---------------------------------------------------------- The US government makes available 55.000 GREEN CARDS (permanent residence visa) in a random lottery. Visit http://www.us-immigration.org for details on how to play the GREEN CARD LOTTERY -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- KOLOM SUPANGKAT DARI NEW YORK: MISTERI G30S YANG TIDAK LAGI MISTERIUS: PKI-RRC-CHIN DISINFORMASI YANI & BPS DIMAKAN CIA-RRC-AIDIT Misteri G30S sudah bukan misteri lagi sejak lama karena akhirnya terbongkarlah para aktor dan aktor intelektualnya. Suharto digunjingkan mengetahui rencana G30S - menurut Latief, dll. - suatu hal yang tidak substansial karena pada pertengahan tahun 1965 itu kudeta PKI sudah menjadi "rahasia umum", terutama di kalangan korps diplomatik. Sebagai kores- ponden diplomatik harian "Jakarta Daily Mail" penulis tidak pernah absen dari tiap resepsi diplomatik di Jakarta di mana setiap diplomat menggunjingkan soal kudeta PKI. Yang tidak diketahui umum dan Intel AD adalah "teknik" kudeta: apakah konvensi- onal atau lain daripada yang lain. Kudeta konvensional sudah diantisipasi oleh AD di mana Kostrad, RPKAD dan Divisi Siliwangi di bawah pimpinan Ibrahim Adjie su- dah siap siaga setiap saat. Jendral S Parman, Kepala SUAD I (Intel AD), kebetulan seorang tetangga sebelah rumah yang ramah dan tidak pelit memberikan info di mana dikatakannya bahwa kakak kandungnya, Ir Sakirman, gembong CC PKI yang pro-Moskow namun ter- paksa tunduk kepada DN Aidit yang pro-Peking, mengungkapkan bahwa ia sudah tahu akan kudeta PKI karena diberi tahu oleh Sakirman, sehingga ia menyatakan siap siaga setiap saat untuk membasmi kudeta PKI. Hal ini disampaikannya juga kepada kakak kandungnya Sakirman namun Sakirman adalah komunis tulen, ia tidak bersedia mundur setapak dan loyal sampai mati kepada ideologinya. Pada waktu itu penulis sedang memperdalam mistik segala agama dan mendapat ilham: melihat bajir darah dan dibunuhnya Letjen Parman. Karena ia baik hati se- ring menolong penulis kalau diperas tentara, maka saya beritahukan ilham saya kepadanya dan menyarankan untuk membuat pintu rahasia kerumah untuk melo- loskan diri. Namun Jendral Parman mengatakan bahwa ia sudah biasa dikepung waktu berada di luar negeri dan selalu lolos. Lagi pula ia tidak akan melarikan diri dari serangan PKI, katanya dengan tegas. Dan pada malam naasnya itu penulis kebetulan sedang tidur dalam mobil karena diparkir di depan rumah, pasukan Cakrabirawa telah menggedor rumahnya dan Parman tanpa curiga membuka pintu. Cakrabirawa mengatakan: "Jendral dipanggil untuk menghadap Bapak Presiden PBR!". Langsung tangannya diborgol kebelakang dan dimasukkan kedalam truk. Bersamaan waktunya kelima jendral lainnya telah diculik oleh pasukan yang berse- ragam Cakrabirawa. Keesokan harinya letkol Untung mengumumkan di RRI bahwa ia telah mendirikan Dewan Revolusi. Dan sejumlah wartawan BPS (Badan Pendu- kung Sukarnoisme) berkumpul di Jalan Petojo Udik 11 : Sutomo Satiman, pemim- pin redaksi Indonesian Observer, Sumantri Mertodipuro, redaksi IO, keduanya almar- hum. Kita sependapat bahwa memang kudeta yang dirumorkan selama ini sudah dilaksanakan. Beberapa belas tahun kemudian setelah penulis menjadi koresponden di AS dibe- ritakan bahwa Larry Chin, analis CIA soal Indonesia, dll telah ditangkap dan di hu- kum karena terbukti telah menjual rahasia CIA tentunya termasuk rahasia tentang Indonesia kepada RRC. Demikian pula AS tidak khawatir absennya CIA di Indonesia secara formal karena mereka tahu bahwa sejumlah perwira tinggi AD telah dibina oleh DIA (Defense Intel- ligence Agency). Soal Dewan Jendral ditanggapi amat sangat serius oleh Chin padahal Dewan Jendral itu hanya untuk membicarakan promosi intern. Tidak mengherankan rapat rapat BPS yang tertutup selalu bocor dalam harian PKI Warta Bhakti sehingga akhirnya kita dibubarkan oleh Presiden Sukarno yang mem- bebeki diktum PKI bahwa "BPS is to kill Sukarno and Sukarnoism". Kita mencurigai teman sendiri sebagai pengkhianat, namun akhirnya terbukti tidak ada pengkhianat di antara wartawan Indonesia, pengkhianatnya tertangkap kemu- dian beada di ..........Langley, Markas Besar CIA! Pimpinan BPS sepakat dengan Jendral Ahmad Yani bahwa PKI harus dipancing untuk keluar dari perselingkuhannya untuk kudeta. Yani memerintahkan jendral Sutoyo untuk mempersenjatai BPS yang diisukan akan menyerang Markas Besar PKI di Jalan Kramat Raya. Larry Chin menanggapinya serius pula dan menyam- paikan analisisnya kepada Peking, dan pada gilirannya Peking memerintahkan DN Aidit untuk segera bertindak mendahului serangan BPS yang dikaitkannya dengan Dewan Jendral. Peking langsung memerintahkan Aidit untuk segera bertindak. DN Aidit yang sudah emosional sudah tidak sabar lagi dan melalui Biro Khususnya menggerakkan Untung untuk penculikan dan pembantaian para jendral dan pembentukan Dewan Revolusi. New York, 29 September 2000. Hidayat Supangkat ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Sep 2000 jam 18:06:39 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
