----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Badai belum Berlalu, Gus

Adil - Jakarta,

Ada sebuah pertanyaan yang tersisa dari pengumuman reshuffle kabinet pada
Rabu (23/8), yang baru saja dilantik. Yakni, mengapa Presiden Abdurrahman
Wahid mengajukan pengumuman penting itu dua hari dari rencana semula yang
dijadwalkan, Jumat (25/8)? Jawaban yang kami peroleh ternyata Gus Dur takut
pada laporan utama yang akan diangkat majalah Panji Masyarakat.

Gus Dur menduga majalah itu akan mengungkap isu perselingkuhannya dengan Ny.
Aryanti Arsyad alias Aryanti Sitepu, Kamis (24/8). Sebab dalam permohonan
konfirmasi yang ditujukan kepada Presiden mengenai isu tersebut disebutkan
berita itu akan diturunkan pada hari itu. Namun sampai batas akhir,
konfirmasi belum diperoleh sehingga pemuatannya ditunda. Di luar dugaan
majalah Gatra edisi terbaru mencuri star.

''Isu selingkuh Gus Dur dengan Aryanti yang akan dimuat Panjimas telah
membuatnya gusar. Karena itu, kabinet diumumkan lebih awal dari rencana
sebelumnya,'' ujar sumber ADIL mengutip obrolannya dengan pejabat Istana
Negara. Alasannya jika kabinet diumumkan setelah isu itu mencuat maka ada
dua risiko. Pertama, wartawan Istana akan mempersoalkan isu tersebut pada
saat pengumuman itu. Kedua, sebagian menteri kemungkinan besar akan
mengundurkan diri setelah mendengar kabar itu.

SELINGKUH POLITIS
Isu perselingkuhan antara Gus Dur sebelum menjabat sebagai Presiden RI
dengan Ny. Aryanti memang sudah lama terdengar. Persisnya sebelum Sidang
Tahunan MPR berlangsung, akhir Juli lalu. Saat itu, Muhammad Yanur (45),
datang ke gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, dengan membawa segepok berkas
pengakuan mantan istrinya, Aryanti (38).

Dalam kesaksiannya tertanggal 29 Juli 2000, Ny. Aryanti mengungkapkan pernah
memiliki hubungan khusus dengan presiden. Gus Dur yang waktu itu masih Ketua
PB NU bahkan pernah mengajak ibu seorang anak ini ke Bali. Mereka menyewa
sebuah vila. Sejak itu, Aryanti mengaku sering bersama di sebuah kamar di
Hotel Harco, Jl. Raden Saleh No. 12 Jakarta Pusat.

Aryanti malah nekat mengajukan gugatan cerai ke KUA Bekasi kepada suaminya,
Yanur, dengan alasan akan menikah dengan Gus Dur. Setelah penceraian itu,
ternyata kisah cinta mereka terus berlanjut tanpa pernikahan seperti yang
dijanjikan Gus Dur. Dan, komunikasi mereka akhirnya terputus sejak kiai
kharismatik ini terkena stroke.

Belakangan kenangan manis Ny. Aryanti kembali bangkit setelah Gus Dur
terpilih menjadi presiden. Ia mengaku hatinya tersiksa mengingat janji-janji
yang pernah diucapkan sang kiai. Ia pun mengadukan kegundahannya kepada
mantan suaminya. Yanur bersedia membantunya untuk mencari 'keadilan'. Namun,
entah apa pertimbangannya mereka memilih momen ST-MPR untuk membuka borok
Presiden.

Untuk memperkuat pengakuannya, Aryanti menandatangani surat pernyataan di
atas kertas bermaterai tentang kebenaran hubungannya itu. Disertakan pula
akta nikah Aryanti-Yanur dan akta cerai mereka, serta bukti pembayaran ONH
lunas di Bank BNI. Lebih gila lagi ia menunjukkan foto Gus Dur sedang
memangku dirinya. Gus Dur memakai celana pendek. Ny. Aryanti mengenakan
daster.

Kesaksian itulah yang diberikan Yanur kepada sejumlah tokoh politik yang
ditemuinya. Pertama yang ditemuinya adalah Ketua MPR Amien Rais. Namun waktu
itu, Amien menganggap pengaduan itu sebagai masalah pribadi, bukan persoalan
kenegaraan. Untuk menghormati tamunya, ia pun mengundang Nazli Adlani (Wakil
Ketua MPR). Di depan mereka berdua, Yanur bercerita panjang-lebar tentang
hubungan mantan istrinya dengan Gus Dur.

