----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http: under construction
Xpos, No 28/III/16-23 September 2000
================================================

RIZAL RAMLI-PRIJADI SELISIH MELULU

(POLITIK): Rizal Ramli dan Prijadi Praptosuhardjo saling bertentangan
pendapat tentang kebijakan ekonomi. Mengapa Prijadi disuruh staf
ahlinya tutup mulut?

Mereka yang mencermati berbagai komentar para menteri ekuin di media
massa belakangan ini --khususnya Menko Perekonomian Rizal Ramli dan
Menteri Keuangan dan Pemberdayaan BUMN Prijadi Praptosuhardjo-- pasti
sedang bingung. Betapa tidak? Kedua menteri kabinet baru yang menurut
para pengamat terdiri dari "orang-orangnya Gus Dur" ini, komentarnya
saling bertentangan satu sama lain. Itu sebabnya, sempat muncul
kekhawatiran dari seorang ekonom tentang benar-tidaknya perpecahan di
kabinet.

Ada dua hal utama yang menimbulkan kekhawatiran tadi. Pertama, dari
pernyataan Prijadi tentang isi letter of intent (LoI), khususnya
berkaitan dengan pelepasan kredit korporasi Bank Rakyat Indonesia
(BRI) ke bank lain, yang baru ditandatangani Rizal Ramli dan Deputi
Senior Bank Indonesia (BI) Anwar Nasution. Menurut Prijadi, BRI akan
collapse atau ambruk jika seluruh kredit korporasinya dialihkan ke
bank lain sebagaimana ditetapkan di LoI. Pendapat ini diperkuat pula
oleh Dirut BRI Rudjito saat memberikan komentar pada pers.

LoI itu sendiri menyebutkan, pada masa-masa mendatang BRI hanya akan
memfokuskan diri pada kredit mikro, ritel dan usaha kecil-menengah
(UKM). Sementara semua kredit korporasi BRI senilai Rp6,2 trilyun
(20,4 persen) harus ditransfer ke bank lain selambat-lambatnya akhir
2000 ini. Berbeda dengan isi LoI yang ditandatangani 31 Juli 2000 yang
menyatakan, pelepasan kredit korporasi BRI dilakukan secara bertahap.
Rencana kerja BRI pun baru mentargetkan penurunan sebesar 14 persen
kredit korporasi pada tahun 2002. Dengan menandatangani LoI, Rizal
jelas berada dalam posisi yang berbeda pendapat dengan Prijadi. Keruan
saja ini langsung disimpulkan sebagai indikator terjadinya
"perpecahan" kedua menteri.

Kedua, berkaitan dengan permintaan dari Rizal Ramli pada seluruh BUMN
untuk menyisihkan satu persen labanya sebagai sumber dana Kredit Usaha
Keluarga Sejahtera (Kukesra) dan Kredit Pengembangan Kemitraan Usaha
(KPKU). Permintaan ini dilakukan Rizal untuk menggantikan posisi
Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (YDSM) yang didirikan Soeharto empat
tahun lalu. Kendati permintaan Rizal, konon, merupakan hasil rapat
koordinasi bidang perekonomian, Prijadi, tanpa penjelasan yang
memadai, menolaknya. "Pokoknya, BUMN masuk ke Depkeu," ujarnya
singkat. Apa yang sebenarnya terjadi, masih merupakan tanda tanya.

Namun, terdapat sejumlah pendapat berkaitan dengan soal ini. Ada yang
menduga, Prijadi terpaksa bersikap demikian karena ia diberi beban
untuk menjadi "pundi-pundi kekuasaan" Gus Dur. "Gus Dur butuh uang tak
sedikit untuk mempertahankan kekuasaannya hingga 2009," ujar seorang
wartawan senior. Pemindahan kredit korporasi dari BRI ke bank lain
serta penyisihan laba satu persen BUMN sama saja mempersempit celah
bagi Prijadi untuk meraup dana dari sejumlah lembaga "basah" yang
berada di wilayah wewenangnya. Kemungkinan itu dibenarkan oleh
pengamat ekonomi-politik, Alexander Irwan yang menduga adanya
keinginan parpol-parpol besar seperti PDI Perjuangan dan PKB untuk
mengumpulkan dana politik sebagaimana yang pernah dilakukan Golkar di
masa Orde Baru.

Kemungkinan lain, Prijadi cuma salah ngomong. Padahal, ia tidak pernah
bermaksud berbeda pendapat dengan Rizal. Terdengar seperti tak masuk
akal memang. Namun, seorang sumber Xpos yang bertugas sebagai staf
ahli di Departemen Keuangan berpendapat bahwa "Prijadi tak mengerti
apa yang harus dilakukannya." Prijadi dianggap tak pantas menjabat
sebagai menteri, sehingga ia diminta lebih banyak berdiam diri dan
hanya mengeluarkan komentar bila telah di-brief para staf ahlinya.
Mari kita tunggu kejutan berikut dari tim Ekuin kabinet. (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- -------------------------------------
SiaR WEBSITE:
http://www.minihub.org/mailinglists/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Sep 2000 jam 05:46:36 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke