---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- PERCIKAN BUDAYA 116/III/2000 [EMAIL PROTECTED] IRONI ERA REFORMASI - H.M.SOEHARTO SUKAR DIADILI*) Oleh Ki Gareng Pamungkas Pada tgl 31 Agustus 2000 yang lalu rakyat Indonesia tidak melewatkan waktunya di depan TV/radio untuk melihat/mendengar berita diadilinya Soeharto, sang diktator yang telah jadi manula dan ngantukan. Secara kemanusiaan dalam hati saya terasa sedikit iba: orang sudah tua kok di seret-seret ke pengadilan. Sebentar lagi dia khan akan dipanggil Tuhan untuk dipendem jero (entahlah apa juga akan dipikul dhuwur). Tapi lintasan iba tersebut cepat terpinggirkan oleh lintasan iba yang lain, yaitu iba terhadap penderitaan para korban keganasan dan kebiadaban sang diktator yang semasa masih jaya-jayanya: pembunuhan massal 1965-1966, pembunuhan Tanjung Priok, Lampung, Aceh, Timtim, Irian, peng"gulak"an ribuan orang yang tak berdosa di pulau Buru dan lain-lainnya. Yang selalu menggelitik dalam hati adalah pertanyaan: apakah dia sendiri sadar bahwa telah melakukan perbuatan dosa segunung Lawu besarnya? Tampaknya kesadaran tersebut kalau ada amat kecil sekali, sehingga dia merasa tak perlu menyatakan minta maaf kepada para korbannya. Mungkin malah dia dalam hatinya menuntut penghargaan dan pujian atas jasanya "membangun" Indonesia. "Saya adalah Bapak Pembangunan!!!", kira-kira demikianlah teriak dalam hatinya. Tentunya boleh-boleh saja dia merasa demikian itu. Tapi rakyat sudah tidak bisa dibodohi lagi. Mereka tahu apa yang dinamakan pembangunan ala Orde Baru tersebut. Gus Dur sudah berulang kali menyatakan bahwa kalau nanti di pengadilan dia (Soeharto) dinyatakan bersalah, akan diampuni. Bayangkan, tanpa repot-repot Gus Dur menyatakan hal itu. Tapi karena tidak merasa berdosa dan tidak menjalankan kesalahan, janji Gus Dur yang sangat humanis (terhadap penjahat sekalipun) tetap tidak menggugah hatinuraninya: untuk menyerah kalah di pengadilan, mengaku salah dan berdosa dan kemudian minta ampun kepada rakyat Indonesia. Eh, malah dengan gaya menantang dan senyum sinis berucap: saya tidak mempunyai uang se-sepeser pun di luar negeri. Astaga, agaknya Haji Muhammad Soeharto ini sudah tidak mendapat petunjuk ke siratal mustakim lagi dari Allah. Berhubung Jaksa Agung telah menetapkan status Soeharto sebagai terdakwa, mau tidak mau dia harus hadir di pengadilan. Tapi hukum di Indonesia mengatur bahwa terdakwa tidak dapat diadili kalau siterdakwa dalam keadaan sakit. Maka pada tanggal persidangan tgl.31.08.2000 dengan menggunakan peraturan hukum tersebut dia tidak hadir. Akhirnya terpaksa sidang pengadilan diundur sampai tgl.14 September 2000. Jelas dia berusaha seoptimal mungkin memanfaatkan hukum, yang dalam era reformasi ini supremasinya diperjuangkan oleh kekuatan reformasi. Jadi dia main menangnya sendiri: ketika dia berkuasa hukum selalu dinjak-injak -- pembunuhan, penculikan, penahanan, pencekalan, pencabutan pasport dilakukan tanpa mengingat peraturan hukum.-- Main tembak, main teror, main gebug. Tapi kini dia dengan lihainya memelihara sebarisan ahli hukum untuk membela dosa-dosanya. Kalau begitu caranya, naga-naganya Soeharto ini tidak akan kelakon diadili. Sebab makin hari dia makin tua, kesehatannya makin memburuk, ingatannya makin lemah, semakin jadi jompo, semakin ngantuk terus. Alasan kesehatan inilah yang dijadikan alat ampuh untuk menghindarkan sang manula Soeharto dihadapkan ke meja hijau. Padahal pengadilan tersebut hanya pengadilan yang menyangkut KKN-nya saja. Jadi dapat dibayangkan betapa sulitnya menyeret Soeharto kelak ke pengadilan HAM. Situasi tersebut di atas adalah cerminan konstalasi kekuatan politik pro-reformasi dan kontra-reformasi (Orde Baru) yang secara terselubung terus berkonfrontasi. Sangat dikhawatirkan kegagalan dalam mengadili manula Soeharto tersebut bisa memicu timbulnya keresahan nasional. Sebab keadilan yang gagal ditegakkan di dalam pengadilan, kemungkinan akan ditegakkan oleh rakyat di luar pengadilan. Maju terus Gus, jangan munDur! (Eh lagi-lagi nih pembisik). Gunung Gandul, Salagiri 03 September 2000 --------------------- *) Sebagai jawaban kepada dik Endang dan dik Siti. Harap rukun dan sambang-menyambang. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 4 Sep 2000 jam 06:22:27 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