Tak cukup dengan kedua tokoh itu, Yanur juga menemui Ketua DPR Akbar
Tandjung, Wakil Ketua MPR Ginandjar Kartasasmita, Ketua PPP Hamzah Haz,
Sekjen DPP PDI Perjuangan Sutjipto, Yusuf Amir Faisal (PBB), Husni Thamrin
(PPP), Hartono Mardjono (PBB), Ahmad Sumargono (PBB), serta tokoh lain
seperti Jusuf Kalla, K.H. Alawy Muhammad (kiai kharismatik asal Madura), dan
Ketua PB NU K.H. Syukron Makmun.

Nah, saat itulah sejumlah wartawan Ibukota menciumnya. Isu selingkuh
belakangan hilang begitu saja seiring dengan panasnya pergulatan yang
terjadi di gedung MPR. Hanya beberapa media saja yang menindaklanjuti. Itu
pun butuh waktu lama. Aryanti sendiri hanya mau berterus terang kepada tiga
media, termasuk dari Gatra dan Panji Masyarakat. Mereka berhasil
mewawancarainya di sebuah kompleks di Jakarta Selatan.

Seiring dengan itu, selebaran yang berisi kesaksian Aryanti juga beredar
luas di Jawa Timur. Sampai-sampai PW NU setempat harus mengeluarkan
instruksi khusus tertanggal 22 Agustus ini. Menurut Drs. Ali Maschan Moesa,
M.Si., Ketua Tanfidiyah PW NU Jatim, instruksi itu dikeluarkan untuk
mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. ''Kami meminta agar warga NU
menyikapi masalah itu dengan jernih dan proporsional,'' katanya.

Lalu, seberapa jauh kebenaran pengakuan Aryanti tersebut? Ketika wartawan
mencoba mengkonfirmasikan isu itu kepada Presiden di Istana, Senin (29/8)
Gus Dur hanya menanggapi enteng, ''Gitu aja kok diurusin.'' Sewaktu Kepala
LKBN Antara, Mohamad Sobary datang menemuinya pada hari itu di Binagraha,
Jakarta, Presiden memang sempat mengatakan bahwa dirinya 'diomongin' dengan
seorang wanita bernama Aryanti. Tetapi Kepala Negara malah balik bertanya,
''Siapa sih wanita itu?''

Kepala Protokoler Istana Wahyu Muryadi bahkan meminta agar Presiden tak
memberi klarifikasi isu tersebut. "Itu gosip murahan yang diblow-up
sedemikian rupa untuk mendiskreditkan Presiden. Padahal tidak ada
relevansinya," tandasnya marah.

Senada dengan itu, Sekjen PKB Muhaimin Iskandar menduga itu berkaitan dengan
kondisi Sidang Tahunan, di mana dukungan kepada Gus Dur semakin menguat.
''Bukan hanya upaya politik saja yang dimainkan, upaya non-politik pun terus
digulirkan. Seperti isu selingkuh ini,'' tandasnya kepada ADIL. Pengasuh
Ponpes Ash-Shiddiqiyah Dr. K.H. Noer Iskandar, S.Q. juga meyakini itu
sebagai bagian dari konspirasi untuk menjebak Gus Dur. ''Arahnya untuk
menggagalkan pemerintah Gus Dur,'' ujarnya kepada ADIL.

Kalau benar ada yang sengaja hendak menjatuhkan Gus Dur lewat isu selingkuh,
siapa yang bermain? Muhaimin Iskandar sendiri mengakui sukar untuk
membuktikan siapa yang bermain. ''Kita sudah tahulah. Kelompok itu-itu juga
yang bermain. Tetapi, kita belum bisa sampaikan sekarang,'' tuturnya. Bisa
jadi yang dimaksudkan adalah Poros Tengah. Bukankah selama ini mereka yang
paling getol mengritisi kebijakan pemerintah.

Tapi seorang tokoh Poros Tengah membantah pihaknya disebut-sebut berada di
balik kesaksian Aryanti. Menurutnya, aneh kalau pengungkapan itu dikaitkan
dengan kegagalan mereka untuk melengserkan Gus Dur di ST-MPR kemarin.
Alasannya, isu itu sudah lama beredar sebelum sidang itu. ''Kalau kami yang
bermain justru kami akan meledakkannya sebelum Sidang Tahunan MPR,'' ujar
anggota MPR ini kepada ADIL.

M. Yanur sendiri mengaku tak punya motif politik apapun. "Saya cuma ingin
menceritakan kasus sebenarnya yang menimpa mantan istri saya. Kami hanya
menuntut keadilan," katanya. Namun pengakuan Aryanti bahwa dirinya sempat
diberi uang Rp 100 juta oleh temannya Yanur, tak bisa mengingkari
keterlibatan orang lain. Bisa saja memang, Aryanti diperalat oleh Yanur yang
diiming-imingi sejumlah duit dari kelompok politik tertentu.

Orang kepercayaan Gus Dur, Letkol TNI AL Djuanda malah mencurigai dibukanya
isu skandal itu berkaitan dengan akan dilangsungkannya pengadilan terhadap
mantan Presiden Soeharto dan dijadikannya Wiranto sebagai tersangka dalam
kasus pelanggaran HAM di Timor Timur. ''Itu ada hubungannya ke sana,''
jelasnya kepada ADIL. Sayang sampai tulisan ini diturunkan, mereka belum
bisa dikonfirmasikan.

Foto itu Asli atau Aspal?

Sekilas 'foto mesra' Gus Dur sedang memangku Aryanti di sebuah kamar di
Hotel Harco, Jakarta, benar-benar nyata. Tampilan gambarnya cukup terang.
Tubuh Aryanti yang montok tampak seksi. Tidak ada kesan dibuat-buat, atau
sekadar tempelan saja hasil rekayasa teknologi.

Tapi kalau diperhatikan secara cermat, foto tersebut sebetulnya masih
diliputi kejanggalan. Pertama, gambar rambut di kepala Gus Dur dan Aryanti
terlihat sebagai hasil cropping komputer. Sebab rambutnya tampak kaku sekali
dengan penataan bentuk yang tidak lazim. Kedua, pada gambar pipi sebelah
kanan Aryanti terlihat ada bekas croppingan yang tersisa.

Seorang fotografer ADIL pun melihat gambar foto itu sebagai hasil rekayasa
komputer yang agak ceroboh. ''Itu hampir pasti hasil cropping. Tapi sangat
kasar pembuatannya,'' ujarnya saat mencermati foto itu. Alasannya dalam satu
frame pencahayaannnya tidak seimbang antara foto Gus Dur dengan Aryanti.
Gambar Gus Dur lebih gelap, sementara gambar Aryanti lebih terang.

Anehnya, pakar multimedia R.M. Roy Suryo setelah melakukan serangkaian
analisa, justru menyimpulkan bahwa foto yang menghebohkan itu dan sudah di
tangannya seminggu yang lalu dalam bentuk file komputer adalah asli. ''Saya
telah lakukan cek dengan mencoba melihat slice by slice layers-nya.
Sementara dapat saya katakan, bahwa foto yang menghebohkan itu adalah
asli,'' kata dosen Fisipol UGM ini kepada ADIL.

Artinya asli, menurut Roy, tidak ada sentuhan komputer digambar itu. ''Jadi
gambar dari buku gambar itu discan, yang setelah gambar itu discan terus
dimasukkan ke dalam komputer dan dari komputer itu tidak ada sentuhan
tambahannya lagi,'' tambahnya. Misal kulitnya Gus Dur diambil contoh
kemudian kita bandingkan dengan kulit biasa lalu kita lihat layarnya maka
itu tidak ada tempelan begitu.

Melalui analisa komputer, memang jejak manipulasi terhadap sebuah foto bisa
dilihat ada tidaknya warna yang lari (bocor atau merembes), ketika
dikonversi ke dalam format yang pewarnaannya lebih akurat. ''Misalnya, dari
format Graphics Interchange Format (GIF) yang cuma terdiri dari 256 warna,
ke format Joint Photographic Experts Group (JPEG) yang 16,7 juta warna.
Misalnya akan ada bagian warna merah yang lari menimpa bagian berwarna
lain,'' jelas Roy Suryo.

Meski demikian, Roy segera mengingatkan bahwa hasil penelitiannya ini akan
mendapat hasil dengan akurasi yang lebih tinggi bila ia bisa mendapat klise
asli dan foto aslinya. Melalui analisa forensik seperti yang ditempuhnya
ini, tidak cuma keaslian yang bisa diperoleh. Tapi juga kecocokan antara
keterangan waktu dan barang bukti. Misalnya klise tahun 1996, tapi dicetak
tahun 2000. Atau misalnya foto tahun 1995 yang direpro dengan klise tahun
1999.

Jadi kemungkinan rekayasa? Kemungkinan rekayasa itu menurut Roy, tetap ada
tiga, pertama; rekayasa di komputer, kedua rekayasa waktu mencetak foto
setelah manual, dan ketiga adalah rekayasa adegannya sendiri. Kalau rakayasa
komputer dalam kasus foto Gus Dur-Aryanti sepertinya kecil. Sedangkan
kemungkinan kedua pada saat foto itu dicetak secara manual --itu juga
membutuhkan laboratorium yang sangat canggih untuk melihat gambar itu. Dan
kemungkinan yang ketiga adalah rekayasa adegan yakni orang lain yang
mirip-mirip Gus Dur itu dipotret.

Aryanti sendiri mengaku foto dirinya bersama Gus Dur itu benar-benar nyata
adanya. ''Ini saya masih menyimpannya,'' tutur Aryanti kepada Gatra sambil
menunjukkan foto itu yang sudah tampak lusuh. Petugas Hotel Harco yang
mengaku memotret Gus Dur-Aryanti juga mengamini. ''Foto itu memang saya yang
moto. Waktu itu saya mengantarkan makanan. Saya diminta tolong sama Gus
Dur,'' akunya kepada Panji Masyarakat.

'Wanita Lain' di Sekeliling Sang Kiai

Sebetulnya bukan kali ini saja, nama Gus Dur dikait-kaitkan dengan soal
perempuan. Saat Muktamar NU di Cipasung tahun 1995 lalu, sempat diembuskan
isu kedekatan Gus Dur dengan seorang wanita. Kemungkinan nama wanita itu
adalah Aryanti yang sekarang sedang ramai diributkan.

K.H. Ali Maschan Moesa, Ketua Tanfidiyah PW NU Jatim, yakin foto Aryanti
itulah yang ditenteng-tenteng orang saat kencangnya revalitas Gus Dur dengan
Abu Hasan. ''Itu kan kabar yang beredar sejak tahun 1994, waktu Muktamar NU
di Cipasung,'' katanya. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk menghadang laju
Gus Dur kembali menempati posisi ketua ormas Islam terbesar di Indonesia
itu.

Tetapi kabar itu keburu kempis. Para muktamirin menganggapnya itu tidak
lebih dari isu murahan yang sangat kental muatan fitnahnya. Nama besar
Abdurrahman Wahid sama sekali tak tergoyahkan oleh tudingan tersebut. Dia
tetap terpilih kembali sebagai Ketua Umum PB NU.

Ketika kasus Buloggate terkuak, lagi-lagi muncul nama wanita yang disebut
punya hubungan khusus dengan Gus Dur. Dialah Siti Farikha, janda dari Desa
Angin-angin, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, salah satu
orang yang mendapat kucuran dana sebanyak Rp 5 miliar dalam kasus korupsi
dana Yayasan Karyawan Bulog.

Hasil penelusuran TEMPO menunjukkan betapa Farikha punya hubungan sangat
dekat dengan Presiden Wahid. Soal ini diakui oleh salah seorang keponakan
Farikha. Kedekatan itu sudah terjalin semenjak Gus Dur jadi Ketua Umum PB
NU, jauh sebelum terpilih sebagai presiden. Menurutnya, Gus Dur juga kerap
mendatangi rumah Farikha di Semarang.

''Pokoknya kalau Gus Dur ke Semarang, hampir bisa dipastikan mampir ke sini.
Beliau biasanya datang bersama ajudannya,'' tutur karyawan pabrik jamu
tradisional milik Farikha di Semarang ini. Begitu dekat hubungan mereka
berdua. Seorang mantan pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
mengatakan pada TEMPO, ''Apapun yang diminta Farikha, Gus Dur pasti
mengabulkannya.'' Hanya saja, hubungan Farikha dengan Gus Dur ini, jauh dari
aroma perselingkuhan.

Gus Dur pun pernah dikabarkan punya hubungan dekat dengan Ayu Laksmi, artis
penyanyi Surabaya asal Bali. Saat itu, pertengahan tahun 1990-an, Gus Dur
bahkan pernah bertandang ke rumah Ayu di Taman Simpang, Surabaya. Entah
seakrab apa hubungan mereka, yang jelas semenjak kenal dengan K.H.
Abdurrahman Wahid, Ayu Laksmi yang semula memeluk agama Hindu akhirnya
menjadi pemeluk Islam yang taat.

''Ayu sering belajar ngaji dari Gus Dur melalui telepon,'' kata sebuah
sumber yang minta tidak disebutkan jati dirinya. Sumber tersebut juga
menyebutkan hubungan Gus Dur dengan Ayu Laksmi tak sekadar guru dan murid.
Sayangnya ADIL tidak berhasil mengkonfirmasikan soal ini, karena rumah
Laksmi di Sidoarjo sudah tidak ditempati lagi.

Sementara itu kakak Ayu Laksmi, rocker wanita Ayu Wedayanti, memang dikenal
akrab dengan ulama kharismatik asal Kediri, K.H. Khamim Djazuli alias Gus
Mik, yang kini sudah almarhum. Sama seperti Gus Dur, Gus Mik yang
disebut-sebut sebagai wali itu juga pernah bertandang ke rumah Ayu
Wedayanti. Oleh Gus Mik, Ayu Wedayanti sering diajak ke pesantrennya di
Ploso, Kediri. Wedayanti pun kemudian pindah agama, jadi pemeluk Islam.

Wanita muda alumnus FISIP Unair itu lantas menjadi santriwati Gus Mik yang
dikenal sangat akrab dengan Gus Dur. ''Ayu (Wedayanti) cerdas sekali. Baru
beberapa saat belajar ngaji sudah hapal beberapa ayat Al-Quran,'' cerita
Dindi, mantan teman dekat Ayu Wedayanti.

Dindi yang pertengahan 90-an bersama-sama Ayu Wedayanti dan Ayu Laksmi
tinggal di Taman Simpang, juga mengatakan Gus Dur pernah datang ke rumah Ayu
Laksmi. ''Kira-kira empat tahun lalu,'' kata wanita yang sekarang bekerja di
sebuah biro iklan di Surabaya itu.

Hanya saja, di antara nama-nama wanita yang dikabarkan pernah akrab dengan
Gus Dur tadi, Aryantilah yang paling membuat geger. Pasalnya, ia
terang-terangan mengaku pernah menjalin hubungan istimewa dengan Gus Dur.
Soal adanya 'wanita lain' di sekiling Gus Dur juga diungkapkan oleh Aryanti
kepada majalah Panji Masyarakat edisi terbaru.

Ceritanya, sewaktu Aryanti menemui sang kiai di kantor PB NU, Jalan Kramat
Raya, Jakarta Pusat, ia memergoki Gus Dur sedang bersama seorang perempuan
yang bernama Putri --istri seorang pilot. Ketika dia mempertanyakan itu, Gus
Dur bilang, ''Dia itu sudah saya anggap adik saya.'' Lalu Aryanti bilang,
''Adik kok dipeluk.'' Rupanya Gus Dur marah dan sejak itu hubungan mereka
mulai renggang.

Tentu pengakuan ini membuat gerah keluarga Presiden Wahid. Sholahuddin
Wahid, adik kandung Gus Dur, menduga itu upaya untuk menjatuhkan Presiden.
''Ini upaya menjatuhkan Gus Dur dengan cara tak bermoral. Saya sangat
mengenal kakak saya dan tidak yakin hal itu terjadi,'' ujarnya kepada pers
di Jakarta.

Sedangkan mantan ajudan Gus Dur, Ngatawi Al-Zastrow punya penjelasan yang
lebih masuk akal mengenai isu tersebut. Isu itu katanya sangat wajar. Sebab
sebelum menjabat presiden, banyak sekali orang yang berkonsultasi dengan Gus
Dur termasuk para perempuan. Dari mulai soal keagamaan sampai soal pribadi,
dan rumah tangga. Ada juga yang minta tanda tangan dan foto bersama. Bahkan
ada artis yang pernah berkonsultasi dengannya.

''Itu semua diterima. Dia sangat terbuka sekali. Mereka percaya karena Gus
Dur memang punya kemampuan sugestif,'' tandas Ngatawi kepada ADIL. Ngatawi
sendiri mengaku pernah bertemu dengan Ny. Aryanti di kantor PB NU beberapa
tahun yang lalu. Tapi dia tidak begitu memperhatikannya karena memang sudah
biasa Gus Dur menerima tamu perempuan yang hanya sekadar ingin
berkonsultasi. ''Jadi jangan dianggap macem-macem,'' pintanya.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 Sep 2000 jam 05:10:15 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke