----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Inilah pengakuan 4 aktivis KPA yang diculik

Jumat, 01/9/2000, 15:56 WIB
satunet.com -

Kesaksian 4 aktivis KPA yang diculik akhirnya digelar di Kantor YLBHI Jl.
Diponegoro Jakarta. Berikut kesaksiannya.

Ke empat aktivis ini melakukan testimoni didampingi oleh Koordinator Kontras
Munarwan dan pengacara LBH Jhonson Panjaitan SH. Ke empat-empatnya
menuturkan kisah yang mereka alami sambil tersedu-sedu.

Menurut Usep Setiawan, setelah makan di basement Sogo, mereka berempat
sekitar pukul 21:30 WIB berniat kembali ke konsulat KPA di Jl. Pejompongan.
Berdasarkan saran Idham lebih baik lewat jalan arah Tanah Abang, Kebon
Kacang lalu belok ke kiri. Mereka berjalan kaki, setelah lepad dari
keramaian, masuk ke kawasan gelap. Saat itu mereka serius bicara tentang
persoalan-persoalan pertanahan.Mereka berjalan berdua-dua, Usep dengan Anton
dan Asdam jalan bareng Idham di belakangnya.

Tiba-tiba, dari arah belakang lalu ditodong dari belakang, ada seseorang
yang menjepit pundaknya sambil menempelkan senjata api ke pinggangnya. Si
penculik ini mengancam, "kalau kamu macam-macam kamu saya tembak." Lalu
mereka berdua (dengan Anton) dibawa mobil sejenis Kijang, lalu didorong
masuk lewat pintu kiri. Ketika itu Usep sempat melihat sudah ada sopir dan
satu orang lagi di samping sopir.

Cepat si penculik ini menutup mata dan wajah dengan kain yang cukup tebal,
juga mereka mengikatkan tali dileher Usep. "Saya mencoba bereaksi tapi
mereka mengancam jangan berteriak atau macam-macam kalau ingin selamat,"
ancam penculik tadi. "Lalu mobil melesat ke depan dan saya tidak bisa
melakukan apa-apa karena berada dalam ancaman," ujarnya.

Cukup lama di perjalanan, mereka lalu di bawa ke sebuah ruangan. Di sana
Usep selama 3 hari tidak diajak bicara apa-apa. "Saya hanya disimpan. Pada
hari ke-4 saya dipindahkan dengan mata tertutup yang saya rasakan dalam
perjalanan yang lebih jauh lagi. Saya dimasukkan ke dalam sebuah kamar,"
tuturnya masih dengan mata memerah.

Di situlah, menurutnya, dia banyak ditekan misalnya tentang aktivitas
oerganisasi saya. "Saya kehilangan orientasi waktu, dan pada suatu hari,
saya dibawa lagi dengan mobil dalam perjalanan cukup lama. Saya baru tahu
dibebaskan, ketika diberi ampop yang isinya duit dan tiket pesawat. Tapi
tetap dengan mata tertutup," ujarnya. Si penculik membebaskan Usep dengan
cara mendorongnya keluar mobil setelah sesaat membuka tutup matanya.

Dalam keadaa mata memburam dari kegelapan, mobil sudah pergi. "Jadi saya
tidak sempat mengidentifikasi mobil itu," tambahnya. Ketika sadar dia berada
di kebun bambu. Suasananya masih pagi, lalu dia membuka amplop yang berisi
tiket Garuda jurusan Yogya-Jakarrta dengan kebrangkatan 07:20 WIB.
Secepatnya, Usep mencari Bandara Adi Sutjipto dan menghubungi Konsulat KPA
di Jakarta untuk minta dijemput di Bandara Soekarno-Hatta.

Apakah dia disiksa? "Tidak ada, cuma merasa ditekan, ditanya tentang hal-hal
yang mengarah bahwa KPA adalah pihak yang merancang penjarahan tanah di
Indonesia yang dilakukan rakyat," ujarnya. Beberapa kali pertanyaan itu
diajukan penculiknya. Penculik juga menganggap KPA telah mengganggu
pemulihan ekonomi. "Mereka menagncam akan menghabisi saya kalau penjarahan
tetap ada," tuturnya.

Ketika diinterogasi memang tidak pukulan, kecuali dahi Usep yang
didorong-dorong. "Saya sangat berat untuk membicarakan apa yang dialaminya.
Ada beberapa hal yang saya tidak bisa ungkapkan di sini, karena ancaman yang
saya rasakan begitu berat, khususnya pada saya dan keluarga saya. Dengan
bicara di publik saya minta lindungan dari masyarakat," ujar sambil
tersedu-sedu.

Sementara itu Anton Sulton menurutkan, setelah dimasukkan mobil, dia
merasakan perjalanan panjang, sampai kelelahan dan terkantuk-kantuk. Ketika
sampai di suatu tempat, dia merasakan udara yang agak sejuk. "Saya tidak
diapa-apakan dan diberi makan satu kali sehari. Untuk sampai ke tempat
kedua, perjalanan juga sangat panjang, dan lebih lama dari menuju ke tempat
pertama," tuturnya.

Sebelum dibebaskan Anton sempat tertidur dan diberi makan Indomie. Baju yang
semula dipakainya dikembalikan berikut kacamatanya. Di mobil dia sempat
menanyakan kabar teman-temannya kepada pembawanya. Tapi mereka membentak,
"Sudah mending kamu masih hidup," tutur Anton menirukan. Dia terkejut
memikirkan keadaan teman-teman, jangan-jangan mereka sudah mati. lalu Anton
diberi amplop yang isinya uang dan tiket. Dia diperintahkan untuk check-in
pesawat dalam 5 menit, padahal dia mengaku belum pernah naik pesawat.

Ketika diturunkan, dia juga didorong dari mobil dan ketika bangun mobil
sudah lenyap. "Saya jalan terus dan melihat sebuah helikopter, saya masuk ke
gerbang dan ternyata itu adalah Bandara Ahmad Yani," ujarnya. Di amplop ada
tiket bukan atas namanya dan uang Rp 15.000 dengan pecahan 10 ribu dan 5
ribu. Anton juga diancam tidak bertindak macam-macam karena terus diawasi.
"Karena takut saya tidak menelepon siapa-siapa dan langsung naik pesawat dan
pulang," ujarnya.

Asdam juga menangis tersedu-sedu dari awal. Ketika diculik, dia melihat si
Idham ditangkap dulu, dan waktu mau menolong ada seseorang yang menempelkan
senjata ke tubuhnya. Lalu dia dimasukkan ke mobil berbeda tapi tidak tahu
jenisnya. "Saya berdua duduk di tengah, ditutup kain hitam, tidak berani
tanya apa-apa karena diancam. Kalau berani tanya kamu akan kesulitan. Yang
saya rasakan dileher ada seuntai tali, kalau saya bergerak sedikit, tapi itu
akan mencekik leher saya," ujarnya.

Setelah sampai di suatu tempat, ia ditempatkan di ruangan dan tidak tahu
nasib teman-teman. "Saya diam cukup lama, lalu dipindahkan ke suatu daerah
yang jalannya berkelok-kelok. Dalam keadaan mata tertutup, di sana pun saya
tidak diapa-apakan. Pada saat itu saya ditanya, apa benar saya bernama M
Hafid Asdam, alamatmu ini, orangtuamu, juga ditanya tentang kegiatan saya.
Saat itu mereka mengancam, kalau saya masih melihat kamu di antara aksi para
petani, data-data kamu di tangan saya, nama serta orngtuamu di tangan saya,
jadi nyawamu terancam," ujarnya. Asdam akhirnya tidak bisa melanjutkan
kesaksiannya karena menangis tersedu.

Adapun Idham Kurniawan menolak menyampaikan testimoni kepada wartawan dengan
suara lirih.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Sep 2000 jam 12:45:25 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke