Aku seneng maca milist tentang T-1 iki
bisa ngangsu kaweruh karo wong sing pinter-pinter
opo maneh pendapate Pak Prof. sing pancen nalar benget
Tapi yen dinalar luwih gedhe maneh , melu kampenye , lan liya - liyane
kayane koq malah buang - buang energi wae , ibarate Ndorong mobil mogok ,
mengkone yen mobile wis biso mlaku mesthine ditinggal
bablas.........wus....wus....
Terus celathu ngemut jempol..........Sopire soyonara .......

salam
Bambang

  ----- Original Message -----
  From: kendil
  To: [email protected]
  Sent: Thursday, September 25, 2008 2:04 PM
  Subject: Re: [kendal-online] Strategi Bakal Calon pada T-1


        Wis kondur ning bulaksumur, mas
        soal pemilu,
        sing kesel RT-RW ujungnya jadi PPS
        tapi yen ora dirahabi karo RT-RW,  piye.. negarane
        memang bener kandhane pak Prof.
        ning jepang wis bisa mengejewantahkan apa sing dadi tangung jawabe
        lan ukumane wis pener, (hukum ditegakkan)
        yen ning negaraku...
        kabeh melu cawe-cawe, merga ana dhuwite
        yen perlu kantor DPRD-kantor lurah-stadion... obong wae
        yen jagone kalah ........  (sejatinya, dibangun dari duitnya
sendiri)
        ukumane, sing wog cilik cepet mlebu kunjara
        sing wong gedhe, mangan enak, turu enak, isih oleh shoping ning mal
        trus .....

        kendil,
        ora melu-melu kampanye

        --- Pada Rab, 24/9/08, M. Mudasir <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

          Dari: M. Mudasir <[EMAIL PROTECTED]>
          Topik: Re: [kendal-online] Strategi Bakal Calon pada T-1
          Kepada: [email protected]
          Tanggal: Rabu, 24 September, 2008, 11:42 PM


          Yth. Mas Kun,
          Mas nek aku wis bosen tur jeleh dengan tetek bengek kampanye dan
pemilu (ala kita) yang menyedot begitu banyak energi dan dana. Nek iso
suksesi kepemimpinan kuwi yo koyo nang Jepang (weleh-weleh padune sekolahe
nang Jepang, he..he...), ora kokehan ini itu, ora kokehan dana tida mnyedot
energi. Walaupun perdana menteri ben tahun, ning tetep adem ayem. Contoh
kemarin perdana menteri mundur, maka kurang dari 2 minggu sudah bisa
memutuskan oktober akan ada pemilu, dadi persiapane yo ming rong wulan
cukup, ora nganggo sosialisasi nang luar negeri barang, yang ngurus cukup
orang-orang tertentu dan beres, yang lain mengerjakan aktivitas
sehari-harinya tanpa terganggu, business as usual. Lha di sini semua orang
ikut sibuk berpolitik, sehingga yang seharusnya dandani dalan ora mlaku,
sing kudune ngecek sepur, ora mlaku, mulo anjlok terus, sing kudune ngurus
pertanian, melu-melu gawe partai. Jarene negara agraris ning kabeh import,
apel: Australi, Fuji. Jambu dan ayam: Bangkok. Produksi Gas katanya terbesar
kedua di Dunia ning rakyate bingung golek gas, soale kabeh digowo nang
Jepang. Malah wong Jepang sing enak-enak menikmati gas kita dengan harga
yang sesungguhnya juga tidak mahal. Mungkin karena jadi politisi itu enak ya
(tentunya kalau dibandingkan peneliti), lha milih seseorang saja dapet chek
500 juta, he..he....

          Tapi ya barangkali kita memang unggahe (nek coro ngajine) masih di
situ ya, mudah-mudahan pelan-pelan kita (termasuk saya, tentunya) menjadi
lebih terdidik dalam memilih (jika mau milih) dan para calon-calon pemimpin
kita benar-benar berniat untuk memajukan negara dan tidak sekedar jari
"jeneng" dan "jenang" alias "status" dan "fulus".

          Salam dari Mbulaksumur,

          Mudasir
          Department of Chemistry
          Faculty of Mathematics and Natural Sciences,
          Gadjah Mada University, Sekip Utara
          PO Box Bls 21, Yogyakarta 55281
          Indonesia
          HP:(+62)-811-251267
          Fax:(+62)-274-545188




          ----- Original Message ----
          From: muhamad kundarto <[EMAIL PROTECTED]>
          To: milist alumni <[EMAIL PROTECTED]>; alumni faperta
<[EMAIL PROTECTED]>
          Cc: milist dosen UPN <[EMAIL PROTECTED]>; milist pty
<[EMAIL PROTECTED]>
          Sent: Thursday, September 25, 2008 12:55:40 PM
          Subject: [kendal-online] Strategi Bakal Calon pada T-1


                Bagi kawulo alit, menyongsong pemilihan tahun depan atau T-1
saat ini (apapun jabatan yang diperebutkan) , tahun ini adalah tahun penuh
kegelisahan dan kebingungan. Betapa tidak, hingar bingar kampanye terbuka
dan terselubung semakin menghiasi hari demi hari. Slogan iklan di televisi,
secara terang-terangan banyak individu mengklaim sebagai calon presiden.
Sementara di lingkungan yang lebih pemalu, mulai terdengar kasak-kusuk,
siapa yang bakal nyalon (lagi) atau siapa saja pendatang baru.

                Adapun Bakal Calon sendiri, setahun ini adalah waktu yang
tepat untuk 'tebar pesona' dengan segala macam kelebihannya, baik yang jujur
punya kelebihan atau.... yang norak selalu melebih-lebihkan (baca: jangan
tanya jujur tidaknya). Momen waktu skala nasional akan menjadi santapan
empuk, seperti lebaran, natalan, tahun baru, dan peringatan hari besar
nasional lainnya. Tabiatpun akan menjadi super ramah dan full senyum dalam
menghadapi setiap masalah, al khususon di depan media atau saat di depan
publik. Yang biasanya jarang SMS atau telphon atau silaturahmi pun mendadak
jadi super sering. Sehingga si penerima hanya bisa komentar "akhirnya datang
juga...".
                weleh... weleh....

                Mungkin bakal calon adalah memang orang yang berkualitas
luar dalam. Tetapi kadang sering terlenda dengan pasukan oposan pencari
jabatan (baca: tim sukses) yang seringnya malah membuat blunder politik bagi
sang kandidat. Dengan semangat 45, tim sukses akan selalu bersikap seperti
"rela mati" atau minimal "cap jempol darah" jika ditanya komitmennya. Tak
jarang juga mereka dulu orang yang berseberangan karena memihak calon lain,
TAPI, karena calon yang ini dirasakan akan menang, langsung deh putar
haluan.
                "Kita harus cerdik membaca arah angin, donk!", kilahnya
pasti.
                Program yang sebenarnya belum layak publikasi pun secara
prematur sudah dipropagandakan. Alhasil, jika ternyata meraih kontroversi
massa, langsung saja diredam dengan mencari kambing hitam pihak ketiga.

                Hawa nafsu berlebihan dalam mimpi meraih kemenangan, kadang
membuat kita tidak bijaksana lagi dalam mengatur langkah, baik alokasi
waktu, SDM, biaya, dll.

                Rasanya sayang juga jika melihat sebuah era kepemimpinan,
dimana pemimpinnya sebenarnya bagus, tetapi karena jabatan di bawahnya
'kepaksa' banyak diisi oleh hasil 'dagang sapi' dan 'balas budi' dengan tim
suksesnya doeloe, membuat kepemimpinannya menjadi stagnan.

                Bagi para Bakal Calon, alangkah baiknya jika lebih jeli
memilih partner kerja dan independensi keprofesionalan dalam kepemimpinan.
Bagi petualang karier instan ala tim sukses, silahkan berkompetisi dengan
elegan dan obyektif, jangan pake dalil ABS demi sebuah jabatan tertentu atau
UUD (ujung-ujunge duit).

                Jalur propaganda di dunia maya (internet), rasanya masih
jarang yang memanfaatkan. Alangkah baiknya jika jalur ini menjadi prioritas,
minimal buat pembelajaran orang dewasa.
                "tapi khan realitanya masih sangat sedikit yang familiar
dengan internet.." kilahnya.

                Yang ngaku punya email, pasti banyak
                Tapi yang realistis emailnya masih On dan dibuka minimal
seminggu sekali, jarang !!

                Yang ngaku siap 24 jam untuk berjuang, banyak diucapkan
bakal calon
                Tapi yang realistis lapang dada memimpin dan menerima
kritikan, jarang !!!


                Ki Asmoro Jiwo











----------------------------------------------------------------------------
--
  Dapatkan alamat Email baru Anda!
  Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!

  

Kirim email ke