----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Di Balik Sidang Tahunan MPR
Kebanyakan Anggota Hanya "Penggembira"

Suara Merdeka

SEMESTINYA perhatian masyarakat tertuju ke Sidang Tahunan Majelis
Permusyawaratan Rakyat (ST MPR) pada 7-18 Agustus 2000. Sebab, lewat hajatan
nasional itu dilakukan evaluasi atas kinerja pemerintah sekaligus
direkomendasikan apa saja prioritas yang harus diselesaikan pemerintah,
minimal setahun ke depan.

Kenyataannya tak semua orang tertarik mencermati gawe besar itu. Wawancara
Suara Merdeka dengan berbagai kalangan melahirkan penilaian beragam. Ada
yang menilai waktunya terlalu lama. Namun yang terbanyak menyoroti substansi
yang disidangkan tak menyentuh persoalan keseharian yang membelit rakyat
kecil. Mereka bosan mengikuti pelaksanaan sidang.

"Para elite justru saling menjatuhkan dan tidak menyelesaikan masalah. Jadi
apa yang bisa diharapkan dari sidang seperti itu? MPR sekarang seperti lupa
kepada rakyat kecil. Mereka lebih memikirkan kepentingan partai. Begitu juga
pemerintah, pejabatnya tak kompak. Seharusnya MPR dan pemerintah bersatu
menyelesaikan krisis," komentar Bagos Saronto, karyawan di Bekasi.

Dibandingkan dengan hasilnya, mereka menilai biaya hajatan nasional itu
terlalu besar. Dana sekitar Rp 1 juta sehari untuk akomodasi wakil rakyat
dinilai berlebihan. Apalagi 500 anggota MPR juga anggota DPR, yang semua
sudah menempati rumah dinas di Jakarta. "Mungkin ada permainan antara orang
Setjen MPR dan hotel," kata Lichun, pengojek di Tebet, Jakarta.

Kebanyakan Penggembira

Ternyata tak semua angota MPR merasa nyaman dengan fasilitas wah. Ada yang
mengaku seluruh tubuhnya sakit karena hanya untuk duduk-duduk, tepuk tangan,
atau mengangkat tangan untuk voting jika sewaktu-waktu fraksi membutuhkan.

"Konseptor, pemikir, atau orang yang ditugasi omong semua sudah jelas.
Begitu pula siapa yang harus interupsi, semua sudah diatur. Kebanyakan
anggota, yah, praktis hanya penggembira," kata anggota Fraksi PDI-P dari
Jateng.

Yang berat, kata dia, menahan kantuk saat sidang. Kebanyakan anggota jenuh
mendengar banyak pidato dan interupsi. Mungkin obat kantuk paling mujarab -
di ruang sidang - adalah kamera televisi. "Banyak teman kehilangan kantuk
setelah disorot kamera. Kami malu kan kalau disorot pas molor. Padahal
memang ngantuk beneran," katanya.

Ke-500 anggota DPR yang notabene juga anggota MPR, ditambah 200 anggota MPR,
termasuk Presiden dan Wakil Presiden, ditampung di dua hotel berbintang lima
di sekitar Gedung MPR/DPR, Senayan. Yakni Hotel Mulia Tower (374 orang) dan
Hotel Hilton (317 orang).

Arum, Assistant Public Relation Hotel Mulia, menuturkan tarif normal
penyewaan kamar hotel standar per kamar/malam bervariasi antara 215 dan 235
dolar AS, atau Rp 1.935.000-Rp 2.115.000 (dengan kurs Rp 9.000/dolar). Tarif
kamar Hotel Hilton per malam, kata Anton, Front Officer Hotel Hilton, Rp
550.000.

Untuk event seperti ST MPR pasti ada diskon khusus. Yang mengerti berapa
diskon itu tentu Setjen MPR dan hotel. Yang jelas, kata Setjen MPR/DPR, dana
Rp 10,6 miliar atau 41,4% dari seluruh anggaran ST MPR untuk biaya akomodasi
anggota MPR.

Setiap wakil rakyat berhak mendapat biaya cuci (dua potong pakaian dalam,
kemeja, dan celana panjang), biaya makan pagi, makan siang, dan makan malam.
Tidak semua angota orang "berpengalaman" tinggal di hotel mewah. Tak ayal,
ada saja kejadian lucu. Setiap hari, misalnya, ada mencucikan pantalon,
temasuk mengusung pakaian istri dari rumah.

Sarapan Kaget

Ada juga yang kaget menerima bill atas sarapan pagi. Maklum, dia mengajak
anak istri. Padahal, jatah makan hanya untuk seorang. Sebagai gambaran,
Hotel Mulia mengenakan tarif per malam untuk kamar deluxe Rp 595.000. Itu
hanya kamar, sedangkan jika ditambah sarapan pagi (untuk dua orang) tarifnya
Rp 699.000/malam.

Di atas deluxe masih ada lagi, yakni ambassador yang bertarif 600 dolar dan
chairman 800 dollar. Kalau mau president suit, tarif untuk satu malam 3.000
dolar AS. Tetapi kalau mau "berhemat" tersedia royal suite dengan tarif Rp
1,2 juta per malam. Betapa mahal tarif hotel bisa dilihat dari harga menu
yang tersaji. Kopi freshly brewed, misalnya, dihargai Rp 14.000, espresso Rp
16.000, dan makan malam Rp 69.000.

Anggota Fraksi Reformasi Drs H Achmad Arief termasuk yang "gerah" menikmati
fasilitas wah itu. "Biaya sehari di sini bisa untuk biaya dapur rumah saya
sebulan. Kami tak enak karena negara ini masih memerlukan banyak biaya untuk
keluar dari krisis. Apalagi anggota MPR yang juga anggota DPR sudah
dipinjami rumah. Situasi jalan juga relatif aman," katanya.

Namun seorang anggota MPR lain mengingatkan, akomodasi di hotel sebenarnya
hanya pertimbangan praktis yang dibuat Sekretariat Jenderal MPR. Itu
dilakukan agar sidang berlangsung secara lancar, efisien, dan efektif. "Kami
tidak tahu kalau tiba-tiba jalan macet, ada unjuk rasa. Kalau berangkat dari
rumah masing-masing, bisa-bisa telat."-***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Aug 2000 jam 11:33:24 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke