----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Kembalinya 4 Aktivis yang Diculik Diinterogasi soal Tanah Soeharto

Senin, 28 Agustus 2000
Jakarta - Surabaya Post

Kroni-kroni mantan presiden Soeharto benar-benar masih terus berulah,
terbukti dengan raibnya empat aktivis agraria setelah demonstrasi mogok
makan di DPR RI, Senin (14/8). Koordinator Kontras, Munir SH menjelaskan,
dari pola penculikan dan interogasi yang dilakukan sama dengan yang
dilakakan rezim orde baru.

"Cara-cara interogasi para penculik sama dengan pola penculikan terhadap
sejumlah aktivis saat Soeharto masih berkuasa," ujar Munir.

Bahkan menurut dia indikasi kuat adanya keterkaitan penculikan empat aktivis
pertanahan itu dengan mantan presiden Soeharto karena yang diinterogasi
menyangkut gugatan para aktivis itu terhadap tanah Soeharto di peternakan
Tapos. "Saat diinterogasi, para aktivis ditanya soal pengerahan massa untuk
menduduki tanah Soeharto di Tapos," jelas dia.

Dia mengatakan dari pola-pola penculikan, di mana para aktivis dibawa ke
luar kota serta dipisah-pisah, persis sama dengan yang dilakukan terhadap
penculikan aktivis Pius Lustrilanang. Hanya menurutnya, kekerasan yang
dilakukan agak berbeda karena jika penculikan sebelumnya bernuansa politik,
saat ini berkaitan kasus tanah penguasa Orba.

Untuk itu Munir mengatakan, dalam hal fisik penculikan kemungkinan besar
sama, namun berbeda dalam hal motifnya. Namun dia dapat memastikan,
penculikan itu dilakukan organisasi yang memiliki kekuatan yang sama
besarnya.

Menurut dia sangat kecil kemungkinan penculikan itu dilakukan oleh kelompok
pengusaha karena urusan pribadi. "Terlalu besar, jika yang melakukan
penculikan dari pengusaha tanah yang bersengkata," katanya.

Menurut dia, salah seorang korban penculikan itu menyatakan bahwa mereka
telah dipisah-pisah. Sehingga tidak tahu di mana korban yang lain. Mereka
adalah Usep Setiawan (28), Idham Kurniawan (24), Mohamad Hafizd Azdam (24),
dan Anton Sulton (26). Semua aktivis ini dinyatakan hilang sejak 14 Agustus
setelah melakukan aksi mogok makan di Gedung DPR pada saat berlangsungnya
Sidang Tahunan MPR.

Namun, akhirnya diketahui bahwa dua korban penculikan ada di Semarang, satu
di Yogyakarta dan satu lagi di Solo. Kemarin, keempat korban itu sudah
mendapat tiket pesawat dan pulang ke Jakarta. "Sayang, meski dengan teman
sendiri, pun kelihatannya teman-teman korban penculikan belum mau bicara.
Mereka masih shock," tegasnya.

Sekarang para aktivis masih berada di krisis centre untuk melakukan
pemulihan kondisi fisik dan psikis. "Saya belum dapat menjanjikan kapan para
aktivis akan dipertemukan dengan pers, karena masih trauma," katanya.

Diculik di KPU

Saat jumpa pers di kantor Kontras, hadir Kadispen Polda Metro Jaya,
Superintendent Nur Usman, keluarga korban, pihak PBHI yang diwakili Jhonson
Panjaitan dan pihak Kontras. Secara kronologis, anggota Kontras, Munarman
menjelaskan empat aktivis dari KPA Bandung itu hilang setelah melakukan aksi
mogok makan dan berbicara ketika berlangsung SUT MPR Agustus lalu.

Mereka menuntut dilakukannya reformasi pertanahan dan pembaruan agraria.
Aksi di gedung DPR/MPR pada 14 Agustus itu juga ditujukan agar para wakil
rakyat yang sedang bersidang mengagendakan Tap MPR tentang pembaruan
Peraturan Hukum Agraria.

Sekitar pukul 18.00 hari itu, aparat kepolisian meminta mereka menghentikan
aksinya. Keempat aktivis itu lalu dibawa keluar Gedung DPR/MPR dengan mobil
ambulans. Mereka diantar menuju gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU), di Jl.
Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Di depan KPU, keempat aktivis lalu turun,
sekitar pukul 19.00-20.00.

Beberapa hari setelah itu, pihak KPA menyatakan keempat aktivisnya "hilang".
Sejak itu menjadi polemik, terutama antara aparat kepolisian dengan LSM-LSM,
yakni apakah mereka "diculik, menculikkan diri, atau sengaja bersembunyi".
Kalaupun diculik, pihak mana yang melakukan. Sedangkan kalau menculikkan
diri atau bersembunyi, motif apa yang melatarbelakangi perbuatan mereka itu.

Menanggapi polemik itu, Munarman kemarin mengatakan aparat kepolisian memang
melepaskan mereka di dekat kantor KPU. Bukan hanya itu, setelah dilepaskan
mereka kemudian sempat makan malam bersama di supermarket Sogo.

"Tapi baru saja ke luar dari Sogo, yakni ketika tengah berjalan di sekitar
Kebon Kacang, mereka disergap sekelompok orang tak dikenal. Mata mereka
langsung ditutup kain. Kemudian mereka dimasukkan ke dalam mobil dengan
paksa," kata Munarman.

Tak berbeda dengan kisah penculikan aktivis semasa orde baru, lanjut
Munarman selama diculik mereka pun tak bisa tahu di mana dirinya berada.
"Dari pengakuan mereka, yang diketahuinya hanya ruangan saja. Dan mereka
baru sadar bahwa mereka tidak ada di Jakarta, ya ketika akan pulang."

Tentang siapa penculiknya, Munarman --mengutip penuturan keempat aktivis--
mengatakan, mereka memakai topeng. "Mereka bekerja dengan rapi sekali. Dan
ketika hendak memulangkan para korban mereka sempat bicara begini, "Kalian
pulang saja. Ini tiketnya. Awas, kalau ngomong macem-macem," ujar Munarman
menirukan penjelasan empat orang aktivis itu. Ia tak menjelaskan apa yang
dimaksud dengan "macem-macem" itu.

Berdasarkan penjelasan para aktivis itu, pihak Kontras --seperti disampaikan
Munarman-- meminta aparat kepolisian segera mengusut tuntas latar belakang
serta pelaku penculikan terhadap empat aktivis itu. "Para penculik harus
bisa diketemukan. Dan motivasi penghilangan paksa ini harus juga dibuka
sebab para pelaku selama menyekap korban juga melakukan berbagai macam
interogasi," tandas Munarman.

Kadispen Polda Metro Jaya, Superintendent M, Nur H Usman, mengatakan korban
akan dimintai keterangannya sebagai saksi untuk mengusut kasus penculikan
itu. Para korban belum bisa memberikan keterangan kepada wartawan karena
masih trauma.

Dia mengatakan karena ini menyangkut kredibilitas kepolisian maka Polda
Metro Jaya berjanji akan mengusut tuntas kasus ini. "Kami merasa dipojokkan
dari kasus penculikan ini," katanya.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Aug 2000 jam 13:47:59 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke