Yth. Mas Kun,
Mas nek aku wis bosen tur jeleh dengan tetek bengek kampanye dan pemilu (ala
kita) yang menyedot begitu banyak energi dan dana. Nek iso suksesi kepemimpinan
kuwi yo koyo nang Jepang (weleh-weleh padune sekolahe nang Jepang, he..he...),
ora kokehan ini itu, ora kokehan dana tida mnyedot energi. Walaupun perdana
menteri ben tahun, ning tetep adem ayem. Contoh kemarin perdana menteri mundur,
maka kurang dari 2 minggu sudah bisa memutuskan oktober akan ada pemilu, dadi
persiapane yo ming rong wulan cukup, ora nganggo sosialisasi nang luar negeri
barang, yang ngurus cukup orang-orang tertentu dan beres, yang lain mengerjakan
aktivitas sehari-harinya tanpa terganggu, business as usual. Lha di sini semua
orang ikut sibuk berpolitik, sehingga yang seharusnya dandani dalan ora mlaku,
sing kudune ngecek sepur, ora mlaku, mulo anjlok terus, sing kudune ngurus
pertanian, melu-melu gawe partai. Jarene negara agraris ning kabeh import,
apel: Australi, Fuji. Jambu
dan ayam: Bangkok. Produksi Gas katanya terbesar kedua di Dunia ning rakyate
bingung golek gas, soale kabeh digowo nang Jepang. Malah wong Jepang sing
enak-enak menikmati gas kita dengan harga yang sesungguhnya juga tidak mahal.
Mungkin karena jadi politisi itu enak ya (tentunya kalau dibandingkan
peneliti), lha milih seseorang saja dapet chek 500 juta, he..he....
Tapi ya barangkali kita memang unggahe (nek coro ngajine) masih di situ ya,
mudah-mudahan pelan-pelan kita (termasuk saya, tentunya) menjadi lebih
terdidik dalam memilih (jika mau milih) dan para calon-calon pemimpin kita
benar-benar berniat untuk memajukan negara dan tidak sekedar jari "jeneng" dan
"jenang" alias "status" dan "fulus".
Salam dari Mbulaksumur,
Mudasir
Department of Chemistry
Faculty of Mathematics and Natural Sciences,
Gadjah Mada University, Sekip Utara
PO Box Bls 21, Yogyakarta 55281
Indonesia
HP:(+62)-811-251267
Fax:(+62)-274-545188
----- Original Message ----
From: muhamad kundarto <[EMAIL PROTECTED]>
To: milist alumni <[EMAIL PROTECTED]>; alumni faperta <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: milist dosen UPN <[EMAIL PROTECTED]>; milist pty <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, September 25, 2008 12:55:40 PM
Subject: [kendal-online] Strategi Bakal Calon pada T-1
Bagi kawulo alit, menyongsong pemilihan tahun depan atau T-1 saat ini (apapun
jabatan yang diperebutkan) , tahun ini adalah tahun penuh kegelisahan dan
kebingungan. Betapa tidak, hingar bingar kampanye terbuka dan terselubung
semakin menghiasi hari demi hari. Slogan iklan di televisi, secara
terang-terangan banyak individu mengklaim sebagai calon presiden. Sementara di
lingkungan yang lebih pemalu, mulai terdengar kasak-kusuk, siapa yang bakal
nyalon (lagi) atau siapa saja pendatang baru.
Adapun Bakal Calon sendiri, setahun ini adalah waktu yang tepat untuk 'tebar
pesona' dengan segala macam kelebihannya, baik yang jujur punya kelebihan
atau.... yang norak selalu melebih-lebihkan (baca: jangan tanya jujur
tidaknya). Momen waktu skala nasional akan menjadi santapan empuk, seperti
lebaran, natalan, tahun baru, dan peringatan hari besar nasional lainnya.
Tabiatpun akan menjadi super ramah dan full senyum dalam menghadapi setiap
masalah, al khususon di depan media atau saat di depan publik. Yang biasanya
jarang SMS atau telphon atau silaturahmi pun mendadak jadi super sering.
Sehingga si penerima hanya bisa komentar "akhirnya datang juga...".
weleh... weleh....
Mungkin bakal calon adalah memang orang yang berkualitas luar dalam. Tetapi
kadang sering terlenda dengan pasukan oposan pencari jabatan (baca: tim sukses)
yang seringnya malah membuat blunder politik bagi sang kandidat. Dengan
semangat 45, tim sukses akan selalu bersikap seperti "rela mati" atau minimal
"cap jempol darah" jika ditanya komitmennya. Tak jarang juga mereka dulu orang
yang berseberangan karena memihak calon lain, TAPI, karena calon yang ini
dirasakan akan menang, langsung deh putar haluan.
"Kita harus cerdik membaca arah angin, donk!", kilahnya pasti.
Program yang sebenarnya belum layak publikasi pun secara prematur sudah
dipropagandakan. Alhasil, jika ternyata meraih kontroversi massa, langsung saja
diredam dengan mencari kambing hitam pihak ketiga.
Hawa nafsu berlebihan dalam mimpi meraih kemenangan, kadang membuat kita tidak
bijaksana lagi dalam mengatur langkah, baik alokasi waktu, SDM, biaya, dll.
Rasanya sayang juga jika melihat sebuah era kepemimpinan, dimana pemimpinnya
sebenarnya bagus, tetapi karena jabatan di bawahnya 'kepaksa' banyak diisi oleh
hasil 'dagang sapi' dan 'balas budi' dengan tim suksesnya doeloe, membuat
kepemimpinannya menjadi stagnan.
Bagi para Bakal Calon, alangkah baiknya jika lebih jeli memilih partner kerja
dan independensi keprofesionalan dalam kepemimpinan. Bagi petualang karier
instan ala tim sukses, silahkan berkompetisi dengan elegan dan obyektif, jangan
pake dalil ABS demi sebuah jabatan tertentu atau UUD (ujung-ujunge duit).
Jalur propaganda di dunia maya (internet), rasanya masih jarang yang
memanfaatkan. Alangkah baiknya jika jalur ini menjadi prioritas, minimal buat
pembelajaran orang dewasa.
"tapi khan realitanya masih sangat sedikit yang familiar dengan internet.."
kilahnya.
Yang ngaku punya email, pasti banyak
Tapi yang realistis emailnya masih On dan dibuka minimal seminggu sekali,
jarang !!
Yang ngaku siap 24 jam untuk berjuang, banyak diucapkan bakal calon
Tapi yang realistis lapang dada memimpin dan menerima kritikan, jarang !!!
Ki Asmoro Jiwo