Nikmatnya Sarapan Pagi Nasi Megono ---------------------------------------- Sebenarnya jarum jam masih belum memukul angka tujuh, tapi cuaca pagi di Wonosobo sepertinya masih sangat pagi. Sang mentari rada kesulitan menebar lepas cahayanya karena terhalang awan pagi pegunungan. Saat sedang menikmati sruputan secangkir kopi, pandangan saya terpancing menoleh ke luar rumah karena terdengar suara seorang wanita memanggil-manggil : ”Megono......, megono......”. Saya pikir, itu suara seorang ibu yang sedang mencari anaknya yang tadi lari kabur masih telanjang ketika sedang dimandikan dengan air sumur yang dingin. Rupanya pikiran saya yang kelewat kotor. Ibu paruh baya bergaun hijau kusam yang sedang berjalan melenggang sambil menggendong bakul atau tenggok itu sedang menjajakan menu sarapan pagi. Nasi megono, nama makanan yang dijajakannya. Menu sarapan pagi nasi megono sepertinya sudah menjadi bagian keseharian warga masyarakat Wonosobo. Mereka layak membanggakan hal itu. Ungkapan yang pas untuk menggambarkan suasana ini adalah : ”Serasa belum sarapan kalau belum menyantap nasi megono”, atau lebih ekstrim lagi dikatakan ”tiada hari tanpa nasi megono”. Menu yang hampir sama racikannya sebenarnya juga ada di daerah Pekalongan dan Temanggung, meski agak beda komponen produknya. Penjual nasi megono banyak dijumpai di pinggir atau sudut-sudut kota Wonosobo setiap pagi hari. Para pegawai, pelajar, buruh dan umumnya masyarakat Wonosobo pun bisa membekali perutnya sebelum pergi meninggalkan rumah dengan praktis dan berbiaya murah. Sebungkus nasi megono yang dibungkus daun pisang berlapis kertas seadanya bisa diperoleh dengan pengganti uang Rp 500,- sampai Rp 1.000,- tergantung takaran dan menu tambahannya. Citarasa masakan setiap orang pasti tidak sama meskipun racikan bumbunya sama, maka biasanya setiap orang sudah memiliki bakul favoritnya masing-masing. Seperti keluarga teman saya yang tinggal di kawasan dusun Karangkajen, desa Wonosobo Timur, juga sudah punya langganan bakul nasi megono (atau terbalik, bakul nasi megono yang punya pelanggan keluarga teman saya....). Masakan nasi megono Bu Peno terasa lebih pas di lidah. Setiap pagi Bu Peno yang berparas ayu seperti dawet Banjarnegara, selalu menyempatkan mampir ke rumah teman saya itu untuk menjajakan nasi megono. Maka Bu Peno yang pagi itu tampil lugu dan sportif dengan lilitan kain kebaya agak nyingkrang (tampil sportif tidak harus dengan berkaus ketat plus celana pendek oleh artis sinetron) pun dengan sigap bak satpol PP siap beroperasi, membongkar bakul atau tenggok-nya dan segera membungkus nasi megono sebanyak yang dipesan. Kopi secangkir yang belum sempat saya habiskan segera saya tinggalkan, lalu gantian membedah bungkusan nasi megono bikinan Bu Peno. Sepiring tempe kemul yang masih panas kebul-kebul, dilengkapi setoples peyek teri pun menemani sarapan pagi dengan nasi megono. Hmmm..... nikmat benar (mengingatkan saya akan sarapan pagi dengan gudangan yang dibeli di pasar Sentul Jogja). Nasi megono yang masih hangat, sepertinya pas benar dilahap sebagai sarapan pagi di kala udara Wonosobo yang masih dingin. Sebungkus nasi megono yang tampilan warnanya semburat kecoklatan itu sepintas memang telihat kurang membangkitkan nafsu makan. Tapi bersabarlah sedikit, hirup aroma wanginya, sempatkan menelisik komponen produknya, lalu cicipi sedikit demi sedikit. Maka itu adalah hasil pencampuran nasi dan sayur-mayur antara lain daun pepaya dan polong atau kol hijau yang dirajang kecil-kecil, diramu dengan parutan kelapa muda, dan dimasak bersama-sama dengan cara dikukus atau orang Jawa menyebutnya di-dang. Hasilnya adalah nasi megono yang gurih dan hoenak, beraroma merangsang selera dan nyamleng tenan..... Mengunyah dan menelan nasi megono, diselang-seling dengan menggigit tempe kemul (tempe goreng yang dibalut dengan adonan tepung terigu dan tepung beras ditambah sedikit kunyit dan rempah penyedap) dipadu dengan kriuk-kriuk peyek teri, adalah sebuah pengalaman menyantap sarapan pagi yang sungguh nikmat. Sebuah tradisi sarapan pagi yang perlu dipertahankan. Bukan saja mengandung nilai nostalgia bagi mereka warga Wonosobo yang sudah tua atau kini merantau di tanah seberang, melainkan juga lebih sehat dan bergizi alami. Di Temanggung ada juga nasi gono atau sego gono. Mirip-mirip nasi megono, tapi campurannya lebih bervariasi dan biasanya berbumbu pedas. Dulu banyak dijumpai saat tiba musim panen, menjadi bekal makan para petani saat harus seharian berada di sawah. Entah sekarang apa masih menjadi tradisi atau sudah berganti. Di Pekalongan juga ada nasi megono yang nasinya berupa nasi liwet yang disajikan terpisah dengan sayur-mayur semacam urap. Sayurnya pun biasanya berupa buah nangka muda atau gori yang dirajang agak kasar, lalau dikukus bercampur parutan kelapa muda dan bunga kecombrang. Makanya lebih beraroma wangi dan (juga) sedap. Sajian komplit nasi megono Pekalongan bisa merupakan perpaduan dengan nasi putih, dan bisa juga dinikmati bersama menu pelengkap berupa tumis tauco, sayur lodeh, sambal kering tempe, balado telor, ikan asin dan lalapan mentimun. Sajian nasi megono Wonosobo agaknya lebih sederhana tapi gurih dan numani (membuat ketagihan). Karena itu, sebaiknya jangan lewatkan menikmati nasi megono jika sempat menjumpai suasana pagi hari dan kebetulan pas berada di kota Wonosobo.
Yogyakarta, 9 Januari 2009 Yusuf Iskandar http://yiskandar.wordpress.com

