dirinya. Janganlah melihat dari si Aku, tapi dari si Dia atau Mereka. Quo Vadis Islam dan umat Muslim ? Wassalam, Gus Sur ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 7 Aug 2000 jam 05:32:27 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
