kisah ini luar biasa, dari aku cuek, aku menjadi tersenyum, dari aku tersenyum 
aku menjadi bengong hampir tertetes airmataku.

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
From: [email protected]
To: [email protected]
Date: 16:04:56, 01.22.2009
Subject: [kendal-online] Balada Kisah Uang 1.000 Dan 100.000
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~




>> >> 
>> 
>>Balada Kisah Uang 1.000 Dan 100.000
>>
>>      Konon, uang seribu dan seratus ribu memiliki
>>asal-usul yang sama tapi mengalami nasib yang berbeda.
>>Keduanya sama-sama dicetak di PERURI dengan bahan dan
>>alat-alat yang oke. Pertama kali keluar dari PERURI, uang
>>seribu dan seratus ribu sama-sama bagus, berkilau, bersih,
>>harum dan menarik. Namun tiga bulan setelah keluar dari
>>PERURI, uang seribu dan seratus ribu bertemu kembali di
>>dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda.
>>
>>      Uang seratus ribu berkata pada uang seribu :"Ya,
>>ampyyyuunnnn. ......... darimana saja kamu, kawan? Baru tiga
>>bulan kita berpisah, koq kamu udah lusuh banget? Kumal,
>>kotor, lecet dan..... bau! Padahal waktu kita sama-sama
>>keluar dari PERURI, kita sama-sama keren kan ..... Ada dapa
>>denganmu?"
>>
>>      Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih
>>keren dengan perasaan nelangsa. Sambil mengenang
>>perjalanannya, uang seribu berkata : "Ya, beginilah
>>nasibku , kawan. Sejak kita keluar dari PERURI, hanya tiga
>>hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus. Hari
>>berikutnya saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang
>>kumal. Dari dompet tukang sayur, saya beralih ke kantong
>>plastik tukang ayam. Plastiknya basah, penuh dengan darah
>>dan taik ayam. Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik
>>seorang
>>      pengamen, dari pengamen sebentar aku nyaman di laci
>>tukang warteg. Dari laci tukang
>>      warteg saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk.
>>Begitulah perjalananku dari hari ke hari. Itu makanya saya
>>bau, kumal, lusuh, karena sering dilipat-lipat,
>>digulung-gulung, diremas-remas. ......"
>>
>>      Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin.:
>>"Wah, sedih sekali perjalananmu, kawan! Berbeda sekali
>>dengan pengalamanku. Kalau aku ya, sejak kita keluar dari
>>PERURI itu, aku disimpan di dompet kulit yang bagus dan
>>harum. Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita
>>cantik. Hmmm... dompetnya harum sekali. Setelah dari sana,
>>aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di hotel
>>berbintang 5, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil
>>mewah, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas
>>selebritis. Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus.
>>      Jarang deh aku di tempat yang kamu ceritakan itu.
>>Dan...... aku jarang lho ketemu
>>      sama teman-temanmu. "
>>
>>      Uang seribu terdiam sejenak. Dia menarik nafas lega,
>>katanya : "Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu
>>berada di tempat yang nyaman.
>>
>>      Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan
>>bangga daripada kamu!" "Apa itu?" uang
>>seratus ribu penasaran.
>>
>>      "Aku sering bertemu teman-temanku di kotak-kotak
>>amal di mesjid atau di tempat-tempat ibadah lain. Hampir
>>setiap minggu aku mampir di tempat-tempat itu. Jarang banget
>>tuh aku melihat kamu disana....."
>>
>>
>>
 

Kirim email ke