----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http: under construction
Xpos, No 28/III/16-23 September 2000
================================================

DUIT DI SIDANG PENGADILAN SOEHARTO

(PERISTIWA): Sidang kasus Soeharto diwarnai aksi dukungan terhadap
bekas penguasa Indonesia selama 32 tahun itu. Massa mengaku dibayar
untuk demonstrasi.

Hari itu, di Kampung Utan, Ciputat ada peristiwa yang sangat kontras.
Di kampus IAIN Syarief Hidayatullah, para mahasiswa melakukan
demonstrasi menuntut pengadilan Soeharto. Pada saat yang sama di gang
belakang kampus itu, yang selama ini diketahui sebagai "gudangnya"
FPI, juga  berkumpul ratusan orang yang siap-siap "turun kota" untuk
memberi dukungan pada Soeharto. Mereka menolak pengadilan terhadap
bekas presiden RI itu. Namun syukurlah, waktu itu, pada sidang pertama
kasus Soeharto, tidak ada terjadi bentrokan. Massa yang terdiri dari
tukang-tukang becak dan tukang ojek di kawasan Kampung Utan Ciputat
itu telah dibayar Rp35 ribu/orang itu hanya keliling kota dengan
menggunakan tiga Metromini ke Kejaksaan Agung, Gedung MPR dan tempat
mengadili Soeharto yaitu, Gedung Departemen Pertanian. Masing-masing
Metromini di-carter Rp300 ribu per bus.

Sementara pada persidangan kedua kasus Soeharto, yang lagi-lagi tidak
dihadiri oleh terdakwa, nyaris terjadi banjir darah di kawasan
Cendana. Ribuan mahasiswa dari berbagai elemen kampus dan ratusan
massa pendukung Soeharto, Kamis (14/9) itu, nyaris terlibat perang
terbuka. Massa pendukung Soeharto yang tergabung dalam Gabungan Ormas
Islam Bersatu (GOIB) bersama delapan SSK personil Perintis Polres
Metro Jaksel dan Polda Metro Jaya, memagari pintu masuk menuju kawasan
Cendana. Mereka menghadang para mahasiswa yang kemarin bertekad
menyeret Soeharto untuk dibawa ke pengadilan. Para mahasiswa dari
berbagai elemen kampus yang tergabung dalam Famred, Forkot, Forbes,
dan FKSMJ terlibat baku pukul dengan aparat keamanan yang memagar
betis seluruh pintu masuk ke arah Jl Cendana. Aparat keamanan berbaris
dua lapis memisahkan dua kelompok yang emosional itu. Sekitar pukul
17.00 WIB, terjadi aksi lempar batu dan bom molotov, di Jl. Teuku
Umar, yang kemudian disusul dengan pengejaran oleh aparat sambil
melepaskan beberapa gas air mata. Para pendukung Soeharto yang mengaku
berasal dari Tanjung Priok juga ikut mengejar dan melempari para
mahasiswa.

Massa mahasiswa terus lari meninggalkan kawasan Imam Bonjol. Namun
bentrok kembali terjadi di Jl. Diponegoro, sekitar 100 meter dari
rumah dinas Wapres Megawati. Dua aktivis ditangkap dan dihujani bogem
mentah belasan aparat keamanan. Aksi pengejaran terus dilakukan sampai
Bioskop Megaria. Tak pelak gas air mata berkali-kali ditembakkan untuk
menghalau mereka. Tapi, para pengunjuk rasa terus bertahan sehingga
arus lalu lintas terganggu akibat pemblokiran jalan.

Bentrokan ini berawal dari bocornya pengakuan seorang anggota kelompok
pendukung Soeharto bahwa kelompoknya adalah massa bayaran yang berasal
dari berbagai tempat seperti Tanah Abang dan Cililitan, yang dibayar
Rp25-30 ribu per orang. Pengakuan tidak sengaja ini spontan memancing
amarah mahasiswa.

"Ngaku aja deh, kita butuh duit," ujar seorang pengunjuk rasa yang
mengaku bernama Gan, seperti dikutip Antara. Ia mengakui bahwa Sobirin
- --pimpinan massa pro-Soeharto-- menjanjikan uang Rp20.000 kepada
setiap pengunjuk rasa yang ikut dengannya berdemo. "Kita memang lagi
butuh duit, lumayan dapat duit Rp20.000 sekali demo, di luar makan dan
transport. Lumayan kan daripada ngangur di rumah," ujar Gun, seorang
pemulung yang sehari-hari beroperasi di kawasan Pasar Waru. Ia datang
bersama teman-teman hanya karena dijanjikan uang oleh Sobirin.

Tapi, meski mendapat uang dari Sobirin, Gun mengaku masih curiga
terhadap kejujuran Sobirin dalam mengelola keuangan bagi peserta demo.
"Jangan-jangan seharusnya kita dapat lebih besar, apa Rp50.000 atau
lebih. Kita nggak tahu," ujar Gun.

Ratusan pendukung Soeharto ini sudah berada di seputar Jl Cendana
sejak pukul 14.00 WIB. Mereka membeber spanduk berisi penolakan
terhadap persidangan Soeharto. Kakak beradik Endi dan Udin, warga
Kelurahan Kalibaru, Kec. Cilincing, Tanjung Priok Jakarta Utara,
mengaku dibayar Rp23.000 setiap kali unjuk rasa. Mereka sudah dua kali
ikut berunjuk rasa di bawah bendera GOIB. "Yang ngasih duit namanya
Yudi. Dikasih tiga ribu untuk beli rokok, sisanya dikasih kalau sudah
selesai acara," kata Udin, yang mengaku pengangguran.

Ke depan, selama Cendana masih bisa mencetak uang, massa
"pendukungnya" masih akan terus bergerak. Dan kemungkinan itu sangat
besar, sebab keluarga Cendana masih punya kemampuan untuk itu. Ya
kemampuan sumber daya manusianya, maupun kemampuan dananya. Misalnya
saja, Jenderal Hartono terus menggalang dukungan dengan mengembangkan
ormas Karya Peduli Bangsa. (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- -------------------------------------
SiaR WEBSITE:
http://www.minihub.org/mailinglists/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Sep 2000 jam 05:30:57 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke