----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

PDI-P Belum Dewasa

SUARA PEMBARUAN
Jakarta, 28 Agustus

Akibat tidak efektifnya mekanisme pengendalian yang sering menimbulkan
konflik internal, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) saat ini
dinilai masih belum dewasa, bila hal itu terus berlanjut, maka akan sulit
bagi PDI-P menjadi partai modern yang memperjuangkan kepentingan rakyat.

Menurut Fajari Iriani, konflik internal di antara para kader PDI-P yang pada
gilirannya mengabaikan kepentingan rakyat ini terjadi karena para kader
PDI-P diduga kurang memahami misi dan visi tentang kebangsaan sesuai dengan
garis politik partai. Akibatnya, di antara para kader PDI-P saling
gontok-gontokan untuk mengejar ambisi kekuasan pribadi/kelompok
masing-masing.

Kesimpulan ini terungkap dalam diskusi politik bertajuk "Quo Vadis Kabinet
Baru: Mekanisme Pengendalian Petugas Partai Di Lembaga Legislatif dan
Eksekutif," Sabtu (26/8) di Jakarta. Acara yang diprakarsai Forum Muda
Perjuangan Ibukota (FMPI) dan Aliansi Pemuda Perjuangan Indonesia (APPI) ini
menampilkan pembicara Pengamat Politik dari Universitas Indonesia, Dra
Fajari Iriani M Sophian, Sekjen DPP PDI-P, Pramono Anung dan Heri Ahmadi
selaku Sekretaris Fraksi PDI-P DPR RI dan Prof Dr Edi Swasono.

Kontrol para kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang saat
ini duduk DPR dan MPR RI terhadap kinerja pemerintah masih mengedepankan
kepentingan partai ketimbang berjuang untuk kepentingan rakyat. Lebih parah
lagi, mereka lewat kedua lembaga negara ini hanya berjuang untuk kepentingan
pribadi/kelompok. Itu sebabnya, kader PDI-P saat masih belum dewasa dan
partai ini akan sulit menjadi partai moderen. Salah satu faktor kesalahannya
karena mekanisme pengendalian partai yang tidak jelas sehingga konflik
internal di antara para kader PDI-P di DPR maupun MPR RI dan DPP PDI-P tidak
bisa dihindari.

Kader

Kondisi demikian terjadi karena PDI-P hingga sekarang ini tidak mencerminkan
kekuatan sebagai partai kader. Salah satu indikasinya terlihat dari sejarah
pembentukan PDI-P sampai saat ini terdiri atas berbagai kelompok kepentingan
dan faksi-faksi yang disatukan oleh simbol dan semangat untuk melawan Mantan
Presiden Soeharto.

Karena itu, ketika PDI-P sebagai partai dalam menjalankan berfungsi untuk
mengawasi dan mengontrol kinerja pemerintah ternyata lebih menonjolkan
kepentingan partai, kelompok atau kepentingan pribadi. Padahal, PDI-P
sebagai alat perjuangan seharusnya lebih mempejuang kepentingan rakyat
sesuai dengan misi kebangsaan yang telah digariskan parat berlambang kepala
banteng ini.

"Organisasi PDI-P ini harus dibenahi agar partai ini bisa menjadi dewasa.
Bentuk sebuah Dewan atau semacam politbiro, yang salah satu fungsinya
mengawasi perilaku para kader PDI-P di parlemen," ujar Fajari.

Pendangan senada juga diungkapkan Heri Ahmadi dan Pramono Anung sepakat
untuk mengatakan, memang tidak ada mekanisme partai yang jelas di PDI-P. Itu
sebabnya, tingkat pengendalian partai dari DPP PDI-P terhadap fraksi di
parlemen dan mejelis hingga ke tingkat DPD dan DPC sulit diwujudkan sesuai
dengan garis politik partai.

Karenanya, meski PDI-P dalam Pemilu 7 Juni 1999 memperoleh kursi terbanyak
duduk di DPRD namun kenyataan menunjukkan mereka tidak mampu memperjuangkan
para kadernya menjadi Gubernur, Bupati Dan Walikota. Kasus yang terakhir,
kader PDI-P gagal menjadi Bupati Jembrana, Bali dan Walikota di Surabaya,
Jawa Timur.

Pramono Anung menambahkan, kondisi demikian terjadi karena peraturan partai
yang tertuang di dalam SK 004 tentang rangkap jabatan. Dicontohkannya,
Arifin Panigoro sebagai Ketua DPP PDI-P merangkap jabatan sebagai Ketua
Fraksi DPR. Rangkap jabatan lainnya juga terjadi di tingkat DPD hingga DPC.
Meski kehadiran SK 004 ini diprotes keras namun peraturan yang telah
disyahkan Ketua Umum PDI-P ini hingga sekarang masih tetap bertahan.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Aug 2000 jam 13:36:17 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke